Sastra
Panglima dari Pesisir
Cerpen Darju Prasetya
Oleh DARJU PRASETYA
Angin laut bertiup kencang di pelabuhan Juwana malam itu. Ombak menghantam dermaga dengan ritme yang tak pernah berhenti, seperti detak jantung kota pesisir yang tak pernah tidur. Di sebuah warung kopi sederhana yang beratapkan terpal, aku duduk berhadapan dengan sosok yang selama ini hanya kudengar namanya dari mulut ke mulut—Mas Ali, yang orang-orang sebut sebagai Panglima Pati Timur.
Penampilannya memang tak seperti panglima pada umumnya. Tidak ada seragam megah, tidak ada lencana berkilau. Kaos oblong hitam lusuh, celana jeans yang sudah pudar warnanya, dan sandal jepit yang terlihat sudah menemani perjalanannya bertahun-tahun. Wajahnya keras, kulitnya gelap terbakar matahari, dengan bekas luka kecil di dahi yang entah dari pertarungan mana. Kalau dilihat sekilas, ia memang tampak seperti preman pelabuhan. Tapi matanya—matanya berbeda. Ada nyala api di sana, api yang lahir dari kepedulian, bukan dari amarah.
"Kopi?" tawarnya dengan suara berat yang khas orang pesisir. Tangannya yang kasar menuangkan kopi hitam pekat ke dalam gelas plastik.
Aku mengangguk. Di sebelahnya duduk dua orang lagi yang tak kalah mengesankan. Mas Botok, pria bertubuh besar dengan tawa yang menggelegar, dan Mas Teguh, yang lebih pendiam tapi tatapannya tajam seperti elang. Mereka bertiga adalah trio yang namanya mulai bergema di kalangan rakyat kecil—tiga kesatria dari Pati yang berani bersuara ketika yang lain memilih diam.
"Anda wartawan?" tanya Mas Ali sambil menyalakan rokok kretek.
"Bukan. Saya hanya rakyat biasa yang ingin tahu," jawabku jujur.
Ia tersenyum tipis. "Rakyat biasa. Bagus. Kami juga rakyat biasa, Mas. Nelayan, buruh pelabuhan, tukang ojek. Tapi kami tidak bisa diam melihat negara ini dijarah oleh orang-orang yang seharusnya menjaganya."
Mas Botok menambahkan sambil mengunyah kacang goreng, "Mereka duduk di kursi empuk, pakai jas mahal, tapi hatinya lebih hitam dari lumpur pelabuhan. Korupsi di mana-mana. Rakyat kelaparan, mereka pesta."
Aku sudah sering mendengar keluhan serupa. Tapi ada yang berbeda ketika keluar dari mulut mereka. Bukan sekadar keluhan, tapi tekad.
"Kenapa Anda menyebut diri Anda Panglima?" tanyaku pada Mas Ali.
Ia menghembuskan asap rokok perlahan. "Panglima bukan soal pangkat atau gelar resmi, Mas. Panglima itu soal keberanian memimpin di garis depan. Ketika semua orang takut, seseorang harus maju duluan. Itu panglima. Dan kami—" ia menunjuk ke arah Mas Botok dan Mas Teguh, "—kami memilih untuk maju."
"Maju melawan siapa?"
"Melawan sistem yang busuk. Melawan para mafia yang menguasai negara ini. Mereka ada di mana-mana—di pemerintahan, di pengadilan, di kepolisian, bahkan di parlemen. Mereka saling melindungi, saling berbagi jarahan. Sementara rakyat seperti kami hanya dapat remah-remahnya."
Mas Teguh yang selama ini diam tiba-tiba bersuara, "Tahu tidak, Mas, berapa banyak nelayan di sini yang tidak bisa melaut karena kapalnya disita rentenir? Berapa banyak anak putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu bayar? Sementara di Jakarta, satu pejabat korupsi bisa beli mobil mewah lima unit sekaligus."
Kemarahannya terasa, tapi terkendali. Bukan amarah membabi buta, tapi amarah yang lahir dari rasa sakit melihat ketidakadilan.
"Lalu apa yang Anda lakukan?" tanyaku.
Mas Ali menatapku tajam. "Kami mengorganisir rakyat. Kami mengajarkan mereka untuk tidak takut. Kami mendampingi mereka ketika berhadapan dengan aparat yang sewenang-wenang. Kami menjadi suara mereka yang selama ini dibungkam."
"Itu berbahaya."
"Tentu saja berbahaya!" Mas Botok tertawa keras. "Kami sudah beberapa kali diintimidasi. Rumah Mas Ali pernah dilempari batu. Saya pernah dipukuli preman bayaran. Mas Teguh pernah ditangkap polisi tanpa alasan jelas. Tapi kami masih di sini, masih bernapas, masih melawan."
Aku terdiam. Keberanian mereka bukan keberanian orang yang tidak punya apa-apa untuk hilang. Justru sebaliknya—mereka punya keluarga, punya kehidupan, tapi mereka memilih mempertaruhkannya untuk sesuatu yang lebih besar.
"Anda tidak takut mati?" tanyaku pelan.
Mas Ali memadamkan rokoknya. "Takut. Kami manusia biasa, tentu takut. Tapi ada yang lebih menakutkan dari kematian, Mas. Yaitu hidup dalam ketakutan selamanya. Hidup melihat anak-anak kita tumbuh dalam sistem yang sama busuknya, atau bahkan lebih busuk. Itu yang lebih menakutkan."
