Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Pangkalan AS ini jadi salah satu yang diporakporandakan Iran. | Citra Satelit

Internasional

Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Yordania

Amerika bunuh 30 warga sipil Iran.

TEHERAN – Serangan terbaru Amerika Serikat (AS) menghantam sejumlah infrastruktur sipil Iran termasuk gudang biji-bijian dan pabrik air mineral di Iran sejak Selasa malam. Sementara Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan tahap-tahap baru Operasi Nasr 2 yang menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Beberapa jam setelah serangan terbaru AS, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan beberapa tahap baru Operasi Nasr 2 yang menyasar infrastruktur militer Amerika di seluruh kawasan Teluk.

Menurut IRGC, serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) menghantam pusat logistik dan dukungan KJL di Mina Abdullah, Kuwait, yang merupakan pusat pasokan utama militer AS di Asia Barat.

Pihak Garda menyatakan bahwa fasilitas tersebut terbakar dan hancur selama operasi berlangsung. Serangan tambahan menyasar instalasi milik Armada Kelima AS di Bahrain.

Dalam komunike kedua belasnya, IRGC menyatakan bahwa rudal menghantam fasilitas komando dan kendali, pusat komunikasi, gudang peralatan militer, serta depot bahan bakar yang terkait dengan kekuatan angkatan laut Amerika.

Pasukan Garda tersebut menyatakan bahwa operasi itu dilakukan sebagai tanggapan atas serangan AS yang terus berlanjut terhadap provinsi-provinsi di wilayah selatan Iran serta upaya Washington untuk menguasai Selat Hormuz.

"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini berlaku untuk semua pihak atau tidak sama sekali bagi siapa pun," bunyi pernyataan tersebut, seraya memperingatkan bahwa jalur air strategis itu akan tetap ditutup hingga operasi militer AS dihentikan.

IRGC mengumumkan operasi lanjutan yang menyasar infrastruktur militer AS di Kuwait dan Yordania. Menurut komunike ketujuhnya, serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) menyasar fasilitas komunikasi satelit, sistem pertahanan udara Patriot, instalasi radar, peluncur HIMARS, dan pangkalan logistik militer AS di Kuwait.

Pernyataan itu menegaskan bahwa Iran tidak memendam permusuhan terhadap Kuwait dan mendesak rakyat Kuwait untuk mengupayakan penarikan pangkalan militer Amerika dari wilayah mereka.

Dalam komunike lainnya, Pasukan Garda menyatakan bahwa Angkatan Dirgantara mereka telah menyerang Pangkalan Udara Al-Azraq yang dioperasikan AS di Yordania, serta mengklaim telah menghancurkan hanggar pesawat yang menampung jet tempur F-15, F-16, dan F-35, beserta sejumlah drone MQ-9.

Dalam pesan langsung kepada rakyat Yordania, IRGC menyatakan bahwa Yordania tidak dianggap sebagai musuh, namun menyerukan diakhirinya kehadiran militer AS di negara tersebut.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (republikaonline)

Secara terpisah, Angkatan Darat Iran (Artesh) mengumumkan tahap kedelapan Operasi Saeqeh, dengan menyatakan bahwa gelombang drone lainnya kembali menghantam Pangkalan Udara Al-Azraq untuk kedua kalinya.

Menurut Angkatan Darat, drone-drone tersebut menyasar fasilitas yang menampung pesawat F/A-18 serta hanggar peralatan besar yang digunakan oleh pasukan AS.

Angkatan Darat menggambarkan operasi ini sebagai bagian dari tanggapan berkelanjutan Iran terhadap serangan berulang Amerika, sembari menegaskan kembali bahwa tindakan militer mereka bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah negara, bukan untuk memicu perang yang lebih luas.

Aksi saling serang terbaru ini semakin memperluas konfrontasi antara Washington dan Teheran; operasi militer kini mencakup wilayah Iran, Kuwait, Bahrain, Yordania, dan kawasan Teluk secara lebih luas seiring dengan langkah kedua belah pihak yang terus meningkatkan intensitas tanggapan mereka.

Lebih dari 30 warga sipil meninggal akibat serangan AS di Iran bagian selatan selama beberapa hari terakhir. Sementara tujuh prajurit Iran gugur akibat serangan di tenggara.

"Seraya menyampaikan belasungkawa dan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan, kami mengenang mereka yang telah gugur," ujar  menurut juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajeran  dalam sebuah unggahan di X.

photo
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

"Pemerintah akan mendampingi rakyat dengan segenap kekuatannya. Iran bagian selatan adalah jantung dari negeri ini."

Serangan AS juga menewaskan tujuh  tentara Iran di wilayah tenggara. Angkatan Darat Iran menyatakan akan merespons serangan terhadap Garnisun Bampour di Iranshahr, seraya menyebutnya sebagai "agresi pengecut".

"Respons tegas akan diberikan atas kejahatan ini pada waktu yang tepat," demikian bunyi pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Tasnim.

Sebanyak 13 rudal AS menghantam fasilitas di sebuah kompleks militer di Bampour, menewaskan tujuh personel dari Brigade ke-388 dan melukai beberapa lainnya. Pihak militer menyatakan bahwa "langkah-langkah pertahanan pasif" telah membatasi jumlah korban.

Serangan AS tersebut "bertujuan menimbulkan korban jiwa sebanyak mungkin" dengan menyasar wisma tamu, pos penjagaan, dan fasilitas akomodasi di pangkalan tersebut.

Menurut kantor berita resmi IRNA, Gubernur Bushehr Mohammad Mozafari menyatakan bahwa proyektil AS yang jatuh di kota tersebut pada pagi hari tidak menimbulkan korban jiwa.

Ia mengatakan bahwa pasukan AS menghantam empat lokasi di kota pelabuhan di wilayah barat itu pada hari Selasa. "Tim penyelamat saat ini bersiaga, dan situasi di kota tersebut tetap tenang," ujar gubernur kepada kantor berita itu.

photo
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Hossein Kermanpour, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, mengatakan bahwa lebih dari 260 orang terluka dalam serangan terbaru AS; sebanyak 222 orang di antaranya telah mendapatkan perawatan dan diperbolehkan pulang.

Melalui platform X, ia menyebutkan bahwa tiga korban luka berusia di bawah 18 tahun dan menambahkan bahwa setidaknya dua orang tewas dalam serangan tersebut.

Pasukan AS menyerang puluhan target Iran dan kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran saat eskalasi konflik memasuki hari kelima.

Militer AS menyatakan telah merampungkan rangkaian serangan tambahan terhadap Iran pada pukul 22.00 EST tanggal 14 Juli (02.00 GMT tanggal 15 Juli).

Pihaknya menyebut telah menghantam "puluhan target militer di dekat Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran".

"Pesawat tempur, pesawat nirawak (drone), dan kapal angkatan laut AS meluncurkan amunisi presisi yang menyasar lokasi rudal dan drone Iran, kemampuan angkatan laut, serta sistem pertahanan pesisir" selama operasi yang berlangsung selama tujuh jam tersebut, ungkap Komando Pusat AS.

Militer menyatakan bahwa serangan-serangan itu dirancang "untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial dan awak kapal sipil".

Tindakan tersebut dilakukan pada hari yang sama saat pasukan AS "memberlakukan kembali blokade laut terhadap kapal-kapal yang melintas menuju atau dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran", yang "mulai berlaku pada pukul 16.00 ET hari ini [20.00 GMT tanggal 14 Juli]", demikian pernyataan tersebut.

Duta Besar China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sun Lei, menilai serangan besar yang dilancarkan AS terhadap Iran kembali mendorong kawasan Timur Tengah ke situasi yang sangat berbahaya.

Menurut Sun, langkah militer Washington tersebut memperburuk ketegangan yang sudah berlangsung di kawasan. Ia menegaskan bahwa prioritas saat ini seharusnya adalah menghentikan eskalasi konflik, bukan menciptakan pertikaian baru.

Pernyataan Sun disampaikan sebagai tanggapan atas tuduhan utusan AS, Mike Waltz, yang menyebut China tidak berbuat cukup untuk menghentikan aliran barang menuju Iran dan Yaman.

Sun membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sama sekali tidak berdasar. Ia menegaskan pemerintah China menerapkan pengawasan yang ketat terhadap ekspor barang-barang yang berpotensi disalahgunakan.

"Tuduhan tersebut sama sekali tidak berdasar. China menerapkan pengawasan yang ketat terhadap ekspor semacam itu," kata Sun.

Ia juga mendesak AS untuk menghentikan kebijakan yang dinilai memicu instabilitas di Timur Tengah. "Prioritas sekarang adalah Amerika Serikat berhenti menciptakan konflik dan kekacauan baru di Timur Tengah," ujar Sun.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat