Pelajar memakai busana tari merak saat Festival Praktik dan Peresmian Tugu Sekolah Model Profil Pelajar Pancasila Jabar Masagi di SMAN 25, Jalan Baturaden, Rancasari, Kota Bandung, Kamis (24/11/2022). | Edi Yusuf/Republika

Opini

Darurat Pendidikan Karakter

Pengelola lembaga pendidikan harus mengembalikan pendidikan pada rohnya.

MUHTADIN AR, Kepala Penjaminan Mutu Pelatihan Pusdiklat Teknis Kemenag

Belum hilang keheranan kita atas perilaku sekelompok pelajar di Tapanuli Selatan yang menendang seorang nenek tua, kini beredar video seorang pelajar yang mengumpat dan berperilaku sangat tidak sopan di hadapan para guru dan aparat penegak hukum.

Dua cerita ini melengkapi rentetan tindakan kurang terpuji yang melibatkan anak-anak sekolah. Lalu, mengapa tindakan kurang terpuji, perundungan, juga tindakan kekerasan banyak dilakukan anak sekolah? Lalu, apa sebenarnya output pendidikan?

Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan, output tertinggi proses pendidikan sesungguhnya karakter peserta didik, kepribadiannya, bukan keberhasilannya melanjutkan ke sekolah atau perguruan tinggi favorit, atau mendapatkan pekerjaan bergaji besar.

Itulah mengapa pendidikan harus dilakukan dalam waktu lama dan berjenjang. Ungkapan di atas oleh sebagian kalangan dianggap tidak relevan pada zaman teknologi ini. Argumennya tegas, untuk apa pendidikan harus dilakukan bertele-tele?

 

 
Itulah mengapa pendidikan harus dilakukan dalam waktu lama dan berjenjang.
 
 

 

Bukankah pengetahuan sekarang mudah didapat dan ada di mana-mana? Pendidikan lama hanya buang-buang waktu, dan tidak efektif. Benar, tapi argumen semacam ini hanya cocok jika output pendidikan adalah kognisi, pengetahuan semata.

Bahkan, sangat benar karena pada era teknologi serbadigital tak ada hal sulit. Hanya dengan satu jari, semua yang kita inginkan terjawab termasuk ilmu pengetahuan. Namun, justru pada posisi ini pendidikan sebagai tempat membentuk karakter menemukan relevansinya.

Justru pada saat pengetahuan mudah didapat, pendidikan tak perlu lagi "ngoyo" menjadikan peserta didik dijejali beragam informasi. Mereka bisa mendapatkannya sendiri, sekalipun tidak diarahkan.

Karena itu, pendidikan terutama para pendidik, harus mulai berani mengembalikan tujuan penyelenggaraan pendidikan, yaitu membentuk peserta didik berkarakter, berakhlak, bermoral, bertanggung jawab. Bukan peserta didik yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

 
Para pengelola lembaga pendidikan harus berani mengembalikan pendidikan pada rohnya, mendidik dan membentuk karakter.
 
 

Para pengelola lembaga pendidikan harus berani mengembalikan pendidikan pada rohnya, mendidik dan membentuk karakter. Harus mereka tanamkan, pendidikan bukan lembaga kursus yang fokus pada kemampuan peserta didik menjawab soal ujian atau menang olimpiade.

Ini perlu diingatkan kepada semua stakeholder pendidikan. Pentingnya pembentukan karakter sekarang seolah hilang dari dunia pendidikan formal kita. Mayoritas (untuk tidak mengatakan semuanya) tidak ada yang peduli dengan pembentukan karakter.

Lembaga-lembaga pendidikan kita lebih berorientasi pada kemampuan kognitif siswa. Semua fokus pada prestasi murid, juara  ini itu, atau diterima di perguruan tinggi favorit, lain tidak.

Inilah mengapa kita harus bersuara, jika kondisi ini dipertahankan, 10 atau 20 tahun yang akan datang, negeri kita hanya dipenuhi generasi yang kemampuan akademiknya bagus, tapi tidak memiliki karakter keindonesiaan yang santun, bertanggung jawab, juga berbudi luhur.

 
Kita bisa lihat sejenak keadaan di lembaga pendidikan kita, terutama pendidikan formal, betapa banyak anak kehilangan hormat pada gurunya.
 
 

Kita bisa lihat sejenak keadaan di lembaga pendidikan kita, terutama pendidikan formal, betapa banyak anak kehilangan hormat pada gurunya. Pendidikan lalu tak ubahnya seperti lembaga profit berbasis transaksional.

Orang tua selalu membela "kelakuan" anak karena mereka merasa telah membayar. Mendidik lalu seolah-olah tanggung jawab guru dan sekolah semata.

Tidak ada sedikit pun kegamangan atas karakter anaknya, karena yang terpenting angka-angka, mampu meneruskan ke sekolah favorit, atau mendapatkan pekerjaan bergaji besar.

Sekarang, UU Sistem Pendidikan Nasional akan direvisi. Namun, paling banyak didiskusikan hanya menyangkut "kesejahteraan" guru, bukan output peserta didik. Lalu kepada siapa kita menyandarkan pendidikan karakter?

Kurikulum Merdeka Belajar sebenarnya memberikan tawaran menarik, yakni lahirnya profil Pelajar Pancasila. Kurikulum ini mengandaikan output pendidikan ke depan adalah pelajar yang berperilaku sesuai nilai-nilai Pncasila yang bertumpu pada enam ciri.

 
Kurikulum Merdeka Belajar sebenarnya memberikan tawaran menarik, yakni lahirnya profil Pelajar Pancasila.
 
 

Yaitu, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bernalar kritis, bergotong royong, mandiri, dan kreatif. Tak hanya itu, pembentukan Profil Pelajar Pancasila ini bahkan disetarakan 20-30 persen jam pembelajaran.

Namun yang harus digarisbawahi, pembentukan karakter adalah pembentukan ekosistem karakter di dalam satuan pendidikan, yaitu school culture bukan melalui seperangkat aturan yang memaksa siswa dan guru menjalaninya.

Artinya, ekosistem di lingkungan sekolah betul-betul memberikan jaminan, pendidikan karakter tertanam dan mengakar ke dalam diri siswa, mulai dari kelas, kegiatan olahraga, makan di kantin sekolah, kegiatan kesiswaan.

Jika satuan pendidikan tidak menciptakan ekosistem pendidikan karakter, pentingnya pendidikan karakter hanya akan menjadi slogan. Bisa dilihat dan dibaca, tetapi tidak berdampak untuk bangsa ini.

Prangko, Antikorupsi, dan Pendidikan Kita

Korupsi dalam pendidikan merusak semua sendi dan tatanan kehidupan.

SELENGKAPNYA

Digitalisasi BPRS Makin Potensial

Layanan harus diperluas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

SELENGKAPNYA

Blacklist Orang Bermasalah di Perusahaan Pelat Merah

Direksi dan komisaris yang diberhentikan karena kesalahan tidak memiliki kesempatan lagi di BUMN.

SELENGKAPNYA