Ekonomi
Menakar Dampak Kenaikan Harga Minyak
Setiap negara memiliki cara berbeda meredam tekanan energi.
JAKARTA -- Harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel mulai memberikan tekanan berbeda terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara. Sebagian negara meneruskan kenaikan harga minyak kepada konsumen, sementara negara lain menggunakan subsidi, pajak, maupun intervensi pasar untuk menahan dampaknya.
Harga minyak mentah Brent sempat menembus level 100 dolar AS per barel di tengah gangguan pasokan dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Reuters melaporkan pada 11 September 2026 bahwa Brent ditutup di 104,61 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di 100,05 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut terjadi ketika gangguan pasokan dan ketidakpastian jalur perdagangan minyak meningkatkan kekhawatiran pasar energi global. Kondisi ini membuat perubahan harga minyak mentah tidak hanya menjadi persoalan pasar komoditas, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga energi yang dibayar konsumen.
Namun, besarnya dampak di tingkat konsumen tidak seragam. Mekanisme penetapan harga BBM, nilai tukar, pajak, subsidi, harga produk minyak olahan, hingga kebijakan pemerintah ikut menentukan seberapa besar kenaikan harga minyak dunia diteruskan ke SPBU.
Berikut gambaran dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap harga BBM di empat negara.
Filipina
Filipina menjadi salah satu negara yang relatif cepat merasakan kenaikan harga minyak di tingkat konsumen. BusinessMirror pada 14 September 2026 melaporkan harga bensin naik 5,68 peso per liter, sedangkan diesel naik 4,31 peso per liter, efektif 15 September.
Kenaikan tersebut membuat harga BBM di sejumlah SPBU Filipina semakin mendekati atau melewati 100 peso per liter. Sebelum kenaikan tersebut, harga ritel umum di Metro Manila pada periode 8 hingga 14 September berada di 85,70 peso per liter untuk bensin RON95, 80,10 peso per liter untuk bensin RON91, 90,10 peso per liter untuk diesel, dan 119,90 peso per liter untuk minyak tanah.
Kenaikan itu juga terjadi setelah harga BBM Filipina mengalami penyesuaian pada pekan sebelumnya. Artinya, tekanan terhadap konsumen tidak hanya berasal dari satu kali perubahan harga, tetapi dapat berlanjut ketika harga minyak internasional tetap tinggi.
Pemberitaan Manila Bulletin pada 14 September menyebut kenaikan harga dipicu oleh harga minyak dunia yang menembus level 100 dolar AS per barel. Pemerintah Filipina mulai mempertimbangkan langkah fiskal untuk meredam dampaknya, termasuk kemungkinan penangguhan pajak cukai BBM jika kondisi harga minyak memenuhi ketentuan yang berlaku.
Kenaikan harga BBM menjadi perhatian karena bahan bakar berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan distribusi barang. Perubahan harga di tingkat pompa dapat kemudian memengaruhi biaya mobilitas masyarakat maupun biaya pengiriman barang.
Afrika Selatan
Tekanan serupa terjadi di Afrika Selatan. Daily Maverick pada 31 Agustus 2026 melaporkan harga BBM naik 1,34 rand per liter pada September, sedangkan diesel meningkat 2,94 rand per liter.
Kenaikan tersebut berkaitan dengan perubahan harga produk minyak internasional dan nilai tukar rand terhadap dolar AS. Faktor tersebut menunjukkan bahwa harga minyak mentah bukan satu-satunya penentu harga BBM yang dibayar konsumen.
BusinessTech melaporkan tekanan harga masih berlanjut dan harga BBM Afrika Selatan berpotensi menembus rekor baru pada Oktober jika tren harga minyak internasional tetap tinggi.
Dengan demikian, dampak gejolak minyak dunia tidak berhenti pada satu kali kenaikan harga BBM. Selama harga energi global berada di level tinggi, tekanan dapat kembali muncul dalam penyesuaian harga berikutnya.
Singapura
Di Singapura, kenaikan harga juga mulai terlihat di SPBU. The Straits Times melaporkan pada 14 September 2026 sejumlah perusahaan BBM menaikkan harga antara 8 hingga 12 sen Singapura per liter.
Harga diesel di sejumlah jaringan SPBU kemudian menembus 4 dolar Singapura per liter. Caltex tercatat menjual diesel sekitar 4,07 dolar Singapura per liter, sedangkan Shell dan Esso sekitar 4,03 dolar Singapura per liter.
Untuk bensin RON95, harga berada di kisaran 3,36 hingga 3,49 dolar Singapura per liter sebelum memperhitungkan berbagai program diskon.
The Straits Times mengaitkan kenaikan tersebut dengan meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik dan gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah. Perubahan harga tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar energi global dapat relatif cepat tercermin pada harga BBM ritel.
Bagi negara dengan aktivitas perdagangan dan transportasi yang tinggi seperti Singapura, perubahan harga bahan bakar menjadi salah satu komponen yang dapat memengaruhi biaya mobilitas. Kenaikan biaya tersebut juga berpotensi masuk ke biaya operasional angkutan dan distribusi.
India
India menghadapi tekanan yang berbeda. Kenaikan harga minyak mentah global memberikan tekanan terhadap perekonomian, tetapi harga bensin dan diesel di sejumlah kota tidak langsung bergerak mengikuti kenaikan harga minyak dunia.
NDTV Profit pada 12 September 2026 melaporkan harga minyak mentah global sebelumnya telah mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan. Ketegangan terkait Selat Hormuz juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak.
Pada pertengahan September, harga bensin dan diesel di kota-kota India masih menunjukkan perbedaan antardaerah. HDFC Sky pada 15 September melaporkan harga BBM di sejumlah kota besar relatif stabil dibandingkan hari sebelumnya meskipun harga minyak mentah global berada pada level tinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dunia tidak selalu langsung diteruskan kepada konsumen pada hari yang sama. Pemerintah dan pelaku industri dapat menggunakan berbagai instrumen untuk mengelola perubahan harga energi domestik.
Tekanan terhadap sektor energi India juga terlihat dari kebijakan pemerintah pada 16 September. Reuters melaporkan pemerintah India memangkas pajak windfall atas ekspor BBM, diesel, dan bahan bakar penerbangan untuk periode tertentu.
Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan harga energi global dapat memengaruhi keputusan fiskal dan industri energi, selain berdampak pada harga BBM yang dibayar konsumen.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia memiliki mekanisme yang berbeda untuk BBM bersubsidi. Kenaikan harga minyak dunia tidak serta-merta diteruskan seluruhnya kepada konsumen karena pemerintah masih mempertahankan kebijakan harga untuk BBM bersubsidi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi meski harga minyak dunia bergerak di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Untuk harga subsidi, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan," tegasnya.
Kebijakan tersebut membuat pergerakan harga minyak dunia tidak otomatis menghasilkan perubahan harga BBM bersubsidi di dalam negeri. Namun, menahan harga di tingkat konsumen tidak berarti tekanan dari kenaikan harga minyak global hilang dari perekonomian.
Tekanan tetap dapat muncul melalui kebutuhan anggaran, biaya impor minyak dan produk BBM, nilai tukar, serta biaya logistik dan transportasi. Karena itu, gejolak harga minyak dunia tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan energi nasional.
Di tengah tekanan gejolak harga minyak dunia dan rentannya kenaikan biaya BBM, Guru Besar Perencanaan dan Rekayasa Transportasi ITB Harun A. Lubis mengatakan efisiensi penggunaan energi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
"Mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi perlu tetap tumbuh, tetapi energi yang digunakan untuk setiap perjalanan harus semakin efisien," kata Harun.
Pernyataan tersebut menempatkan persoalan harga BBM tidak hanya pada bagaimana pemerintah menetapkan harga, tetapi juga bagaimana konsumsi energi dikelola. Efisiensi transportasi, penggunaan kendaraan, dan pola mobilitas dapat menentukan seberapa besar kenaikan biaya energi diteruskan ke kegiatan ekonomi.
Perbandingan berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa harga minyak dunia tidak memiliki hubungan satu banding satu dengan harga BBM di tingkat konsumen. Harga minyak mentah merupakan salah satu komponen, sedangkan nilai tukar, harga produk olahan, pajak, subsidi, dan kebijakan pemerintah turut menentukan besarnya tekanan yang akhirnya dirasakan masyarakat.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
