Jenazah Amir Moatasem Mahmoud Odeh (25 tahun) yang yang syahid dibunuh pemukim Israel dipeluk keluarganya di RS Rafedya di kota Nablus, Tepi Barat, 14 Maret 2026. | EPA/ALAA BADARNEH

Internasional

Kekejaman Israel Masih Menjadi-Jadi di Palestina

Badai pasir landa Gaza, terbangkan tenda pengungsi.

TEPI BARAT – Serangan militer ke Iran dan Hizbullah tak juga mengurangi kekejaman Israel di Palestina. Terkini, seorang pria Palestina, istrinya, dan dua anak mereka dibunuh selepas tengah malam, Ahad (15/3/2026) diselatan Tubas, Tepi Barat. Sementara dua anak mereka lainnya terluka akibat pecahan peluru.

Kantor berita WAFA melaporkan bahwa pasukan khusus Israel menyusup ke kota tersebut, diikuti oleh bala bantuan militer yang datang dari Pos Pemeriksaan Ein Shibli dan Pos Pemeriksaan Tayasir. 

Pasukan melepaskan tembakan ke sebuah kendaraan, menewaskan Ali Khaled Bani Odeh (37 tahun), istrinya Waad Othman Bani Odeh (35), dan dua anak mereka, Mohammed (5), dan Othman (7). Dua anak mereka yang lain, Mustafa, 8, dan Khaled, 11, menderita luka ringan akibat pecahan peluru di kepala dan wajah.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan pasukan Israel mencegah krunya menjangkau korban luka di dalam kendaraan dan memaksa mereka meninggalkan daerah tersebut sebelum kemudian mengizinkan mereka mengambil empat jenazah – seorang pria, seorang wanita, dan dua anak – bersama dengan dua anak yang terluka.

Dalam insiden terpisah, pasukan Israel juga menangkap Mahmoud Hassan Bani Odeh dan putranya Hassan (19), setelah menggerebek rumah mereka di Tammun. Mereka juga menahan anak Yaman Hossam Bani Odeh (15).

photo
Jenazah Amir Moatasem Mahmoud Odeh (25 tahun) yang yang syahid dibunuh pemukim Israel dipeluk keluarganya di RS Rafedya di kota Nablus, Tepi Barat, 14 Maret 2026. - (EPA/ALAA BADARNEH)

Sumber keamanan dan medis Palestina mengatakan kepada WAFA bahwa seorang pria berusia 36 tahun dari kota Beit Ula, barat laut Hebron, juga ditembak dengan peluru tajam di kakinya setelah tentara Israel menembaki dia di dekat penghalang segregasi Israel yang dibangun di tanah Palestina di Tarqumiya.

Sumber tersebut menambahkan bahwa pria yang terluka tersebut dipindahkan ke Rumah Sakit Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina di kota Hebron, di mana kondisinya digambarkan dalam kondisi sedang.

Di Nablus, seorang pemuda Palestina syahid pada Sabtu malam dan dua lainnya terluka oleh peluru tajam, sementara seorang lainnya dipukuli, dalam serangan oleh penjajah di kota Qusra.

Sumber medis mengumumkan pembunuhan Amir Moatasem Mahmoud Odeh (25), setelah dia ditembak di dada dengan peluru tajam. Dua orang lainnya terluka akibat tembakan tajam di bagian lutut dan paha, sementara ayah dari pria yang terbunuh itu diserang dan dipukuli dalam penyerangan tersebut.

Walikota Qusra, Hani Odeh, mengatakan kepada WAFA bahwa pemukim bersenjata menyerang daerah Al-Karak di sebelah barat kota dan melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah dan para pemuda, melukai empat warga dengan peluru tajam dan pemukulan.

Korban luka awalnya dipindahkan ke pusat medis setempat untuk perawatan. Odeh menambahkan bahwa Amir Odeh dan orang lain yang terluka kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Pemerintah Rafidia di Nablus, di mana dokter mencoba melakukan resusitasi, namun ia kemudian dinyatakan meninggal.

