Mewaspadai gejala serangan jantung (ilustrasi) | Unsplash/Towfiqu Barbhuiya

Medika

Jangan Lakukan Ini Saat Anggota Keluarga Alami Serangan Jantung

Serangan jantung bersifat mendadak dan bisa berakibat fatal bila tidak terdiagnosis dan ditangani dalam waktu singkat.

Penyumbatan pada arteri koroner bisa terjadi karena adanya penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Serangan jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pasien serangan jantung perlu mendapatkan penanganan medis yang tepat dan cepat agar bisa terselamatkan.


Sayangnya, pihak keluarga terkadang mengambil keputusan yang dapat memperlambat pasien untuk mendapatkan penanganan. "Semakin cepat mendapatkan penanganan yang tepat, angka kematian semakin banyak bisa diturunkan," kata spesialis jantung dan pembuluh darah dari Heartology Cardiovascular Hospital, Dr dr Jajang Sinardja SpJP(K), di Jakarta.


Menurut Jajang, serangan jantung merupakan kondisi yang terjadi ketika arteri koroner tersumbat dan menyebabkan aliran darah ke otot jantung terhenti. Serangan jantung bersifat mendadak dan bisa berakibat fatal bila tidak terdiagnosis dan ditangani dalam waktu singkat.

photo
Ring jantung dalam kondisi sudah mengembang yang biasa digunakan dalam prosedur Primary PCI untuk pasien serangan jantung. - (Republika/Adysha Citra Ramadani)


Penyumbatan pada arteri koroner bisa terjadi karena adanya penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Bila plak tersebut pecah, gumpalan atau bekuan darah akan terbentuk untuk menutup robekan pada dinding pembuluh darah. Namun, pada saat yang sama, bekuan darah tersebut juga bisa menyebabkan penyumbatan pada arteri koroner.


Saat serangan jantung terjadi, penderita bisa merasakan sejumlah gejala. Salah satu gejala khas dari serangan jantung adalah rasa nyeri di dada yang bisa menjalar ke arah kiri dan ke arah atas, seperti ke punggung, rahang, dan lengan.


Keluhan nyeri dada pada serangan jantung akan disertai dengan sejumlah gejala lain, seperti sesak napas, rasa tidak nyaman seperti tertekan, keringat dingin, muntah, bahkan pingsan.

Namun, terkadang serangan jantung juga bisa memunculkan gejala yang tidak khas, sehingga terasa seperti gejala gangguan asam lambung. "Serangan jantung merupakan kasus emergensi yang harus segera ditangani oleh tim medis dan dokter spesialis jantung," ujar Jajang.

photo
Consultant cardiologist dari Heartology, Dr dr Jajang Sinardja SpJP(K), memberikan penjelasan mengenai Primary PCI untuk menolong pasien serangan jantung. - (Republika/Adysha Citra Ramadani)


Menurutnya, tindakan yang paling dianjurkan untuk pasien serangan jantung adalah primary PCI. Primary PCI merupakan tindakan pemasangan ring pada pembuluh koroner jantung yang dilakukan terhadap pasien serangan jantung, tanpa pemberian obat trombolitik sebelumnya.


Jajang mengungkapkan, tingkat keberhasilan untuk mengembalikan aliran darah di arteri koroner jauh lebih baik dengan primary PCI dibandingkan dengan penggunaan obat trombolitik. Persentase keberhasilan dengan primary PCI adalah sekitar 90-an persen, sedangkan dengan obat trombolitik sekitar 50-an persen.


Namun, untuk bisa mendapatkan manfaat yang optimal, pasien harus mendapatkan tindakan primary PCI sesegera mungkin. Idealnya, door to balloon time atau waktu sejak pasien tiba di IGD sampai primary PCI dilakukan adalah tidak lebih dari 90 menit.


Sayangnya, tak semua keluarga pasien serangan jantung akan memberikan izin untuk dilakukan tindakan primary PCI. Terkadang, keluarga merasa berat memberikan izin karena khawatir tindakan tersebut akan membahayakan pasien. "Padahal kalau primary PCI dilakukan dengan cepat, angka kematian akibat serangan jantung akan menjadi di bawah tiga persen dari semula sekitar 30 persen, jauh sekali," kata Jajang.


Semakin lama tindakan primary PCI untuk pasien serangan jantung ditunda, bukan hanya keselamatan pasien yang menjadi taruhan, tetapi juga kualitas hidup pasien. Pasien tersebut mungkin bisa selamat meski primary PCI ditunda, tetapi setelah itu kondisi jantung pasien akan mengalami penurunan yang signifikan.

Penyakit Jantung di Indonesia - (Republika)

  ​

"Karena ditunda separuh otot jantungnya sudah rusak. Ke depannya, pasien sedikit jalan akan sesak, cepat capek, dan itu menurunkan kualitas hidup," ujar Jajang.


Dalam kasus serangan jantung, Jajang mengingatkan kecepatan dan ketepatan penanganan sangat berperan besar dalam menyelamatkan jiwa serta kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, tindakan primary PCI untuk pasien serangan jantung sebaiknya tidak ditunda.


Primary PCI dilakukan dengan cara memasukkan selang kecil yang fleksibel atau kateter melalui pembuluh pergelangan tangan atau pangkal paha. Kateter ini akan dimasukkan hingga ke arteri koroner yang tersumbat.


Selanjutnya, sumbatan tersebut akan dibuka dengan balon. Kemudian ring jantung atau stent akan dipasang untuk menyangga arteri koroner yang sudah terbuka kembali. "Pasien perlu dirawat di rumah sakit) paling lama lima hari kalau tidak ada komplikasi, setelah pulang bisa langsung jalan-jalan," ujar Jajang.



 

 
Padahal kalau primary PCI dilakukan dengan cepat, angka kematian akibat serangan jantung akan menjadi di bawah tiga persen.
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Menakar Hukum Transpalantasi Jantung Babi ke Manusia

Hukum transplantasi organ babi ke manusia pada dasarnya adalah haram.

SELENGKAPNYA

Seluk-beluk Iskemia Jantung, Apa Itu?

Kebanyakan kasus iskemia jantung menunjukan gejala yang minim.

SELENGKAPNYA