vp,,rm
KH Ahmad Dahlan, sang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. | DOK MUHAMMADIYAH

Tokoh

Kiai Dahlan Melawan Bodoh

Ahmad Dahlan sesungguhnya sedang mendobrak kejumudan beragama dan berkehidupan umat.

OLEH PROF HAEDAR NASHIR, Ketua Umum PP Muhammadiyah

Kauman heboh. Kampung di sekitar Kraton Yogyakarta itu geger gara-gara shaf untuk shalat berjamaah di Masjid Gedhe yang ada di kompleks Alun-Alun Utara itu digarisi kapur putih sejajar arah kiblat ke arah barat laut yang berbeda dari biasanya. Para penghulu dan jamaah tak berkenan dengan ulah yang mengganggu kemapanan itu.

Bidikan tersangka tertuju ke Kiai Haji Ahmad Dahlan, yang memang tengah memelopori pembaruan Islam di kampung bersejarah di kota Yogyakarta Hadiningrat itu. Meski konon pelaku lapangan yang memberi garis putih itu murid- muridnya, tetapi Ahmad Dahlan yang harus bertanggung jawab.

Ahmad Dahlan disidang para kiai sepuh. Dahlan muda mencoba memberi argumentasi kuat tentang arah kiblat yang benar menurut ajaran Islam dan ilmu falak. Namun, para penghulu tetap kukuh dengan pendapatnya yang selama ini mereka pahami. Warga Muslim Kauman yang tradisional pun gerah dengan Dahlan.

Kiai Dahlan dan keluarga tidak ingin menimbulkan kehebohan yang mengarah pada konflik sosial di kampungnya sendiri. Didirikanlah langgar sebagai jalan keluar untuk shalat berjamaah dengan arah kiblat yang benar. Namun, warga yang tak bersetuju makin keras, maka dirobohkanlah bangunan masjid kecil atau mushala yang belum selesai itu.

 
Ahmad Dahlan gundah, tapi tidak ingin konflik berkepanjangan.
 
 

Ahmad Dahlan gundah, tapi tidak ingin konflik berkepanjangan. Dia memutuskan untuk pergi dari Kauman dan mencari lahan dakwah baru bagi usaha pembaruannya sebagaimana Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Yasrib. Namun, keluarga mencegahnya dan meminta Dahlan kembali ke kampungnya.

Dahlan memperoleh dukungan kuat dari ke rabat, sahabat, dan murid-muridnya. Dengan se gala proses yang mencair, akhirnya pemba ru an Dahlan diterima masyarakat Kauman. Kam pung berse jarah itu kemudian menjadi kampung Mu ham ma diyah setelah Ahmad Dahlan mendiri kan organisasi Islam modern ini pada 18 November 1912.

Kekuatan akal-suci

Ahmad Dahlan sesungguhnya sedang mendobrak kejumudan dalam beragama dan berkehidupan umat. Kiai muda dari Kauman Yogya itu sosok pencari kebenaran sejati dalam Alquran dan sunah Nabi untuk dihadirkan dalam konteks zaman kekinian.

Dia melakukan pembaruan bukan sekadar aksi yang ad hoc, seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, pelayanan sosial, dan sebagainya. Pembaruannya memiliki dasar berpikir yang kokoh pada pemahaman Islam dengan berbasis akal pikiran maju.

Kiai Dahlan mengajak agar orang Islam menggunakan kecerdasan akal yang sucimurni dan berpikiran maju, sejiwa dengan aqlu salim dan ulil albab dalam Alquran.

 
Ahmad Dahlan sesungguhnya sedang mendobrak kejumudan dalam beragama dan berkehidupan umat.
 
 

Lawan maju dan cerdas ialah bodoh dan jumud. Musuh kemajuan itu kebodohan sebagaimana Nabi mendobrak kejahiliyahan bangsa Arab untuk hidup berperadaban tinggi dalam jiwa Iqra dan akhlak-karimah. Dengan risalah Iqra dan membangun akhlak mulia yang mencerahkan akal budi manusia, Nabi berhasil membebaskan bangsa Arab yang jahiliyah menjadi bangsa yang berperadaban cerah dan mencerahkan dalam puncak risalah al-Madinah al- Munawwarah.

Dari rahim peradaban Madinah itu kemudian Islam berkembang menjadi agama yang membuana dan menciptakan kejayaan peradaban semesta selama berabad-abad di pentas sejarah dunia. Dahlan meneladani jejak kerisalahan Muhammad sehingga organisasi yang didirikannya pada 18 November 1912 (8 Dzulhijah 1330 H) diberi nama Muhammadiyah, pengikut Nabi Akhir Zaman itu. Tradisi Iqra dan jiwa ulil albab yang menghidupkan akal pikiran dan akal budi yang suci-murni digelorakan sebagai napas gerakan Muhammadiyah.