Ia berdiri, berjalan ke tepi dermaga. Aku mengikutinya. Angin laut menerpa wajah kami. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan berkelap-kelip seperti bintang di permukaan air.
"Lihat itu," katanya sambil menunjuk ke laut. "Ini negara besar, Mas. Negara kaya. Lautnya luas, tanahnya subur, hutannya lebat. Tapi kenapa rakyatnya miskin? Karena kekayaan itu tidak sampai ke tangan rakyat. Dicuri oleh segelintir orang yang rakus."
Ia berbalik menatapku. "Saudara, ini negara besar, negara ini negara kaya harus kita rawat untuk anak cucu kita nanti!" Suaranya tegas, penuh keyakinan. "Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"
Kata-katanya menohok. Aku yang selama ini hanya mengeluh tanpa berbuat apa-apa merasa tertampar.
"Tapi kami bukan orang kaya, bukan orang berpendidikan tinggi," lanjut Mas Ali. "Kami hanya nelayan dan buruh. Tapi kami punya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang."
"Apa itu?"
"Akhlak." Ia tersenyum. "Mungkin saya ini miskin harta, tapi Anda jangan lupa, jangan pernah miskin akhlak."
Kalimat itu mengambang di udara malam, lebih kuat dari deru ombak. Aku menyadari bahwa inilah yang membedakan mereka dari para penguasa yang mereka lawan. Bukan soal kekayaan atau kekuasaan, tapi soal integritas. Soal keberanian untuk tetap menjadi manusia yang baik di tengah sistem yang mendorong orang untuk menjadi serigala.
Kami kembali ke warung kopi. Mas Botok sudah memesan nasi goreng untuk semua. Kami makan bersama dalam keheningan yang nyaman. Sesekali terdengar tawa, cerita-cerita ringan tentang kehidupan sehari-hari. Mereka bukan pahlawan super. Mereka manusia biasa dengan masalah biasa—tagihan listrik, anak yang sakit, motor yang rusak. Tapi mereka memilih untuk tidak membiarkan masalah pribadi menghalangi perjuangan mereka untuk keadilan.
"Anda tahu Wiji Thukul?" tanya Mas Teguh tiba-tiba.
"Penyair yang hilang itu?"
"Ya. Dia punya puisi pendek. Cuma satu kata: Lawan!" Mas Teguh menatap ke arah laut. "Sederhana, tapi kuat. Itulah yang kami lakukan. Melawan. Bukan dengan senjata, tapi dengan keberanian untuk bersuara, untuk berdiri, untuk tidak menyerah."
Malam semakin larut. Pelabuhan mulai sepi. Tapi di warung kopi kecil itu, semangat masih menyala. Mas Ali bercerita tentang rencana mereka—mengorganisir lebih banyak komunitas, mendampingi korban ketidakadilan, membangun kesadaran rakyat bahwa mereka punya kekuatan jika bersatu.
"Kami bukan bajak laut yang merampok," kata Mas Ali sambil tersenyum. "Tapi kalau mereka mau menyebut kami Panglima Bajak Laut karena kami berani melawan penguasa yang zalim, ya silakan saja. Kami bangga dengan sebutan itu."
Ketika aku pamit pulang, Mas Ali menepuk bahuku. "Ingat, Mas. Perubahan tidak datang dari orang-orang besar di Jakarta. Perubahan datang dari rakyat kecil seperti kita yang berani bermimpi dan berani bertindak. Jangan pernah merasa kecil. Jangan pernah merasa tidak berdaya."
Aku meninggalkan pelabuhan Juwana dengan perasaan campur aduk. Ada kekaguman, ada harapan, tapi juga ada kegelisahan. Kegelisahan karena menyadari bahwa selama ini aku hanya jadi penonton. Sementara orang-orang seperti Mas Ali, Mas Botok, dan Mas Teguh—dengan segala keterbatasan mereka—berani turun ke arena.
Di perjalanan pulang, aku terus mengingat kata-kata Mas Ali: "Jangan pernah miskin akhlak." Dan aku bertanya pada diriku sendiri: sudahkah aku cukup kaya akhlak untuk peduli pada nasib bangsa ini? Atau aku hanya sibuk mengumpulkan harta sambil menutup mata pada ketidakadilan di sekitarku?
Panglima Pati Timur dan dua kesatrianya mungkin tidak akan pernah tercatat dalam buku sejarah resmi. Nama mereka mungkin tidak akan dikenang dalam monumen megah. Tapi di hati rakyat kecil yang mereka bela, mereka adalah pahlawan sejati. Pahlawan yang lahir dari pesisir, yang berbau amis ikan dan keringat, yang berbicara dengan logat kasar tapi hati yang lembut.
Dan malam itu, aku belajar bahwa kepahlawanan sejati bukan soal gelar atau kekuasaan. Kepahlawanan sejati adalah keberanian untuk tetap menjadi manusia yang baik, yang peduli, yang berani melawan ketidakadilan—meskipun dunia menganggapmu hanya preman pelabuhan.
Lawan. Satu kata sederhana dari Wiji Thukul yang terus bergema. Dan di Juwana, tiga orang biasa telah memilih untuk mewujudkan kata itu dalam tindakan nyata. Mereka adalah suara rakyat yang selama ini dibungkam. Mereka adalah harapan bahwa perubahan masih mungkin, selama masih ada orang yang berani bermimpi dan berani berjuang.
Penulis lahir di Tuban Jawa Timur. Karya-karyanya baik esai, cerpen, puisi, artikel telah banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online. Bisa dihubungi lewat mail: prasetya58098@gmail.com
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
