Nasional
RI Kekurangan 70 Ribu Dokter Spesialis, Tiga Kampus Swasta Tambah Prodi Baru
Distribusi dokter spesialis masih timpang.
JAKARTA — Kekurangan dokter spesialis masih menjadi tantangan dalam sistem kesehatan nasional. Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menyebut Indonesia masih kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis, sementara kebutuhan layanan spesialistik terus meningkat dan distribusinya belum merata di berbagai daerah.
Di tengah kondisi tersebut, tiga fakultas kedokteran universitas swasta di Jakarta dan sekitarnya meluncurkan program studi (prodi) dokter spesialis baru dalam kerangka penguatan Academic Health System (AHS) Wilayah II Jakarta–Banten.
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI membuka Program Studi Spesialis Penyakit Dalam, melengkapi Prodi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer yang telah berjalan sejak 2022. Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya juga membuka Prodi Spesialis Penyakit Dalam, sedangkan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) meluncurkan Program Studi Spesialis Ilmu Bedah.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memberikan izin penyelenggaraan pendidikan spesialis kepada ketiga institusi tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas kapasitas produksi dokter spesialis.
Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal, menilai pembukaan prodi spesialis harus dilihat sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan nasional, bukan sekadar proses administratif.
“Kita tahu acara ini bukan sekedar acara seremonial menyerahkan sebuah sertifikat administratif. Tapi sebetulnya jauh dibalik itu adalah upaya kita untuk memperkokoh tonggak pembangunan kesehatan nasional kita,” ujar Fasli dalam sambutannya di Auditorium Al-Quddus, Universitas YARSI, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ia menyoroti bahwa distribusi dokter spesialis masih timpang, baik dari sisi jumlah maupun kualitas layanan. Indonesia memiliki lebih dari 7.500 kecamatan, 514 kabupaten/kota, dan 38 provinsi yang membutuhkan layanan kesehatan spesialistik.
“Kita akan berupaya menjaga amanat ini dan berupaya bahwa pendidikan spesialis bukan hanya lanjutan saja dari pendidikan dokter tapi ini adalah sebuah lompatan kemampuan profesi klinik yang memang tidak bisa didapat dengan cara lain,” ujarnya.
Kepala Prodi Spesialis Penyakit Dalam FK Universitas YARSI, Dr dr Fatimah Eliana, menyatakan peserta didik akan menjalani residensi di sejumlah rumah sakit pendidikan, antara lain RS YARSI, RS PELNI, RSUD Pasar Rebo, dan RSUD Kota Bekasi.
Penambahan program studi ini diharapkan meningkatkan kapasitas pendidikan dokter spesialis dalam beberapa tahun ke depan. Namun, percepatan jumlah lulusan tetap perlu diikuti kebijakan distribusi dan penempatan yang efektif agar kesenjangan layanan kesehatan antardaerah dapat dikurangi.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