Kiai Dahlan mengingatkan agar orang Islam mengembangkan pemikiran seputar lima hal. (1) Orang itu perlu dan harus beragama. (2) Agama itu pada mulanya bercahaya, berkilaukilauan, akan tetapi makin lama makin suram, padahal yang suram bukan agamanya, akan tetapi manusianya yang memakai agama.

(3) Orang itu harus menurut aturan dari syarat yang sah dan yang sudah sesuai dengan pikiran yang suci, jangan sampai membuat keputusan sendiri. (4) Orang itu harus dan wajib mencari tambahan pengetahuan, jangan sekali-kali merasa cukup dengan pengetahuannya sendiri, apalagi menolak pengetahuan orang lain. (5) Orang itu perlu dan wajib menjalankan pengetahuannya yang utama, jangan sampai hanya tinggal pengetahuan saja (Syukriyanto & Mulkhan, 1985).

Dalam pelajaran keempat dari Tujuh Falsafah Kiai Dahlan sebagaimana dinukil Kiai Hadjid, pendiri Muhammadiyah itu menyatakan, Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersamasama menggunakan akal fikirannya, untuk memikir, bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia.

 
Dahlan menggandrungi dan membumikan kemajuan dalam dunia nyata. Dia selalu menggelorakan agar setiap Muslim menjadi orang yang berkemajuan dalam fondasi Islam.
 
 

Apakah perlunya? Hidup di dunia harus mengerjakan apa? Dan mencari apa? Dan apa yang dituju? Manusia harus meng gunakan fikirannya untuk mengorek si soal i'tikad dan keyakinannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran yang sejati. Karena kalau hidup di dunia hanya sekali ini sampai sesat, akibatnya akan celaka, dan sengsara selamanya.

Pendapat tersebut dikaitkan dengan ayat ke-44 surah al- Furqan yang artinya: Apakah kamu mengira bahwa keba nyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Dahlan menggandrungi dan membumikan kemajuan dalam dunia nyata. Dia selalu menggelorakan agar setiap Muslim menjadi orang yang berkemajuan dalam fondasi Islam. Sejak akhir tahun 1889, Dahlan muda memelopori tajdid dalam jejak pembaruan Islam meluaskan gerakannya ke berbagai bidang, yang kemudian dilembagakan dalam organisasi Muhammadiyah.

Lahirlah lembaga pendidikan modern, gerakan Al-Ma'un, tabligh di ruang publik, mendirikan Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam Indonesia yang progresif, kepanduan Tanah Air yakni Hizbul Wathan, pembaruan zakat, penyeleng garaan haji, dan usaha dakwah lainnya dengan menyebarkan pemahaman keislaman yang berwawasan tajdid untuk menghadapi zaman baru.

Cerdas ber-Indonesia

Dahlan melahirkan Muhammadiyah untuk mencerdaskan dan kemajuan bangsa melawan kebodohan dan kejumudan. Muhammadiyah memelopori gerakan cerdas ber-Indonesia.

 
Dahlan menggandrungi dan membumikan kemajuan dalam dunia nyata.
 
 

Para tokoh Muhammadiyah, yaitu KH Ahmad Dahlan, Agus Salim, KH Mas Mansyur, Ki Bagus Hadikusumo, Ir Soekarno, Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Ir Djuanda, Hamka, dan tokoh-tokoh lainnya; maupun para tokoh 'Aisyiyah yaitu Nyai Walidah Dahlan, Siti Hayyinah, Siti Munjiyah, serta para pemimpin-pemimpin lainnya pasca-kemerdekaan hingga era terakhir, adalah tokoh-tokoh cerdas nan arif bijaksana serta telah berkiprah aktif dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka adalah bapak dan ibu pertiwi yang melahirkan NKRI tercinta ini.

Muhammadiyah yang lahir dari gagasan Ahmad Dahlan secara organisasi telah berbuat senyata-nyatanya untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa. Apa yang selama ini dikerjakan Muhammadiyah telah diakui oleh masyarakat luas dan juga oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan menetapkan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional tahun 1961, dengan pertimbangan:

(1) kepeloporan dalam kebangunan umat Islam Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang harus belajar dan berbuat; (2) memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya, ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan dan beramal bagi masyarakat dan umat; (3) memelopori amal-usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangunan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan (4) melalui organisasi 'Aisyiyah telah memelopori kebangunan wanita bangsa Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Setelah Indonesia merdeka, pada berbagai periode pemerintahan hingga periode reformasi, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negera terus berlanjut. Khidmat kebangsaan ini didorong oleh keinginan yang kuat agar Indonesia mampu melangkah ke depan sejalan dengan cita-cita kemerdekaan.

Inilah bukti bahwa Muhammadiyah benar-benar berkeringat di dalam usahausaha mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa, lebih khusus di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

 
Inilah bukti bahwa Muhammadiyah benar-benar berkeringat di dalam usahausaha mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa, lebih khusus di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
 
 

Muhammadiyah tidak pernah bertangan-hampa. Ketika negara belum hadir di banyak tempat-tempat terjauh, terdepan, dan tertinggal, maka Muhammadiyah hadir mencerdaskan dan memajukan bangsa.

Muhammadiyah meyakini bahwa Indonesia dapat mencapai tujuan untuk menjadi negara dan bangsa berkemajuan di tengah dinamika global sarat tantangan sekaligus dapat menyelesaikan masalahmasalah besar dirinya manakala elite dan warganya cerdas dan maju akal budi, pikiran, dan tindakannya.

Kebijakan-kebijakan negara pun, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif serta institusi kenegaraan lainnya harus dibangun di atas prinsip-prinsip pemikiran yang cerdas dan maju serta tidak terjebak pada kebodohan dan kejumudan.

Kebijakan-kebijakan negara semestinya juga cerdas dan mencerdaskan, sehingga membuat rakyat semakin cerdas hati, pikiran, dan tindakannya, bukan hanya maju kecakapan teknis dan teknologisnya.

Dalam meraih Indonesia berkemajuan di tengah tantangan dunia yang semakin kompetitif di era revolusi industri 4.0 dengan segala masalah kompleks maka diperlukan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul, yakni manusia Indonesia yang berkarakter utama dan berkemampuan tinggi berbasis nilai dan akal budi mulia.

Dalam salah satu frasa lagu Indonesia Raya berkumandang pesan: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Naif jika negara hanya bangga dengan kecakapan teknis dan teknologis, sementara akal-budinya kehilangan sukma utama.

 
Dalam salah satu frasa lagu Indonesia Raya berkumandang pesan: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.
 
 

Generasi milenial sangatlah penting bagi Indonesia ke depan, tapi jangan jadikan negeri ini beraura tidak akil-balig. Tidak cukup memadai juga jika para elite di negeri ini hebat visi instrumentalnya tetapi lemah visi kenegaraan dan kebangsaan yang melintasi.

Negara, elite, dan warga bangsa pun dapat terjebak pada kebodohan akal budi. Mereka yang bodoh tidak sekadar lemah kemampuan pikirannya, tetapi juga akal budi dan visi kehidupannya yang nirmakna.

Dalam Pidato Sidang Tahunan 1921 yang berjudul Tali Pengikat Hidup, Kiai Dahlan menyampaikan pandangan mengapa orang mengabaikan dan menolak kebenaran. Hal itu karena antara lain bodoh, ini yang banyak sekali. Negara sering gaduh oleh hal-hal bodoh akibat pikiran, ujaran, sikap, dan tindakan elite atau warganya sembarangan, spontan, dan bernapas-pendek yang jauh dari kualitas cerdas-berkemajuan.

Polemik berbangsa pun sering terjebak pada satire orang buta melukiskan gajah secara apriori plus hawa nafsu kepentingan egosentris.

Jika ingin menjadikan Indonesia maju, bawalah negeri tercinta ini sebagai negara dan bangsa yang berkecerdasan tinggi di atas fondasi nilai-nilai luhur dan visi kenegaraan yang kokoh sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan daya hidup bangsa yang men jujung tinggi agama, Pancasila, dan kebudayaan bangsa. Artinya, kemajuan Indonesia itu tidak hanya fisik dan lahiriah semata, tetapi harus disertai nilainilai yang cerdas-bermakna.

Indonesia jangan dibangun seperti pabrik yang memproduksi barang-barang kelontongan, yang kehilangan daya hidup dan makna sub stantif. Indonesia itu bernyawa, ujar Soepomo ketika berpidato di BPUPKI tahun 1945, yang oleh para pendiri bangsa dirancangbangun dengan kecerdasan tinggi dan berfondasi nilai-nilai utama yang mesti tergambar dalam wajah negara hari ini!

Disadur dari Harian Republika edisi 24 Nopember 2019

Kasman Singodimedjo, Perumus dan Pejuang NKRI

Kasman selalu menyampaikan arti penting pemuda Muslim untuk mencintai Tanah Air dan memiliki nasionalisme.

SELENGKAPNYA

Masjid Bukan Arena Politik Partisan

Boleh bicara politik di masjid, tapi politik yang mencerahkan dan menyatukan umat.

SELENGKAPNYA

Masa Pencarian Korban Gempa Cianjur Diperpanjang

Tren kasus penyakit pada warga yang mengungsi mulai mengalami penurunan.

SELENGKAPNYA