CEO ALAMI Group Dima Djani. | Republika/Prayogi

Ekonomi

Digitalisasi BPRS Makin Potensial

Layanan harus diperluas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

JAKARTA -- Potensi digitalisasi bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) semakin terbuka berkat kolaborasi dan dukungan regulator. Selama ini, kapasitas BPRS yang terbatas selalu menjadi hambatan untuk berkembang. 

CEO Alami Group Dima Djani mengatakan, BPRS memang berada dalam posisi terjepit dengan adanya industri teknologi finansial (tekfin). Kondisi itu membuat BPRS harus lebih berinovasi untuk bisa bersaing di pasar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ALAMI - Sharia-Driven Fintech (@alamisharia)

"Awal mula kami mengakuisisi BPRS juga karena ingin memberikan nilai tambah bagi industri ini. Kita masuk untuk memperkuat model bisnisnya," kata Dima dalam peluncuran Hijra Bank App di Jakarta, Selasa (6/12).

Menurut dia, industri BPRS paling membutuhkan sentuhan teknologi agar bisa lebih berkontribusi pada perekonomian. Alami pun lebih memilih mengakuisisi BPRS daripada bank umum syariah (BUS) seperti yang dilakukan beberapa perusahaan tekfin lainnya.

Aplikasi Hijra Bank juga telah diluncurkan sebagai mobile banking dari BPRS Hijra Alami. Itu membuatnya menjadi bank digital pertama yang berasal dari BPRS. Platform tersebut dibuat untuk menemani keseharian masyarakat, khususnya generasi muda.

Aplikasi Hijra Bank mengusung tampilan yang sederhana, dilengkapi biometrik, proses onboarding sederhana, tabungan akad wadiah, dan terdapat konten literasi serta keislaman.

Menurut dia, proses peluncuran Hijra Bank App dan transformasi digital BPRS ini akan memakan waktu hingga dua tahun. Ke depannya, fitur dan layanan akan terus dikembangkan, seperti QRIS dengan tagging halal, BI-Fast, dan SNAP. 

 
 
Digitalisasi BPRS dengan kolaborasi akan semakin memudahkan ekspansi dan juga meningkatkan daya saing.
 
 

Transformasi BPRS ini dimulai pada 2021 saat Alami Group mengakuisisi BPRS Cempaka Al-Amin yang kemudian bertransformasi menjadi Hijra Bank. "Hijra Bank memiliki beberapa fitur yang unik dan dapat mengajak nasabah pada misi kebaikan, salah satunya Sedekah Sign Up. Jadi, saat nanti mendaftarkan akun, pengguna langsung mendapatkan voucer, tapi ini harus disedekahkan ke lembaga sosial," katanya.

Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 1 DKI Jakarta dan Banten Roberto Akyuwen mengatakan, model bisnis BPRS dan peer to peer lending (P2P) saling menguatkan. BPRS yang merupakan industri dengan pengawasan ketat melengkapi P2P yang secara kelembagaan masih lemah. Sebaliknya, P2P yang lebih lincah dapat melengkapi pergerakan BPRS yang terbatas.

"Digitalisasi BPRS dengan kolaborasi akan semakin memudahkan ekspansi dan juga meningkatkan daya saing," katanya.

Ia menilai pendekatan Alami dengan mengakuisisi BPRS adalah tindakan yang tepat. Itu akan memperkuat industri BPRS hingga tidak kalah dengan BUS.

Ke depannya, ia berpesan, layanan harus diperluas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal itu mulai dari pengembangan credit scoring yang lebih baik serta memenuhi standardisasi sistem pembayaran agar bisa masuk ke berbagai ekosistem.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bank Indonesia (@bank_indonesia)

Dukungan regulator dinilai semakin ramah terhadap industri BPRS. Ahli ekonomi dan keuangan syariah Mulya E Siregar mengatakan, perubahan regulasi perbankan khususnya untuk BPRS kini lebih dinamis. "Regulasi OJK dan BI kini sudah lebih market friendly sehingga memudahkan BPRS untuk go digital," katanya.

Menurut dia, perlu waktu yang lama bagi BPRS untuk go digital. Maka dari itu, perlu keberpihakan dan dukungan dari para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah sebagai pembuat regulasi.

Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Ita Rulina menyampaikan, kolaborasi tekfin syariah dan BPRS akan menjadi pendorong pengembangan ekosistem ekonomi syariah nasional. Digitalisasi adalah kunci agar ekosistem ini bisa melaju kencang.

BI yang menjadi regulator di sistem pembayaran melihat kebutuhan digitalisasi semakin tinggi. Ita mengatakan, transaksi pembelian produk halal di niaga daring per September 2022 naik 40,43 persen (yoy) menjadi Rp 1,5 triliun. "Ini jadi bukti bahwa digitalisasi di ekosistem ekonomi syariah sangat krusial sehingga kita harus ngebut," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Hijra Bank ID (@ikuthijra)

Ia juga mengapresiasi BPRS Hijra Alami yang meluncurkan Hijra Bank App sebagai bagian bagi peningkatan nilai tambah BPRS. Menurut dia, Hijra Bank sebagai BPRS pertama yang hijrah sepenuhnya ke digital harus dapat menggerakan halal value chain

Ia berpesan agar Hijra Bank menjadi lokomotif yang mendidik masyarakat untuk semakin sadar dengan nilai-nilai halal. Itu menjadi kunci untuk menumbuhkan sisi permintaan pada ekonomi halal.

Memperkuat Kontribusi BPRS dalam Ekosistem Syariah

Saat ini, belum banyak BPRS yang masuk ke ranah pembiayaan properti.

SELENGKAPNYA

Rupiah Digital Terhubung dengan Mata Uang Global

BI belum memberikan batas waktu peluncuran rupiah digital.

SELENGKAPNYA

Bandara Lombok dan Bali tak Terpengaruh Semeru

Personel terus bersiaga untuk mengantisipasi adanya kemungkinan lain erupsi.

SELENGKAPNYA