 

Badai Pasir Landa Gaza

Angin yang dipenuhi debu menyapu Jalur Gaza pada hari Sabtu. Hal ini menambah penderitaan ribuan pengungsi Palestina yang tinggal di tenda-tenda usang setelah rumah mereka hancur akibat serangan Israel.

Jurnalis Muhammad Rabah dari Gaza melaporkan bahwa kondisi cuaca badai menyebar ke seluruh wilayah tersebut. Pasir dan debu menembus tenda-tenda dan membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih sulit di tempat penampungan yang bahkan tidak memiliki perlindungan paling dasar sekalipun.

Penampakan badai pasir melanda wilayah Gaza sejak Sabtu (14/3/2026). - (Muhammad Rabah/Dok Republika)  ​

Warga yang mengungsi – terutama mereka yang menderita penyakit pernapasan kronis – menyuarakan keprihatinan mengenai memburuknya kondisi kesehatan akibat badai tersebut. Terlebih di tengah tidak adanya tindakan pencegahan dan perawatan medis yang memadai di dalam tempat penampungan yang rapuh.

Meskipun ada perjanjian gencatan senjata, krisis kemanusiaan di Gaza belum menunjukkan perbaikan nyata karena kegagalan Israel memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian tersebut.  Israel tak kunjung mengizinkan masuknya material tempat berlindung seperti tenda dan rumah mobil, serta perlengkapan konstruksi yang diperlukan untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur.

Perjanjian tersebut mengakhiri agresi skala besar yang berlangsung hampir dua tahun, menyebabkan puluhan ribu orang tewas dan terluka serta menyebabkan kehancuran besar di seluruh Jalur Gaza.

Palestine Chronicles melaporkan, dua warga Palestina syahid dan dua lainnya terluka saat fajar pada hari Sabtu setelah serangan Israel menargetkan kantor polisi di sebelah barat Khan Yunis di Jalur Gaza selatan. Sumber medis mengidentifikasi para korban sebagai Ahmed Mohammed Al-Maghrabi (35) dan Musab Ghazi Al-Raqab (43).

Serangan ini merupakan bagian dari pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang dicapai Oktober lalu.

photo
Penampakan badai pasir melanda wilayah Gaza sejak Sabtu (14/3/2026). - (Muhammad Rabah/Dok Republika)

Sebelumnya pada Jumat malam, tiga warga Palestina, termasuk dua remaja, syahid dalam serangan udara Israel yang menargetkan sekelompok warga sipil di Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza.

Sumber medis menyebutkan para korban terkena rudal Israel saat berada di Jalan Mushtaha. Para korban diidentifikasi sebagai: Mahmoud Saher Al-Siqli (17), Younis Sa’ed Ayad (17), dan Abdullah Tayseer Shomer (20). Jenazah mereka diangkut ke Rumah Sakit Al-Ma'madani di Kota Gaza, menurut pejabat medis.

Sumber-sumber Palestina yang dikutip oleh Quds News Network mengatakan serangan itu terjadi di wilayah di luar kendali Israel, meskipun ada perjanjian gencatan senjata. Israel masih menduduki lebih dari 50 persen Jalur Gaza, sesuai ketentuan gencatan senjata.

Sejak perjanjian tersebut berlaku, penembakan dan tembakan Israel terus berlanjut hampir setiap hari. Sumber-sumber Palestina menyebutkan pelanggaran tersebut mengakibatkan 651 warga Palestina tewas dan 1.741 luka-luka.

Antara 7 Oktober 2023 hingga 7 Maret 2026, lebih dari 1.060 warga Palestina, termasuk setidaknya 231 anak-anak, dibunuh di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, oleh pasukan atau pemukim Israel. Hal ini menunjukkan peningkatan kekerasan yang signifikan di wilayah tersebut bersamaan dengan genosida di Gaza.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat