Nasional
bjb KUR, Sukseskan Bisnis Aysa Queen dari Padi hingga Susu Jeli
Hanya membutukan 10 menit langsung siap saji
Kabupaten Indramayu telah lama menyandang predikat sebagai salah satu lumbung padi nasional. Dengan produksi gabah kering giling (GKG) yang mencapai 1,3 juta – 1,4 juta ton di 2025, telah memposisikan Kabupaten Indramayu sebagai daerah penghasil padi tertinggi di Indonesia.
Prestasi Indramayu itu mengungguli Karawang (Jabar) di posisi kedua dan Banyuasin (Sumsel) posisi ketiga. Usaha penggilingan padi pun bermunculan di berbagai pelosok daerah tersebut. Salah satunya milik Ayu Sarniti (38 tahun), yang terletak di Blok Bojong, Gang Tumaritis, RT 16 RW 06, Desa Plumbon, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.
Ayu menjalankan usaha penggilingan padi yang dulu didirikan oleh ibunya, Hj Watini, pada 2015. Hingga kini, usahanya terus berkembang. Ayu pun selalu menerapkan prinsip keamanan pangan dalam usahanya. Karena itu, ia tidak menggunakan zat pemutih maupun pengawet dalam proses penggilingan padinya. Hasilnya, padi yang digiling di pabriknya menjadi beras yang sehat alami.
“Saat berasnya dimasak, jadi nasi yang enak. Beras itu kami jual ke wilayah Indramayu dan sekitarnya dengan harga yang kompetitif,” ujar Ayu, saat ditemui Republika di pabrik penggilingan padinya, belum lama ini.
Setiap hari, pabrik penggilingan milik Ayu menggiling padi rata-rata lima hingga tujuh kuintal. Bahkan di musim panen seperti sekarang, mesin di pabriknya bisa menggiling padi hingga satu ton per hari.
Tak hanya menggiling padi yang dipanen dari sawahnya sendiri, pabrik penggilingan milik Ayu juga menggiling padi milik para petani dari wilayah sekitarnya. Dari proses penggilingan padi itulah, ia memperoleh hasil sampingan berupa bekatul yang rata-rata 20 kilogram per hari.
“Bekatul yang kami hasilkan teksturnya lembut, jadi disukai hewan ternak. Bekatul ini kami jual seharga Rp 4 ribu per kilogram kepada para peternak,” jelasnya.
Tak sekadar menggiling padi, Ayu juga berusaha menjadikan pabriknya itu sebagai pusat pengolahan beras yang berkualitas. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, ia pun berupaya untuk mengembangkan usahanya agar menjadi salah satu pemain utama di industri penggilingan padi di Kabupaten Indramayu.
Melihat prospek bisnisnya yang terbuka lebar, maka Ayu terpanggil untuk menambah kapasitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran. Tentu, dalam rangka itu membutuhkan tambahan modal.
Ayu coba-coba mencari mitra bank untuk meminjam modal. Dari sekian bank yang dijajaki, ternyata bank bjb yang menjadi pilihan terbaiknya. Ia memilih bjb karena layanan yang ramah dan proses yang mudah. Selain itu, Ayu juga merupakan nasabah bank bjb.
Tiga bulan lalu, Ayu mendapatkan kucuran kredit usaha rakyat (KUR) bank bjb, atau disebut bjb KUR. Dengan dana itulah, cita-cita Ayu dalam meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan pemasaran terwujud.
Selain menjalankan bisnis penggilingan padi, Ayu juga merambah usaha lainnya. Hal itu diawali dengan berjualan esensial oil dari Young Living. Ayu menjalankan usaha tersebut karena sudah merasakan khasiat esensial oil yang menunjang kesembuhan anaknya secara alami.
Tidak hanya itu, Ayu juga menjalankan usaha pembuatan keripik pisang dan keripik singkong. Kebetulan, Ayu memiliki kebun yang ditanami pohon pasang dan singkong. “Hasil panen pisang dan singkong kan banyak. Saya mikir dibuat apa. Akhirnya saya olah jadi keripik,” tutur Ayu.
Ayu memproduksi keripik pisang dan singkong setiap tiga hari. Dari 20-30 Kilogram pisang, Setelah diolah menjadi kiripik, beratnya menjadi lima Kg. Ia membuatnya dengan varian rasa manis dan gurih. Keripik itu dijual dalam kemasan 250 gram, dengan harga Rp 25 ribu.
Sementara keripik singkong, dibuat dengan rasa original, balado dan jagung. Dari 20 Kg singkong, Setelah diolah menjadi keripik, beratnya menjadi empat Kg. “Alhamdulillah setiap kali produksi langsung habis,” tutur ibu dari dua anak tersebut.
Tak berhenti sampai di situ, Ayu juga memproduksi susu jeli. Tanpa penggunaan bahan pengawet, susu jeli yang diproduksinya juga laris manis dijual dengan harga Rp 10 ribu per botol dengan ukuran 250 ml. Susu jeli dibuat dengan varian rasa coklat, taro, matcha dan strawberry.
Semua produk yang dibuatnya menggunakan brand ‘Aysa Queen’. Nama itu diambilnya dari penggalan namanya sendiri. “Aysa itu artinya Ayu Sarniti, nama saya sendiri,” ucapnya.
Ayu membuka toko di rumahnya sendiri untuk menjual produk-produknya. Namun di tengah masyarakat yang akrab dengan teknologi, ia pun memanfaatkan penggunaan media sosial.
Selain WhastApp di nomor 085352088676, Ayu juga menggunakan Instagram @ghayda.imy dan @oilku_indramayu, Facebook ghayda store serta Shopee, sebagai media pemasarannya. Hasilnya, semua produknya terpasarkan secara lebih luas, temasuk ke luar wilayah Kabupaten Indramayu.
Perjalanan bisnis Aysa Queen tidak terlepas dari peran bank bjb. Bisnisnya dibantu bjb KUR. Proses pengajuan bjb KUR relatif mudah. Kala itu, Ayu mengajukan pinjaman KUR ke bank bjb Kantor Cabang Indramayu.
Skema pinjaman modal Aysa Queen selaras dengan produk yang dimiliki bank bjb. bjb KUR adalah fasilitas pinjaman yang diberikan kepada pelaku usaha, baik perorangan, badan usaha atau kelompok usaha dengan skala mikro kecil dan menengah.
Keunggulan bjb KUR adalah suku bunganya kompetitif dan bebas biaya provisi. bank bjb berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta bank bjb merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Informasi lebih lanjut mengenai bjb KUR dapat diperoleh dengan mengunjungi kantor cabang bank bjb terdekat, atau melalui call center bjb Call 14049 atau kunjungi website resmi bank bjb infobjb.id/KUR.
"Kami ucapkan terimakasih banyak kepada bank bjb yang selalu support, hingga bisnis kami tumbuh dan berkembang dan semakin dikenal secara nasional,’’ tandasnya.
advertorial
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
