Perempuan Ethiopia menapis gandum di Tigray, beberapa waktu lalu. | AP/Ben Curtis

Internasional

28 Apr 2022, 03:45 WIB

Harga Gandum di Afrika Naik 60 Persen

Rusia dan Ukraina adalah pemasok utama gandum di Afrika.

ABUJA -- Harga gandum di Afrika naik 60 persen karena perang Rusia-Ukraina. Presiden Bank Pembangunan Afrika (AfDB) Akinwumi Adesina memperingatkan, Benua Afrika akan kehilangan makanan senilai hingga 11 miliar dolar AS akibat konflik. 

"Harga gandum sudah naik sekitar 60 persen. Jagung dan biji-bijian lainnya juga akan terpengaruh. Mungkin ada krisis pupuk karena akan terjadi defisit sekitar 2 juta metrik ton dan itu akan memengaruhi produksi pangan sekitar 20 persen," kata Adesina, dilansir Anadolu Agency, Rabu (27/4).

Adesina mengatakan, perang Rusia-Ukraina telah menciptakan masalah global, khususnya untuk Afrika. Sebagian besar kebutuhan pangan Afrika diimpor dari Rusia dan Ukraina.

Para ekonom mengatakan, perang Rusia-Ukraina merupakan kejutan besar bagi pasar internasional. Para ekonom menyarankan agar sebagian besar negara Afrika menghindari ketergantungan pada impor gandum dari Ukraina maupun Rusia.

Rusia dan Ukraina adalah pemasok utama gandum di Afrika. Namun, sejak perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari, rantai pasokan gandum telah terputus hingga memicu kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain gandum, harga minyak bunga matahari dan minyak mentah dunia juga melonjak. Negara-negara Maghreb bergantung pada gandum Rusia dan Ukraina dengan impor yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap kebutuhan mereka.

AfDB berencana untuk membantu petani di Afrika menanam gandum, jagung, sorgum, beras, dan kedelai untuk mencegah krisis pangan di Benua Afrika. Adesina mengatakan, AfDB mengembangkan Rencana Pangan Darurat Afrika senilai 1,5 miliar dolar AS. Rencana ini masih menunggu persetujuan dari manajemen teratas bank tersebut.

Kerawanan pangan kerap mengarah pada kerusuhan sosial yang luas. Ini pernah terjadi pada 2011 yang ditandai dengan Arab Spring. Saat itu, penyebabnya adalah kenaikan harga pangan di Tunisia.

Dalam jangka pendek, konflik Rusia dan Ukraina amat berdampak pada Timur Tengah dan Afrika Utara. Alasannya, mereka adalah pengimpor terbesar gandum Ukraina. Apalagi, selama ini pun wilayah itu sudah mengalami kerawanan pangan. Negara yang bergantung pada komoditas tertentu dan tidak bisa berganti pada pangan lain juga termasuk negara yang paling berisiko.

Pada 2022, konflik Rusia dan Ukraina memang langsung memengaruhi pasokan dan harga pangan, bahan bakar, serta pupuk global. Sementara itu, dunia makin menghangat dan sistem pertanian dunia gagal di sejumlah kawasan dunia. Maka jelaslah bahwa iklim, kerawanan pangan, dan perang akan menjadi penyebab utama produksi pangan kian terganggu

Sumber : Reuters


Contraflow Arus Mudik Diberlakukan

Pemudik diimbau terus memperbarui informasi rekayasa lalu lintas.

SELENGKAPNYA

Dugaan Suap Bupati Bogor Terkait Laporan Keuangan

Seluruh pihak yang ditangkap menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK.

SELENGKAPNYA

Wapres AS Kamala Harris Positif Terinfeksi Covid-19

Studi CDC menunjukkan lebih dari separuh populasi AS telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali.

SELENGKAPNYA
×