Puisi Menyulam Cahaya | Daan Yahya/Republika

Sastra

Menyulam Cahaya

Puisi=puisi Khairani Piliang

Oleh KHAIRANI PILIANG

Takhalli

 

Pada dinding usia, pujian tersimpan

sebagai cermin luka kupelihara

kesadaran terjaga

betapa panjang jalan pulang

tiap kali mengepal tangan

pasir berjatuhan

 

kuraih langit

bayangan sendiri menghalangi cahaya

laut memanggil menyeret sunyi

membuat segala yang gaduh

kehilangan tempat sembunyi

 

satu demi satu pakaian kutanggalkan

pernah dijahit dari kesombongan

segala keinginan memahat berhala

di ruang terdalam diri

 

lalu senja datang

membasuh wajah dengan cahaya 

dan aku tahu

perjalanan ini baru saja dimulai

 

Jakarta, 11 Juli 2026

***

 

Tahalli

 

Secuil ruang dalam diri terasa asing

sunyi mengajarkanku 

mendengar embun jatuh

menghitung napas sebagai tasbih 

 

aku belajar memandang laut

sebagai tempat bercermin

memantulkan kekerdilan diri

angin datang membawa aroma asin

setiap hembusnya 

mengikis kerak mengeras dalam dada

 

aku tak lagi tergesa

memberi label pada segala kutemui

kubiarkan doa tumbuh perlahan

menjadi akar menghujam tanah

tiap sujud jadi butiran benih

air mata jadi hujan

bagi tanah-tanah retak

 

Jakarta, 12 Juli 2026

***

 

Di Ambang Tajalli

 

Petang membuka lembaran air

matahari turun sebagai isyarat

bahwa segala yang tampak

sedang belajar pulang ke asalnya

 

di bibir laut

aku menadah pandang

seakan ufuk menyimpan sebuah nama

yang telah lama bersemayam di lubuk ruh

 

ombak mengucap zikir

dengan bahasa tak berhuruf

angin melafaz ayat-ayat gaib

ke setiap helai kain penyelubung tubuh

 

aku mendengar kesunyian bertasbih

lebih fasih daripada gemuruh ombak

sebab lidah kerap tersesat di lorong retorika

sedang diam mengenali jalan menuju hadirat-Nya

 

matahari semakin rendah

laut meminum pantulan cahaya

tetes demi tetes

tak ada yang hilang 

hanya sangkaan tentang memiliki

pada tiap warna yang sama

akan kembali menjadi rahasia

 

ketika malam menutup pintunya

aku menundukkan hati

di hadapan keluasan itu

namaku tiada

keinginan luruh

 

tubuh ini jadi sebutir pasir

hanyut di antara gelombang fana

menunggu saat seluruh arah bermuara

kepada yang maha kekal

aku bermusyahadah

 

Bekasi, 13 Juii 2026

***

 

Menyulam Cahaya

 

Fajar datang

membawa embun ke ujung daun

pantulan langit pada laut 

mengajarkan kehilangan

 

aku memungut yang tersisa

benih-benih ridha

kepada matahari tak memilih jendela 

kepada angin memberi tanpa pernah menetap

 

burung-burung melintas

membawa kabar dari arah tak tampak

hati serupa taman hidup

zikir tak putus

kasih tak meminta balasan

 

petang kembali datang

tak lagi mengajarkan perpisahan

hingga tiap helaan napas

menjadi doa tumbuh dalam dada

membersihkan diri sejak awal perjalanan

selanjutnya menyulam cahaya

 

Bekasi, 13 Juli 2026

***

 

Semerbak Jarak di Awal Januari

 

Kau setangkai mawar kugenggam 

ketika musim di mana air laut berucap kepada awan 

akulah bah tak mungkin dapat kau serap hingga keruh

saat hujan berseru kepada pohon

 

akulah kehidupan saat kemarau membuatmu kering

gelegar guntur yang tidur jika aku tak hadir

atau warna pelangi yang luntur pada cuaca menyilaukan penglihatanmu

langit sebagai kanvas ketika butiran-butiranku betebaran

setiap melihat pasti berdecak 

 

Pernah saat gerimis kita berteduh di beranda

ruangannya berdinding penuh warna-warna coretan karya bersama 

sebelumnya pernah aku saksikan bait-bait sajak di bacakan

kugenggam erat jemari bulan

setelahnya malam puisi berjatuhan

 

di halaman tanah basah dan becek

kau bacakan satu karya indah dengan 

alunan petikan jemari 

aku saksikan suara merdu

kau-aku takkan menangkis bayang-bayang itu 

 

katamu rindu ini tak butuh sinyal

tapi panggilannya selalu terdengar

sementara rindu kepada engkau 

adalah setangkai mawar kugenggam

aromanya menusuk-nusuk penciuman 

 

jarum jam tak mau membeku atau luntur 

meski air laut, hujan dan guntur

berseru bagai debaran jantung 

janganlah kau sunyi atau bimbang

tunggu aku di kotamu 

 

Jakarta, 1 Januari 2026

***

 

Usia Bermekaran di Kota yang Sama

 

Di kota yang sama

aku menjumpai pagi sedang menyulam namamu

pada embun yang enggan jatuh

barangkali ia takut

membangunkan usia sedang mekar di pelupuk hari

 

kau sepotong musim

tak selesai dibaca angin

sementara matahari mengasah cahayanya

pada genting-genting rumah

agar langkahmu selalu menemukan jalan pulang

 

sedangkan aku adalah sungai

belajar mengalir tanpa gaduh

ketika hujan bertanya kepada laut

ke mana segala tanya bermuara

ombak hanya mengangkat bahu

lalu mengirim aroma garam

ke jendela tempat kau menunggu senja

 

masih kuingat

jalan-jalan pernah kita diamkan bersama 

berkarya bersama mereka 

lampu kota menua lebih lambat

karena percakapan kita menambal malam

dengan benang-benang tawa

 

bahkan trotoar

masih menyimpan bekas langkah itu

meski debu telah berganti musim

dan pepohonan berkali-kali menggugurkan ingatan

 

hari ini

usiamu bertambah seperti langit

yang diam-diam memperluas birunya

 

jangan hitung angka-angka 

biarkan mereka menjadi burung

terbang dari bahumu

menuju hari-hari yang lebih lapang

 

sebab mencintai perjalanan 

bukan pekerjaan jarum jam

melainkan cahaya yang setiap pagi

menemukan alasan baru

untuk singgah di wajah kehidupan 

 

jika nanti malam

bulan datang terlambat ke kota ini

aku akan meminjamkan sepotong doa

agar ia tetap menemukan alamatmu

 

dan bila angin bertanya,

di mana atap paling teduh di dunia

akan kujawab:

di kota yang sama

pada seseorang saat ini bertambah usia

dan namanya selalu mekar

setelah selesai kusebut dalam diam 

 

Jakarta, 10 Juli 2026

***

 

Khairani Piliang. Penulis aktif dalam dunia sastra Indonesia, khususnya di bidang cerpen dan puisi. Merupakan penulis buku Kumpulan Cerpen “Suatu Pagi di Dermaga” yang rilis tahun 2017, dan Kumpulan Puisi “Seduh Sedih yang Bertasbih” rilis tahun 2025, serta telah berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi bersama, baik cerpen maupun puisi. Karya-karyanya tersebar di berbagai media cetak dan daring nasional, menunjukkan konsistensi dan kekuatan gaung suara dalam lanskap kesusastraan kontemporer.

Selain menulis, juga terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan juga juri di sejumlah lomba penulisan. Ia juga pernah menorehkan prestasi sebagai pemenang dalam lomba penulisan kreatif buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Profinsi DKI Jakarta, Pusat Dokumetasi HB Jassin dan Dapur Sastra Jakarta, semakin menegaskan reputasinya sebagai penulis yang produktif dan berpengaruh.

Melalui karya dan aktivitasnya, Ia terus berkontribusi dalam membangun ekosistem sastra yang inklusif dan berdaya, menjadikan setiap perjumpaan sastra sebagai ruang bertumbuh bersama.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat