Pendukung Houthi meneriakkan slogan-slogan dalam acara mingguan anti-AS. dan unjuk rasa anti-Israel di Sanaa, Yaman, Jumat, 18 April 2025. | AP Photo/Osamah Abdulrahman

Internasional

Iran Ancam Tutup Bab al-Mandeb

Penutupan Laut Merah akan melumpuhkan jalur minyak dunia.

SANAA – Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali melontarkan ancaman bahwa sekutu negara itu dapat menutup jalur pelayaran Bab al-Mandeb, sebagaimana yang telah dilakukan Iran secara efektif terhadap Selat Hormuz.

Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan merupakan jalur perairan vital bagi perdagangan minyak global. Arti penting selat ini semakin meningkat sejak penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran—jalur yang biasanya dilalui oleh 20 persen pasokan minyak dan gas dunia pada masa normal.

Ali Akbar Velayati, mantan Menteri Luar Negeri Iran dan diplomat senior yang dikenal memiliki pengaruh kuat di kalangan elite pemerintahan, pada hari Senin memperingatkan melalui platform X bahwa "situasi keamanan di Bab al-Mandeb saat ini tidak boleh membuat musuh melakukan kesalahan perhitungan."

Ia menambahkan bahwa "kubu Perlawanan memiliki kemampuan untuk menutup kedua jalur perairan tersebut," merujuk pada "poros perlawanan"—sebuah koalisi longgar kelompok-kelompok yang berpihak pada Iran, termasuk Houthi di Yaman, Hamas di Gaza, dan Hizbullah di Lebanon, di antara kelompok lainnya.

Ini bukan kali pertama Velayati melontarkan ancaman penutupan Bab al-Mandeb terhadap AS dan Israel. Pernyataan ini muncul menyusul serangan langsung pertama antara Iran dan Israel sejak gencatan senjata tanggal 8 April yang melibatkan Teheran di satu sisi, serta AS dan Israel di sisi lain.

Sejak larut malam tanggal 7 Juni, Iran dan Israel saling melancarkan serangan rudal yang mengancam gencatan senjata yang sudah rapuh, bahkan di saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras agar perundingan damai terus berlanjut dan berpotensi menghasilkan terobosan dalam beberapa hari mendatang.

photo
ILUSTRASI Tampak dalam peta, kawasan Tanduk Afrika sangat strategis karena menghubungkan antara Samudra Hindia dan Laut Merah. Region yang sama juga cukup dekat dengan Jazirah Arab, negeri tempat kelahiran Rasulullah SAW - (DOK WIKIPEDIA)

Beberapa hari setelah AS dan Israel memulai perang melawan Iran pada 28 Februari, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari sebagian besar negara. Pada 13 April, beberapa hari setelah gencatan senjata diberlakukan, AS melancarkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tersebut, yang semakin memangkas lalu lintas pelayaran di jalur perairan itu.

Namun, jika Bab al-Mandeb juga ditutup, dampaknya akan melampaui sekadar perang yang sedang berlangsung; hal itu dapat memperparah krisis pasokan energi global akibat konflik tersebut, serta memperdalam gejolak ekonomi yang dirasakan di pabrik, dapur, dan SPBU di seluruh dunia.

Selat ini terletak di antara Yaman di sisi timur laut serta Djibouti dan Eritrea di Tanduk Afrika di sisi barat daya.

Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia melalui Teluk Aden. Dengan lebar 29 km pada titik tersempitnya, jalur pelayaran di sini terbatas pada dua alur—masing-masing untuk lalu lintas masuk dan keluar—dan secara efektif dikuasai oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Kelompok yang berbasis di Yaman ini merupakan bagian sentral dari "poros perlawanan" Iran.

Selat ini merupakan jalur vital bagi Arab Saudi untuk mengirimkan minyaknya ke Asia. Saat Selat Hormuz terbuka, Bab al-Mandeb juga menjadi jalur krusial bagi negara-negara Teluk—selain Arab Saudi—untuk mengekspor minyak mentah dan gas mereka ke Eropa melalui Terusan Suez atau Pipa Suez-Mediterranean (Sumed) di pesisir Laut Merah Mesir.

Video yang dilansir kelompok Ansarullah Houthi soal penyitaan kapal Galaxy Leader di Laut Merah, 19 November 2023. - (Ansarullah)  ​

Pada tahun 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak olahan melintasi selat ini—jumlah tersebut setara dengan 5 persen dari total volume global.

Jika Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz sama-sama ditutup, hal itu akan menghambat 25 persen—atau seperempat—dari pasokan minyak dan gas dunia.

Bukan hanya bahan bakar; sekitar 10 persen perdagangan global melintasi Bab al-Mandeb, termasuk pengiriman peti kemas dari Tiongkok, India, dan negara-negara Asia lainnya menuju Eropa.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz, arti penting Bab al-Mandeb pun semakin meningkat.

Arab Saudi, yang secara tradisional sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyaknya, kini semakin beralih menggunakan pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengirimkan minyak mentah melalui Bab al-Mandeb.

Untuk itu, mereka memanfaatkan Pipa East-West yang membentang dari pusat pengolahan minyak Abqaiq—dekat Teluk—hingga ke Yanbu. Pipa sepanjang 1.200 km (745 mil) ini dioperasikan oleh perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Aramco.

Menurut perusahaan intelijen energi Kpler, jika pada bulan Januari dan Februari Pipa East-West rata-rata mengalirkan 770.000 barel per hari ke pesisir Laut Merah, Arab Saudi meningkatkan penggunaannya secara signifikan pada bulan Maret saat Selat Hormuz ditutup. Menjelang akhir Maret, aliran minyak mencapai kapasitas penuh pipa tersebut, yakni 7 juta barel per hari—angka tertinggi yang pernah tercatat.

photo
Houthi Ganggu Laut Merah - (Republika)

Kelompok Houthi telah membuktikan bahwa mereka mampu melakukannya. Selama perang genosida Israel di Gaza, mereka memblokir Selat Bab al-Mandeb bagi kapal-kapal yang mereka anggap terkait dengan Israel atau AS.

Akibat seringnya serangan terhadap pelayaran, perusahaan asuransi menolak memberikan keringanan terkait lalu lintas kapal. Pada Mei 2025, AS dan Houthi menyepakati gencatan senjata, dan sejak saat itu kelompok Yaman tersebut telah membuka kembali jalur Bab al-Mandeb.

Di tengah perang AS-Israel melawan Iran, Houthi kembali menunjukkan bagaimana mereka dapat mengganggu jalur pelayaran tersebut, sebagaimana yang mereka lakukan selama perang genosida di Gaza.

Antara akhir Maret hingga gencatan senjata pada 8 April, Houthi menembakkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke arah Israel, yang menandakan keterlibatan efektif mereka dalam perang—untuk saat ini, melawan Israel, bukan AS. Pada 8 Juni, Houthi mengonfirmasi bahwa mereka kembali menembakkan rudal ke arah Israel dan mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandeb bagi kapal-kapal Israel.

Nabeel Khoury, seorang mantan diplomat AS, mengatakan kepada Al Jazeera pada bulan April bahwa serangan rudal yang diluncurkan Houthi terhadap Israel, dengan sendirinya, hanyalah bentuk "partisipasi simbolis, bukan partisipasi penuh".

"Mereka menembakkan beberapa rudal sebagai peringatan di tengah berbagai pembicaraan mengenai potensi eskalasi. Ada pasukan AS yang sedang menuju kawasan tersebut. Muncul pula wacana bahwa jika tidak ada kesepakatan, mungkin akan terjadi serangan skala penuh terhadap Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar mantan wakil kepala misi AS di Yaman tersebut kepada Aljazirah.

Jika Houthi benar-benar ingin terlibat dalam perang, senjata utama mereka adalah pemblokiran Selat Bab al-Mandeb.

"Mereka hanya perlu menembaki beberapa kapal yang melintas, dan hal itu akan menyebabkan terhentinya seluruh pelayaran komersial di Laut Merah," ujarnya. "Itu akan menjadi garis merah, dan Anda akan segera melihat serangan terhadap Yaman [dari pihak AS dan Israel]."

Elisabeth Kendall, seorang pakar Timur Tengah sekaligus Presiden Girton College di Universitas Cambridge, mengatakan kepada Aljazirah bahwa jika selat di Laut Merah ditutup, hal itu akan menciptakan "skenario mimpi buruk".

"Sebab, jika terdapat pembatasan di Selat Hormuz bersamaan dengan meningkatnya pembatasan di Bab al-Mandeb, maka arus perdagangan menuju Eropa benar-benar akan terganggu, bahkan bisa lumpuh total. Jadi, situasinya benar-benar berada di titik kritis, sangat bergantung pada apa yang akan terjadi selanjutnya," ujarnya kepada Aljazirah.

Namun, Kendall juga menyebutkan bahwa meskipun situasi ini merupakan "momentum yang sangat menguntungkan" bagi kelompok Houthi, kelompok asal Yaman tersebut mungkin tidak ingin "memicu respons dari Arab Saudi ataupun respons yang lebih luas".

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat