Depresi pascapandemi (ilustrasi) | Pixabay/People

Medika

Mengatasi Depresi yang Masih Terasa Meski Pandemi Telah Berlalu

Pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa depresi.

Pandemi Covid-19 memang telah berlalu, tapi imbasnya pada kesehatan masih terasa bagi banyak orang. Tak cuma kondisi fisik, pandemi juga berkontribusi pada kondisi kesehatan mental.

Terbukti dari jumlah kasus gangguan kesehatan mental yang terpantau melonjak. Berdasarkan data Satgas Covid-19 pada 2022, kasus depresi, ansietas atau gangguan kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) meningkat saat pandemi. Kenaikan kasus itu tercatat 60 persen untuk depresi, 60 persen untuk ansietas, dan 70 persen pada PTSD.


Head of Business and Marketing Clinics Prodia, Nelly Sari, menyebutkan, ada berbagai tanda gangguan kesehatan mental yang bisa terlihat dari luar. Misalnya, perubahan nafsu makan, perubahan kebiasaan tidur, hingga peralihan suasana hati yang ekstrem.


"Faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental pun beragam, mulai dari faktor eksternal, seperti polusi, macet, kurangnya sistem pendukung, serta faktor internal," ujar Nelly pada kegiatan "Prodia Meet The Press", di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Nelly menyampaikan, kesehatan mental sangat perlu dijaga, sebab sangat berkaitan dengan kesehatan fisik. Para peneliti telah sepakat bahwa kesehatan mental yang buruk bisa menjadi faktor dari penyakit kronis.


Orang dengan gangguan kesehatan mental yang serius berisiko tinggi mengalami penyakit kronis. Begitu pun sebaliknya, orang yang mengidap penyakit kronis berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental.


Nelly mencontohkan, depresi dapat meningkatkan risiko hipertensi yang diidap seseorang menjadi semakin tidak terkendali. Contoh lain, gangguan kesehatan mental hampir selalu diiringi dengan gangguan tiroid.

photo
Depresi masih kerap terjadi meski pandemi telah berlalu (ilustrasi) - (Pixabay)


Sebagian besar pengidap kanker pun kerap mengalami gangguan kesehatan mental, seperti merasa takut atau khawatir berlebihan bahwa pengobatan yang dilakukan tidak akan berhasil. Karena itu, koneksi antara kesehatan mental dan keinginan untuk sembuh amat besar.


"Pengelolaan mental pasien pada penyakit kronis sangat penting dalam menjamin pasien konsisten dalam menjalankan terapinya," ujar Nelly. Untuk mencegah seseorang terhindar dari gangguan kesehatan mental, Nelly menyarankan membuat keputusan untuk hidup lebih sehat, menghindari rokok dan alkohol, olahraga rutin, konsumsi makanan sehat, dan mengecek kesehatan secara berkala.


Pemeriksaan Laboratorium 


Saat terindikasi mengidap gangguan kesehatan mental, sebagian orang mungkin berpikir solusinya adalah langsung berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Namun, pakar menyebutkan pula perlunya melakukan tes laboratorium.


Hal itu diulas pada momen "Prodia Meet The Press" beberapa waktu lalu. Pengecekan laboratorium dibutuhkan karena ada faktor-faktor kesehatan yang mendasari dan berkontribusi pada berbagai gejala gangguan kesehatan mental.


"Peranan tes laboratorium adalah memastikan bahwa gejala kesehatan mental yang timbul bukan merupakan dampak dari salah satu penyakit. Jadi, bisa mengeliminasi atau menyingkirkan kemungkinan tersebut," kata Business & Marketing Director Prodia, Indriyanti Rafi Sukmawati.


Bagaimana alurnya? Indriyanti menyampaikan, seseorang yang merasa mengembangkan kondisi kesehatan mental tertentu biasanya akan konsultasi dengan psikiater, psikolog, atau dokter. Dari hasil konsultasi itu, kerap profesional medis yang merekomendasikan tes laboratorium apa saja yang memang dibutuhkan.


Tim Prodia menjelaskan, ada belasan tes darah yang bisa memberikan informasi pendukung mengenai kondisi kesehatan mental. Deretan tes laboratorium itu antara lain prohealthy gut (PHG), HbA1c atau tes gula darah, pemeriksaan tiroid (TSHs), hsCRP, amino acid profile, omega profile, vitamin D, vitamin B12, B1, B6, folic acid, zinc dan selenium Mg, homocysteine, estradiol, serta cortisol.


Sebagai contoh, penyakit tiroid dan depresi bisa memunculkan ciri serupa, termasuk lemas, mudah lelah, serta gangguan tidur. Dengan melakukan tes laboratorium, akan diketahui apakah gejala itu berkaitan dengan tiroid. Jika tidak, bisa mengeliminasi akar masalah tersebut dan berlanjut mendapat penanganan dari pakar kesehatan jiwa.


Begitu pula dengan pemeriksaan lain, seperti pengecekan kadar vitamin. Pasalnya, defisiensi vitamin D berpotensi menimbulkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh, termasuk pada suasana hati. Jika memang tubuh tidak kekurangan vitamin, yang diketahui dari hasil laboratorium, profesional medis dapat melanjutkan penanganan kondisi pasien terkait aspek psikisnya.

 

 
Kesehatan mental sangat perlu dijaga, karena juga berkaitan dengan kesehatan fisik. 
 
NELLY SARI, Head of Business and Marketing Clinics Prodia. 
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Tidur Malam dan Seni Mengelola Depresi

Gen Z memiliki level kerentanan stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

SELENGKAPNYA

Terapi Seni Penawar Kesehatan Mental Bagi Perempuan Afghanistan

Organisasi kesehatan memperkirakan setengah dari 40 juta orang Afghanistan menderita tekanan psikologis.

SELENGKAPNYA

Polusi dan Kesehatan Mental yang Memburuk

Polusi udara yang terhirup masuk ke saluran pernapasan dapat memicu terjadinya perubahan pada area-area otak yang mengontrol emosi.

SELENGKAPNYA

Marak Perundungan, Revolusi Mental Gagal?

Sebanyak 16 kasus perundungan jadi sorotan sejak Januari.

SELENGKAPNYA