Tentara Ukraina melintasi bangunan yang hancur akibat bombardir Rusia di Kharkiv, Ukraina, Senin (25/4/2022). | AP/Felipe Dana

Internasional

Rusia Setop Gas ke Polandia dan Bulgaria

Guterres dan Putin sepakat mengatur evakuasi warga sipil di pabrik baja Azovstal.

MOSKOW -- Rusia membuka kancah perang baru, Rabu (27/4), di bidang bahan bakar. Rusia memutuskan untuk menyetop kiriman gas ke Polandia dan Bulgaria, dua negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sehari setelah Amerika Serikat (AS) dan sekutu Barat berjanji untuk meningkatkan pasokan militer ke Ukraina, Rusia meningkatkan posisi tawarnya. Rusia menggunakan ekspor gasnya sebagai alat tawar. Jika kondisi saat ini berlanjut, Rusia bisa saja menghentikan pasokan gas ke negara Eropa lainnya.

Dalam memonya, perusahaan gas negara Rusia, Gazprom, menyatakan, pemotongan tersebut karena Polandia dan Bulgaria menolak membayar dengan mata uang rubel Rusia. Gazprom mengaku tidak menerima pembayaran sejak awal April.

Harga gas di Eropa langsung melejit karena keputusan Rusia itu. Para pemimpin Eropa menyebut langkah Rusia sebagai "pemerasan".

Tak hanya di ranah energi, di lapangan juga ketegangan meningkat. Pada Rabu, militer Rusia mengeklaim, rudal mereka mengenai sepaket senjata kiriman AS dan negara Eropa ke Ukraina.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk mengatur evakuasi warga sipil yang berlindung di pabrik baja Azovstal di Kota Mariupol, Ukraina. Guterres dan Putin bertemu untuk pertama kalinya pada Selasa (26/4) sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina.

Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan, Guterres dan Putin membahas usulan untuk bantuan kemanusiaan dan evakuasi warga sipil dari zona konflik yang berkaitan dengan situasi di Mariupol. Mereka juga sepakat bahwa PBB dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) harus terlibat dalam evakuasi warga sipil dari kompleks baja Azovstal.

"Diskusi lebih lanjut akan diadakan dengan kantor kemanusiaan PBB dan Kementerian Pertahanan Rusia mengenai evakuasi tersebut," kata Dujarric.

photo
Presiden Rusia Vladimir Putin berbincang dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam pertemuan di Kremlin, Moskow, Selasa (26/4/2022). - (Vladimir Astapkovich, Sputnik, Kremlin Pool P)

Selama pertemuan yang berlangsung hampir dua jam, Guterres mengkritik tindakan militer Rusia di Ukraina sebagai pelanggaran mencolok terhadap integritas teritorial. Guterres mendesak Rusia untuk mengizinkan evakuasi warga sipil yang masih terjebak di pabrik baja.

Putin menanggapi pernyataan Guterres dengan mengeklaim bahwa pasukan Rusia telah menawarkan koridor kemanusiaan kepada warga sipil yang bersembunyi di pabrik. Namun, para pembela Ukraina menggunakan warga sipil sebagai tameng dan tidak mengizinkan mereka pergi.

Putin mengaku masih berharap dialog dapat mengakhiri konflik bersenjata di Ukraina. "Terlepas dari kenyataan bahwa operasi militer sedang berlangsung, kami masih berharap bahwa kami akan dapat mencapai kesepakatan di jalur diplomatik. Kami sedang bernegosiasi, kami tidak menolak (pembicaraan)," kata Putin kepada Guterres.

photo
Relawan membantu lansia melarikan diri dari perang di stasiun kereta api Pokrovsk, Ukraina, Senin (25/4/2022). - (AP/Leo Correa)

Kendati demikian, Putin menjelaskan, proses negosiasi telah terjegal oleh tudingan yang menyebut pasukan Rusia membantai warga sipil di Bucha, Ukraina. “Ada provokasi di Desa Bucha yang tidak ada hubungannya dengan tentara Rusia,” ucap Putin.

Seusai bertemu Putin di Moskow, Guterres terbang ke Rzeszów, Polandia, untuk bertemu Presiden Andrzej Duda. Guterres dijadwalkan mengunjungi Kiev pada Kamis (28/4) untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Kuleba.

Dalam perkembangan berbeda, Pemerintah Cina mengatakan akan mendukung penyelesaian konflik Rusia-Ukraina lewat diplomasi. Beijing tak menghendaki pecahnya Perang Dunia III. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari, Cina adalah tempat dekat Rusia.

photo
Presiden Rusia Vladimir Putin menjabat tangan Presiden Cina Xi Jinping di Brazil pada 2019 lalu. - (AP/Ramil Sitdikov/Pool Sputnik Kremlin)

“Tidak ada yang ingin melihat Perang Dunia III. Ini perlu untuk mendukung proses mempromosikan pembicaraan damai (Rusia-Ukraina),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin dalam pengarahan pers, Selasa, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Pernyataan Wang itu merupakan jawaban atas pertanyaan mengenai Cina merespons komentar Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov tentang masih sangat terbukanya peluang Perang Dunia III terjadi. Menurut Wang, konflik di Ukraina tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Dia mengingatkan tentang konsekuensi negatif dari konflik tersebut yang dapat memengaruhi tidak hanya Eropa, tapi juga dunia. “Kami berharap semua pihak terkait akan menunjukkan keseimbangan dan mencegah eskalasi,” ujarnya.

Gusur pengungsi Afghanistan

Sementara itu, Jerman menggusur ratusan pengungsi Afghanistan yang mencari perlindungan. Langkah itu diambil karena Jerman kedatangan gelombang pengungsi dari Ukraina.

Menurut sebuah laporan oleh Foreign Policy, pekan lalu, sebagian besar warga Afghanistan telah menerima pemberitahuan pengusiran dari otoritas Jerman. Bahkan, beberapa di antara mereka menerima pemberitahuan pengusiran dalam waktu 24 jam.

Menurut laporan itu, keputusan penggusuran dibuat oleh Departemen Integrasi, Tenaga Kerja, dan Layanan Sosial. "Kami menyesal bahwa ini menyebabkan kesulitan bagi keluarga Afghanistan, (dan) orang-orang yang terkena dampak harus pindah dari lingkungan yang mereka kenal, dan sekarang mungkin harus menjaga hubungan sosial mereka dengan kesulitan besar," kata Juru Bicara Departemen Integrasi, Tenaga Kerja, dan Layanan Sosial, Stefan Strauss, dikutip Middle East Monitor, Rabu (27/4).

Jerman menjadi negara tuan rumah pengungsi terbesar di Eropa dengan jumlah lebih dari 1,24 juta. Namun, sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, Polandia menjadi negara tuan rumah pengungsi terbesar di Eropa karena sejauh ini telah menerima 2,8 juta pengungsi Ukraina. n reuters/ap ed: yeyen rostiyani

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan percakapan via telepon dengan Menlu Ukraina Dmitry Kuleba, Selasa (26/4). Pada kesempatan itu, Retno menyampaikan kesiapan Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada Ukraina.

“Berbicara di telepon dengan Menlu Ukraina Dmitry Kuleba. Menlu Kuleba menjelaskan situasi terkini di Ukraina, termasuk krisis kemanusiaan. Saya menyampaikan kesiapan Indonesia untuk menyediakan bantuan kemanusiaan bagi rakyat di Ukraina,” kata Retno lewat akun Twitter resminya.

Menurut Retno, dia dan Kuleba sepakat tentang pentingnya memberi peluang bagi kesuksesan negosiasi guna mengakhiri konflik di Ukraina. “Indonesia akan melakukan yang terbaik untuk mendukung upaya menemukan solusi damai lewat negosiasi,” ucap Retno.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Rusia Setop Gas ke Polandia dan Bulgaria

Guterres dan Putin sepakat mengatur evakuasi warga sipil di pabrik baja Azovstal.

SELENGKAPNYA

Harga Gandum di Afrika Naik 60 Persen

Rusia dan Ukraina adalah pemasok utama gandum di Afrika.

SELENGKAPNYA

Wapres AS Kamala Harris Positif Terinfeksi Covid-19

Studi CDC menunjukkan lebih dari separuh populasi AS telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali.

SELENGKAPNYA