Pengunjung memotret uang Rupiah kertas tahun emisi 2022 saat pembukaan Festival Simfoni Rupiah 2022 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/8/2022). | ANTARA FOTO/Moch Asim

Ekonomi

Rupiah Digital Terhubung dengan Mata Uang Global

BI belum memberikan batas waktu peluncuran rupiah digital.

JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memastikan, rupiah digital ke depannya akan terkoneksi dan terintegrasi dengan semua mandat penerbitan uang Bank Indonesia. Tidak hanya di dalam negeri, rupiah digital juga terkoneksi dengan mata uang luar negeri karena dikembangkan bersamaan dengan inisiatif mata uang digital bank sentral kawasan Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, secara umum rupiah digital sama dengan rupiah yang beredar saat ini. "Ini sama-sama bisa digunakan untuk alat pembayaran, operasi moneter dan pasar uang, serta transaksi antarbank. Bedanya, rupiah digital itu bentuknya coding yang terenkripsi," kata Perry dalam sosialisasi yang digelar BI, di Jakarta, Senin (5/12).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bank Indonesia (@bank_indonesia)

Ia menyampaikan, sesuai dengan undang-undang yang berlaku, hanya BI yang berhak mengeluarkan mata uang digital secara sah. Keberadaan uang digital ini juga akan melengkapi kebutuhan pembayaran masyarakat dalam industri teknologi.

Rupiah digital tidak langsung menghapuskan penggunaan rupiah yang berlaku sekarang. Perry mengatakan, nantinya ada tiga cara pemakaian uang yang bisa dipilih sesuai kebutuhan masing-masing.

Di antaranya, pemakaian secara fisik atau melalui rupiah kartal berupa kertas dan koin, uang berbasis rekening yang saat ini penggunaannya berbasis kartu, dan kemudian rupiah digital. "Rupiah digital akan kita kembangkan fokusnya secara wholesale dulu, lalu ke retail. Ini kita kerjakan paralel," katanya.

Rupiah digital akan memiliki siklus hidup yang seluruhnya digital atau terkode enkripsi. Kepala Grup Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Ryan Rizaldy menjelaskan, pergerakan rupiah digital dibagi dalam tiga tahap, yakni penerbitan, distribusi, dan pemusnahan. Pertama, penerbitan rupiah digital hanya bisa dilakukan oleh Bank Indonesia melalui platform Khazanah Digital Rupiah.

 
 
Ini sama-sama bisa digunakan untuk alat pembayaran, operasi moneter dan pasar uang, serta transaksi antarbank. Bedanya, rupiah digital itu bentuknya coding yang terenkripsi.
 
 

Khazanah Digital Rupiah adalah platform yang dapat diakses oleh bank dan nonbank terpilih yang selanjutnya disebut wholesaler dan retailer. Khazanah tersebut juga bisa diakses oleh aktivitas non-wholesale, seperti untuk aktivitas moneter dan pasar uang.

Penerbitan rupiah digital akan dimulai dari wholesaler yang merupakan pihak bank dan nonbank yang akan dipilih BI secara ketat. Lembaga tersebut harus memiliki kriteria yang ditentukan, mulai dari memenuhi standar modal, kapasitas, kecakapan teknologi, hingga keamanan yang canggih.

"Lahirnya rupiah digital dengan menukarkan dana yang ada di rekening giro para wholesaler ini. Jumlahnya on demand saja, lalu akan langsung terkonversi menjadi rupiah digital dan uang kartalnya hilang," katanya.

Saat keluar dari khazanah, dana tersebut sudah menjadi rupiah digital. Wholesaler ini kemudian bisa menyebarkan ke retailer agar bisa diakses oleh masyarakat umum.

 
 
Lahirnya rupiah digital dengan menukarkan dana di rekening giro para wholesaler ini. Jumlahnya on demand, lalu akan langsung terkonversi menjadi rupiah digital dan uang kartalnya hilang.
 
 

Dalam konteks lintas negara, inovasi ini juga memungkinkan konversi tanpa harus melalui dolar AS. Selanjutnya, proses pemusnahan akan dilakukan secara terbalik. Masyarakat bisa menukarkan lagi rupiah digitalnya secara langsung ke rupiah kartal dan otomatis terkonversi.

Ia menggambarkan, efisiensi rupiah digital mirip seperti yang sudah berjalan saat ini. Masyarakat hanya perlu membawa ponsel yang berisi uang digital.

BI belum memberikan batas waktu peluncuran rupiah digital. Asisten Gubernur Bank Indonesia dan Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta berharap, peluncuran rupiah digital bisa dilaksanakan dalam waktu dekat.

"Kita harap tidak lama lagi, tapi saya tidak mau janji juga. Sesiapnya saja karena masih banyak yang harus dilakukan," kata Filianingsih.

Saat ini, pengembangan infrastruktur terus berjalan, termasuk dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan masukan. BI juga sedang menentukan kriteria untuk wholesaler dan retailer. Wholesaler diperkirakan bisa berjumlah sekitar 20 lembaga bank maupun nonbank.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Sekretariat Negara (@kemensetneg.ri)

BI juga terus memantau perkembangan pengembangan mata uang digital di negara lain. Dia berharap, interkoneksi mata uang digital antarnegara bisa dilakukan nantinya.

Fili mengatakan, masyarakat yang punya rupiah digital ini akan menyimpannya di dompet digital. Ini dapat diibaratkan seperti rekening bank. Menurut dia, konsep tersebut juga masih terus dimatangkan dan masyarakat atau industri dapat memberikan masukan.

'Zero Covid' dan Publik yang Marah

Tertekan, tidak berdaya, dan marah dampak pemberlakuan kebijakan lockdown di Cina yang berujung rusuh.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Hukum Syariah Paroan Sawah?

Paroan sawah merupakan kerja sama antara pemilik sawah dan orang yang punya keterampilan.

SELENGKAPNYA

Berbaik Sangka kepada Allah

Tidak ada yang berhak menanyakan tentang apa ditakdirkan dan ditentukan-Nya

SELENGKAPNYA