Sastra
Badut Jalanan
Cerpen Maya Sandita
Oleh MAYA SANDITA
Malam semakin pekat. Kehadirannya memburu tubuh anakku. Ia datang dengan tombak dingin yang menusuk kulit. Disusul panah yang berdenging dan sesekali menancap ke pembuluh darah. Ia juga mewujud asam pekat yang membuat ulu hati terbakar.
Sedang aku, seorang badut berkostum tebal yang membuat badan gatal ini, dengan langkah terseok tetap berusaha menggendong anakku itu di punggung. Sepeda yang kudorong pelan masih berisi banyak mainan. Tidak banyak yang laku hari ini. Uang yang kudapat hanya cukup untuk membayar setengah dari sewa rumah liar yang kami tempati. Sudah seminggu Bu Nok datang menagih dan ini tanggal jatuh tempo yang kujanjikan. Entah Bu Nok masih mau memberi waktu, atau kami terpaksa harus melanjutkan perjalanan yang entah kemana malam ini.
Di tengah perjalanan itu, tiba-tiba anakku muntah. Cairan yang keluar berwarna hijau dan baunya sangat menyengat. “Bapak...” Ia memanggilku dengan lemah sekali.
Napasku kencang, jantungku berdegup entah seberapa laju pula, kucari ke sekelilingku apa saja yang bisa kuberikan padanya. Kaki yang penat dan gatal di badan, kini tidak ada artinya. Aku mendorong sepeda itu lebih cepat. Di ujung jalan, aku melihat sebuah warung masih terbuka. “Tahan sebentar, Nak. Tahan sebentar,” kataku tersengal.
Ia kubaringkan di bangku panjang. Pemilik warung memberikan air hangat dan obat penurun asam lambung setelah kuceritakan apa yang terjadi. Anakku masih bernapas, meski tangannya gemetaran. “Bapak, lapar,” katanya. Aku bergegas menuju keranjang roti yang ada di meja depan warung. Kucari roti selai kesukaannya. Cepat kubuka dan kusuapi, “Pelan-pelan ya, Sani. Jangan sampai tersedak.”
Saat kuusap keningnya pelan, tanganku bak menggenggam bara. Panas sekali! Tanganku gemetar hebat. “Semati rasa inikah Bapakmu, Nak? Pikiranku hanya tertuju pada uang sewa. Semua inderaku lumpuh karenanya.” Aku mengatai diriku sendiri.
Aku bisa terima jika luka-luka dan nyeri otot di kakiku tidak lagi terasa. Atau bahkan gatal dan panas yang kuterima di balik kostum badut ini sudah jadi hal biasa. Tapi kenapa aku bahkan tidak tahu Sani demam, padahal sepanjang jalan ia di punggungku. Aku tidak mampu menahan tangis. Air mataku jatuh di atas kostum badut lusuh.
Ketika roti selai sudah habis, kuberikan obat demam untuk Sani. Malam terus bergerak pelan. Jarum jam makin samar di pelupuk mataku. Kurasakan kantuk yang tak dapat kulawan. Seingatku, aku tertidur di samping Sani yang sudah lelap lebih dulu. Kuletakkan kepala di samping dada Sani, sehingga dapat kudengar detak jantungnya sebagai pengantar tidur.
Malam itu berhasil kami lewati. Pagi ini aku terjaga karena aroma teh hangat yang menyerbu hidung. “Bapak, bangun. Ini sudah pagi.” Sani sudah duduk di sampingku. Wajahnya terlihat lebih segar.
“Diminum tehnya, Cak!” Si pemilik menyapa dari dalam warung.
“Tapi saya tidak pesan, Pak,” jawabku. Sungkan dan khawatir dengan apa akan kubayar nanti.
“Memang tidak pesan. Itu gratis untuk sarapan kalian.” balasnya.
Aku tersenyum dan berterima kasih tentu saja. Mimpi apa aku semalam disuguhkan teh hangat seperti ini. Ah… sudah lama tidak minum teh hangat. Rita, istriku, tidak pernah lagi membuatkanku teh setahun ke belakang.
Terlintas kejadian setahun lalu yang benar-benar mengubah hidupku. Waktu itu aku bukanlah seorang badut jalanan dengan kostum Mickey Mouse ini. Aku buruh pabrik. Pekerjaanku merapikan pinggiran material plastik hasil cetakan mesin. Di tahun ketujuh pekerjaanku, aku di-PHK. Perusahaan tidak lagi membutuhkanku. Mereka sudah membeli mesin yang lebih canggih. Mesin yang menghasilkan hasil cetakan tanpa sisa gerigi. Sejak kejadian itulah semua berubah.
Kami tidak lagi punya penghasilan tetap. Sementara Rita terus menuntut uang belanja, juga biaya perawatan kulitnya. Jika tidak bisa kupenuhi, ia akan acuh padaku bahkan Sani. Seringkali tiap aku pulang, kutemukan Sani tertidur meringkuk di kamarnya, menahan lapar.
“Tidak masak, Dik?” tanyaku pada Rita.
“Mau masak apa? Batu?” balasnya ketus.
“Mas sudah tinggalkan uang belanja tadi pagi.”
“Sudah kubelikan krim malam.” Hilang Rita istriku yang lembut. “Kasih uang belanja cuma dua puluh ribu, tok! Contoh itu suaminya Bu Nok!”
Aku sempat terdiam sebelum berkata, “Kalau begitu, kau tidur saja dengannya!” Kalimat itu bergetar, pelan, dan keluar dari dada yang kesakitan.
Kugendong Sani. Kubawa kemanapun pergi.
Tidak terasa sudah satu tahun kami menyusuri jalanan kota ini. Pergi pukul lima pagi dan pulang tengah malam biasanya. Untuk hari ini aku pulang pagi. Ada seseorang yang harus segera kutemui dan bicara baik-baik tentang uang sewa yang belum bisa kulunasi padanya. Tapak langkahku menjadi jejak-jejak doa yang kubacakan sepanjang jalan, “Semoga Bu Nok masih berbaik hati memberi sedikit waktu lagi, supaya kami masih bisa berkumpul bersama di rumah hari ini.”
Kami hampir tiba. Tapi gang sempit itu tak bisa kami lewati. Keadaannya lebih sempit dari biasa. Orang-orang memenuhi lebar jalan yang hanya dua meter itu. Ponsel-ponsel mereka diangkat, kamera menyala, suara jepretan kamera bersahut-sahutan.
Kudengar beberapa tetangga bicara, “Kasihan Tiok. Dia jadi badut jalanan sambil bawa anak. Sementara istrinya tidur dengan suami Bu Nok.”
“Barangkali uang bedaknya dari situ. Tiok kan penghasilannya tidak seberapa.”
“Berapapun yang dikasih Tiok mestinya disyukuri, Sani tetap disayangi. Ini malah tidak diurus sama sekali!”
“Rita memang tidak tahu bersyukur dan berterimakasih. Bu Nok itu sudah baik sekali tidak mengusirnya. Semua orang tahu mereka menunggak bayar sewa sampai 3 bulan!”
Aku memundurkan langkah, sekalian dengan niatku. Kuraih Sani, kugendong ia, dan kubawa serta sepeda tuaku. Badut jalanan ini kembali berjalan menemui tombak, panah, dan asam pekat, sambil menggendong anak perempuan di punggungnya.
Batam, 10 Mei 2026
Maya Sandita, penulis dan kepala laboratorium yang berdomisili di Batam – Kepulauan Riau. Buku kumpulan cerpennya bertajuk Ruang Tunggu (2021). Salahsatu cerpennya Lelaki di Bawah Lampu Jalan – Kompas (2020). Menjuarai berbagai lomba sastra berbahasa daerah Minangkabau. Salahsatunya juara 1 dalam Lomba Menulis Sastra Minangkabau Tema Kaba
tingkat nasional yang diadakan oleh Disbud Sumatera Barat, dengan judul naskah Sambang Sambilan (2020) Maya bisa dihubungi via Instagram di @sanditaisme.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
