Teller menghitung uang dolar AS di kantor cabang Bank Muamalat Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Kamis (30/5/2024). | Dok Republika

Ekonomi

Mengapa Rupiah Terus Melemah?

Pelemahan rupiah dinilai ada faktor persoalan struktural.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini terjadi meski Bank Indonesia (BI) telah mengerahkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas kurs, mulai dari intervensi pasar valas hingga penguatan kebijakan suku bunga.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp17.845,5 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026). Pelemahan berlanjut pada Jumat (29/5/2026), ketika rupiah sempat menyentuh Rp17.886 per dolar AS pada perdagangan siang dan ditutup di level Rp17.880,5 per dolar AS.

Pelemahan tersebut menarik perhatian karena terjadi ketika indeks dolar AS justru sedang mengalami koreksi. Dalam kondisi normal, pelemahan dolar biasanya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak semata-mata berasal dari faktor moneter, melainkan mencerminkan persoalan struktural yang lebih dalam.

“Walaupun BI sudah menerapkan tujuh strategi, kemudian suku bunga sudah dinaikkan, tetapi rupiah terus mengalami pelemahan. Harus diingat, permasalahan utama kenapa rupiah melemah bukan merupakan kesalahan teknis dari Bank Indonesia atau moneter, tetapi kesalahan struktural. Kesalahan struktural ini di luar kendali otoritas moneter,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5/2026).

Menurut Ibrahim, berbagai kebijakan yang ditempuh BI sebenarnya telah menunjukkan komitmen kuat menjaga stabilitas pasar keuangan. Namun, efektivitas kebijakan moneter menjadi terbatas ketika investor melihat adanya persoalan yang lebih mendasar dalam perekonomian.

Ia menyoroti sejumlah dinamika yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir, mulai dari perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan hingga gejolak di pasar modal yang muncul setelah pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, sejumlah peristiwa tersebut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Selain faktor sentimen pasar, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh memburuknya indikator eksternal Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah defisit transaksi berjalan yang melebar signifikan.

Data menunjukkan defisit transaksi berjalan Indonesia meningkat dari sekitar 0,15 miliar dolar AS pada kuartal I 2025 menjadi 4,01 miliar dolar AS pada kuartal I 2026. Pada saat yang sama, surplus perdagangan Indonesia menyusut dari 13,07 miliar dolar AS menjadi 7,98 miliar dolar AS.

Pelebaran defisit tersebut terjadi ketika tekanan geopolitik global meningkat, terutama setelah memanasnya konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur perdagangan energi di kawasan Teluk.

“Defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural, bukan temporer. Kita melihat bahwa ini membuat investor asing susah untuk masuk ke saham-saham atau obligasi di Indonesia,” kata Ibrahim.

Konflik di Timur Tengah juga memicu lonjakan harga energi global. Blokade Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia menyebabkan terganggunya rantai pasok minyak dan gas internasional.

Akibatnya, harga minyak mentah dunia meningkat tajam. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dalam jumlah besar.

Indonesia saat ini mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari. Kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dolar AS meningkat untuk membiayai impor energi sekaligus menambah tekanan terhadap rupiah.

Tekanan permintaan dolar juga datang dari faktor musiman. Periode Maret hingga Juni merupakan masa pembayaran dividen perusahaan-perusahaan terbuka kepada investor asing. Selain itu terdapat kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri dan penyelenggaraan ibadah haji.

Di sisi lain, sebagian masyarakat juga mulai mengalihkan simpanannya ke valuta asing sebagai langkah lindung nilai terhadap pelemahan rupiah. Fenomena ini dinilai turut meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Bank Indonesia mengakui tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang.

“Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” kata Denny.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi melalui transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Bank sentral juga memperkuat daya tarik aset keuangan domestik melalui pengelolaan suku bunga instrumen moneter yang lebih pro-pasar guna mendorong masuknya aliran modal asing.

Selain itu, BI menetapkan batas pembelian valuta asing tanpa underlying menjadi maksimal 25.000 dolar AS per pelaku per bulan yang mulai berlaku Juni 2026. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga keseimbangan permintaan valas di pasar domestik.

Meski tekanan terhadap rupiah masih berlanjut, pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat tersebut belum mampu menjadi penopang penguatan rupiah. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh keseimbangan eksternal, arus modal, persepsi investor, serta perkembangan geopolitik global.

Ke depan, tantangan terbesar pemerintah dan otoritas moneter adalah menjaga kepercayaan pasar di tengah tingginya kebutuhan dolar AS, ketidakpastian global, serta tekanan terhadap neraca eksternal. Tanpa perbaikan faktor-faktor struktural tersebut, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih akan terbatas meski berbagai instrumen moneter terus digelontorkan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat