Iqtishodia
Olahraga sebagai Bahan Bakar Baru Pertumbuhan Ekonomi
Industri olahraga tak lagi sekadar soal kebugaran.
OLEH Siti Riska Ulfah Hidayanti (ITAPS FEM IPB)
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas olahraga di Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat. Berbagai sarana olahraga, seperti lapangan tenis, padel, pusat kebugaran, dan lapangan mini soccer, semakin banyak bermunculan. Di sisi lain, jalan-jalan protokol di berbagai kota rutin dimanfaatkan sebagai ruang olahraga publik melalui kegiatan car free day, sementara berbagai ajang seperti maraton dan kompetisi olahraga lainnya semakin sering diselenggarakan.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap olahraga, terutama sejak pandemi Covid-19 yang mendorong kesadaran akan pentingnya hidup sehat. Olahraga seperti lari, bersepeda, tenis, padel, yoga, dan mini soccer kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Perubahan tersebut turut mendorong peningkatan konsumsi berbagai barang dan jasa yang berkaitan dengan industri olahraga, mulai dari perlengkapan olahraga, keanggotaan pusat kebugaran, hingga tiket berbagai ajang olahraga.
Tanpa disadari, fenomena tersebut menumbuhkan kekuatan ekonomi baru yang sering kali luput dari perhatian, yaitu industri olahraga. Kini, industri olahraga mulai dilirik pemerintah bukan sebagai pos anggaran yang menghabiskan uang negara, melainkan sebagai salah satu sumber pendapatan baru. Industri olahraga telah bertransformasi dari sekadar aktivitas fisik menjadi instrumen strategis dalam menggerakkan roda perekonomian nasional.
Laporan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 mengungkapkan bahwa nilai agregat ekonomi olahraga Indonesia telah mencapai Rp 39,45 triliun atau setara dengan 0,19 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar Rp 2,17 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut membuktikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap olahraga memberikan dampak yang cukup besar terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.
Efek ekonomi dari tren tersebut jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat di permukaan. Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai multiplier effect, yaitu ketika satu aktivitas mampu memicu pertumbuhan berbagai sektor lainnya. Seseorang yang mengikuti lomba lari, misalnya, tidak hanya membayar biaya pendaftaran, tetapi juga membeli perlengkapan olahraga, menginap di hotel jika acara berlangsung di luar kota, menggunakan transportasi, makan di restoran, hingga berbelanja produk lokal. Seluruh transaksi tersebut menjadi sumber pendapatan bagi banyak pelaku usaha. Tidak mengherankan apabila berbagai negara mulai menjadikan olahraga sebagai salah satu instrumen pembangunan ekonomi, termasuk Indonesia.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan kegiatan olahraga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Penelitian Budiarto dan Qibthiyyah mengenai penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) menemukan adanya peningkatan penerimaan pajak daerah, terutama dari sektor hotel, restoran, hiburan, dan periklanan. Kehadiran atlet, ofisial, wisatawan, media, hingga sponsor mendorong aktivitas ekonomi yang meluas selama penyelenggaraan acara.
Penyelenggaraan ajang olahraga berskala besar atau multi-event menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kepercayaan investor asing dan penciptaan lapangan kerja di Tanah Air. Kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah berbagai forum internasional telah meningkatkan citra positif negara di mata dunia, yang secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan negara melalui sektor pajak dan biaya terkait penyelenggaraan. Selain itu, acara-acara tersebut memicu lonjakan konsumsi masyarakat, terutama pada sektor makanan, minuman, dan penjualan produk lokal di sekitar lokasi kegiatan. Investasi pada infrastruktur olahraga yang dilakukan untuk menunjang ajang besar tersebut juga memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan daerah dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Olahraga rekreasi juga menunjukkan kontribusi yang tidak kalah signifikan dalam memberdayakan ekonomi lokal. Sebagai contoh, keberadaan wahana olahraga rekreasi di ruang terbuka hijau (RTH), seperti di Kota Langsa, terbukti mampu mengurangi angka pengangguran dengan menyerap 83 persen tenaga kerja dari masyarakat setempat. Aktivitas seperti flying fox, motor ATV, dan paintball tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga memicu munculnya ekosistem bisnis baru di sekitarnya, mulai dari perhotelan, restoran, hingga pengembangan UMKM yang menjual produk khas daerah. Hal ini mempertegas bahwa olahraga, khususnya olahraga rekreasi, dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih cepat tumbuh dibandingkan sektor lainnya di tingkat regional.
Potensi besar lainnya terletak pada sektor pariwisata olahraga atau sport tourism yang kini menjadi salah satu pilar dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menyumbang sekitar 10 persen dari pengeluaran pariwisata global. Di Indonesia, sport tourism memadukan keindahan alam dan kekayaan budaya dengan aktivitas fisik yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Ajang bergengsi seperti MotoGP Mandalika, Formula E, Borobudur Marathon, dan Bali Marathon telah memberikan dampak ekonomi regional yang luar biasa melalui penyediaan jasa akomodasi, transportasi, dan layanan pemandu wisata. Selain aspek finansial, sektor ini juga berperan dalam melestarikan tradisi olahraga lokal dan mempromosikan warisan budaya Indonesia ke tingkat internasional.
Kontribusi olahraga terhadap perekonomian juga dapat dilihat dari sisi konsumsi rumah tangga. Berdasarkan struktur PDB Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika masyarakat membelanjakan pendapatannya untuk membeli sepatu olahraga, pakaian olahraga, sepeda, raket, biaya keanggotaan pusat kebugaran, ataupun mengikuti berbagai kompetisi, seluruh pengeluaran tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi nasional. Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam olahraga, semakin besar pula kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, olahraga juga dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Berbagai studi kesehatan menunjukkan bahwa masyarakat yang aktif berolahraga memiliki risiko penyakit tidak menular yang lebih rendah, tingkat kebugaran yang lebih baik, serta produktivitas kerja yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menekan biaya kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan kata lain, investasi pada olahraga bukan hanya menghasilkan tubuh yang lebih sehat, tetapi juga ekonomi yang lebih kuat.
Meskipun demikian, potensi ekonomi olahraga di Indonesia masih belum dimanfaatkan secara optimal. Industri olahraga nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas publik yang memadai, belum meratanya penyelenggaraan event olahraga berkualitas, hingga minimnya investasi pada industri olahraga berbasis teknologi dan inovasi.
Selanjutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas olahraga, akademisi, dan pelaku UMKM agar olahraga benar-benar berkembang menjadi industri yang berdaya saing. Pembangunan fasilitas olahraga yang mudah diakses masyarakat, penyelenggaraan event secara berkelanjutan, penguatan sport tourism, serta dukungan terhadap industri perlengkapan olahraga dalam negeri merupakan beberapa langkah strategis yang perlu terus didorong.
Pada akhirnya, olahraga bukan lagi sekadar urusan mengejar juara dan medali atau menjaga kebugaran. Di balik setiap orang yang berlari, bersepeda, bermain tenis, atau mengikuti kompetisi olahraga, terdapat rantai ekonomi yang menghidupi banyak pelaku usaha. Semakin aktif masyarakat berolahraga, semakin besar peluang terciptanya lapangan kerja, berkembangnya UMKM, meningkatnya investasi, dan bertumbuhnya perekonomian nasional. Keringat yang menetes di lapangan ternyata tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga dapat menjadi bahan bakar baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
