Warga Palestina berlindung setelah serangan udara Israel di Jalur Gaza, 28 Juli 2026. | EPA/MOHAMMED SABER

Internasional

AS Kembali Pasok Israel dengan Bom Pembunuh Warga Gaza

Israel saat ini menerima sekitar 3,8 miliar dolar AS bantuan militer AS.

WASHINGTON — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan paket penjualan sekitar 40 ribu bom yang masing-masing berbobot 2.000 pound (sekitar 907 kilogram) untuk Israel. Paket senjata senilai 2,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp45 triliun itu menjadi salah satu transfer amunisi paling destruktif dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip The Washington Post, Selasa (16/9/2026), seorang pejabat AS yang mengetahui rencana transaksi tersebut mengatakan paket itu terdiri atas 20 ribu bom MK-84 dan 20 ribu bom BLU-117. Masing-masing bom memiliki bobot sekitar 2.000 pound.

Selain itu, paket tersebut mencakup 20 ribu hulu ledak penetrator I-2000 yang dirancang untuk menyerang struktur atau bangunan yang diperkuat.

Badan internasional, jurnalis, dan lembaga HAM menemukan bahwa bom MK-84 dan BLU-117 tersebut sebelumnya digunakan Israel sepanjang genosida di Jalur Gaza. Bom-bom itu dijatuhkan di pemukiman padat penduduk dan menimbulkan korban jiwa yang masif jumlahnya.

Rencana penjualan itu telah diberitahukan secara informal kepada komite-komite di Kongres AS. Transaksi tersebut masih membutuhkan persetujuan para pemimpin Kongres yang membidangi urusan luar negeri.

Pemerintahan Trump dilaporkan tengah mendorong pimpinan Komite Hubungan Luar Negeri Senat dan Komite Urusan Luar Negeri DPR AS agar menyetujui paket tersebut.

Pesawat tempur Israel menghancurkan sebuah menara perumahan yang dikelilingi oleh ratusan tenda pengungsi di sebelah barat Kota Gaza pada Rabu, 10 September 2025. - (X)  ​

Yang menarik, meskipun secara formal disebut sebagai penjualan senjata, Israel tidak akan membiayai seluruh paket tersebut menggunakan dananya sendiri. Pembelian akan menggunakan skema Foreign Military Financing (FMF), program bantuan AS yang menggunakan dana pembayar pajak Amerika untuk membantu negara mitra membeli persenjataan buatan AS.

Israel saat ini menerima sekitar 3,8 miliar dolar AS bantuan militer AS setiap tahun berdasarkan kesepakatan bantuan bilateral yang berlaku.

Skala paket terbaru tersebut bahkan melampaui sejumlah pengiriman bom berbobot 2.000 pound yang sebelumnya disetujui pemerintahan Joe Biden maupun Trump.

Pada 2025, pemerintahan Trump juga menyetujui penjualan senjata senilai 2,04 miliar dolar AS kepada Israel yang mencakup bom-bom berat. Ketika itu, pemerintahan Trump melewati proses peninjauan normal Kongres untuk mempercepat pengiriman.

photo
Warga Palestina meratapi jenazah mantan polisi Abed Almalek Abu Jobein, di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, pada 14 Juli 2026. Setidaknya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah kantor polisi di Jabalia, Gaza utara. - (EPA/MOHAMMED SABER )

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menolak memberikan tanggapan mengenai kekhawatiran kemanusiaan yang muncul terkait rencana terbaru tersebut.

"Semua penjualan senjata asing diproses melalui mekanisme yang sesuai. Kami tidak mengomentari penjualan yang masih dalam proses," kata pejabat tersebut kepada The Washington Post.

Kedutaan Besar Israel di Washington tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar surat kabar tersebut.

Bom yang daya rusaknya sangat besar
Besarnya paket tersebut tidak semata-mata terletak pada jumlahnya. Jenis amunisi yang akan dikirim juga menjadi perhatian.

MK-84 merupakan salah satu bom konvensional dengan daya hancur terbesar dalam persenjataan AS. Bom berbobot sekitar 907 kilogram itu dirancang untuk menembus beton dan logam tebal, menciptakan kawah besar serta menyebarkan pecahan mematikan dalam radius yang luas.

Dalam Perang Teluk pertama, para pilot AS bahkan menjulukinya sebagai "hammer" atau palu.

photo
Warga Palestina menghadiri pemakaman massal bagi 100 orang, termasuk puluhan anak-anak, di kawasan Al-Zaytun (Zeitoun), Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 6 September 2026. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Mantan teknisi pembuangan persenjataan peledak Angkatan Darat AS Trevor Ball mengatakan kepada The Washington Post, bom tersebut kerap digunakan untuk menghancurkan bangunan.

"Jika Hizbullah atau siapa pun berada di dalam sebuah bangunan, MK-84 akan meruntuhkan seluruh bangunan," ujarnya.

BLU-117 merupakan varian MK-84 yang dilengkapi perlindungan termal. Sementara I-2000 merupakan badan bom penetrator yang dirancang untuk menyerang struktur yang diperkuat.

Persoalannya, senjata dengan daya rusak sedemikian besar digunakan dalam konflik yang berlangsung di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Menurut The Washington Post, Israel telah menggunakan bom berbobot 2.000 pound ratusan kali dalam operasi militernya di Gaza dan Lebanon. Israel juga terdokumentasi menggunakan bom MK-84 di sejumlah wilayah Gaza yang sebelumnya ditetapkan sebagai lokasi aman bagi warga Palestina.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru mengenai dampak kemanusiaan apabila senjata serupa kembali digunakan di kawasan permukiman.

Brian Finucane, penasihat senior International Crisis Group, mengatakan terdapat kekhawatiran nyata mengenai penggunaan senjata tersebut di wilayah padat penduduk, mengingat pola perang udara Israel di Gaza dan, dalam tingkat tertentu, di Lebanon selatan.

photo
Bagaimana AS Terlibat Genosida di Gaza? - (Republika)

Persoalan lainnya, menurut Finucane, berkaitan dengan bagaimana Israel menentukan suatu objek sebagai sasaran militer yang sah.

Bom-bom berbobot 2.000 pound sebelumnya juga menjadi salah satu titik perselisihan antara pemerintahan Biden dan pemerintah Israel.

Pada musim semi 2024, pemerintahan Biden menangguhkan sementara satu pengiriman bom jenis tersebut. Keputusan itu diambil di tengah kekhawatiran mengenai jatuhnya korban sipil akibat perang Israel di Gaza.

Namun, kebijakan tersebut berubah setelah Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Pemerintahan Trump segera melepaskan bom-bom yang sebelumnya ditahan.

Kini, rencana pengiriman 40 ribu bom kembali menempatkan dukungan militer AS terhadap Israel dalam sorotan.

Rencana paket senjata tersebut muncul ketika hubungan pemerintahan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menghadapi ketegangan yang tidak biasa.

Trump dan para pembantunya dilaporkan semakin frustrasi karena perang dengan Iran berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.

photo
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington, Selasa, 7 Mei 2025. - (Pool via AP)

Menurut The Washington Post, Netanyahu sebelumnya mendorong perang dengan harapan konflik dapat berakhir secara cepat dan menentukan.

Ketegangan juga muncul ketika pemerintahan Trump merundingkan kesepakatan sementara dengan Iran untuk menghentikan pertempuran. Sejumlah sekutu Netanyahu secara terbuka mengkritik kesepakatan tersebut dan menyerang Wakil Presiden AS JD Vance atas perannya dalam proses negosiasi.

Perbedaan pandangan Washington dan Tel Aviv juga muncul terkait kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki serta operasi militer Israel di Lebanon dan Suriah.

Di Gaza, Israel juga menunjukkan keberatan terhadap sejumlah elemen rencana Trump. Salah satunya adalah gagasan agar Hamas menyerahkan senjata sebagai imbalan atas penarikan pasukan Israel dari Gaza.

Namun, di tengah berbagai perbedaan tersebut, paket senjata senilai 2,8 miliar dolar AS justru dapat dibaca sebagai sinyal bahwa dukungan militer Washington kepada Israel tetap berjalan.

"Jika tujuan pemerintahan Trump adalah meredakan situasi di Timur Tengah, waktunya (pengiriman senjata) ini tidak biasa," kata Finucane. Menurut dia, terlepas dari maksud pemerintah AS, paket tersebut mengirimkan "sinyal kepercayaan" kepada Israel.

Dengan demikian, rencana tersebut memperlihatkan adanya dua dinamika yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, Washington dan pemerintahan Netanyahu menghadapi sejumlah perbedaan politik dan strategis. Di sisi lain, dukungan militer AS terhadap Israel tetap dipertahankan dalam skala besar.

Ujian baru di Kongres
Paket tersebut juga berpotensi menjadi ujian terhadap perubahan sikap di Kongres AS mengenai dukungan militer kepada Israel.

Selama bertahun-tahun, pemimpin Partai Republik maupun Demokrat di Kongres secara umum menyetujui transfer senjata besar kepada Israel. Namun, perang di Gaza dan Iran telah meningkatkan penolakan dari sebagian anggota Kongres.

Pada Juli, lebih dari 100 anggota DPR AS dari Partai Demokrat memilih untuk mengakhiri seluruh bantuan AS kepada Israel, menurut The Washington Post.

Senator Chris Van Hollen dari Maryland mengatakan dirinya akan berupaya membangun oposisi di Kongres terhadap paket terbaru tersebut.

"Donald Trump mengirimkan bom yang dibayar oleh pembayar pajak Amerika kepada pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penjahat perang yang dicari, sementara pemerintahan Netanyahu terus membom Gaza dan Lebanon," kata Van Hollen.

Ia menambahkan, dirinya bersama anggota Kongres lainnya akan berupaya menghentikan paket tersebut.

Perdebatan mengenai dukungan militer kepada Israel bahkan mulai meluas ke kalangan konservatif AS. Sejumlah komentator konservatif seperti Tucker Carlson, Megyn Kelly, dan Candace Owens juga mempertanyakan besarnya dukungan militer Washington kepada Israel.

Jika disetujui, paket 2,8 miliar dolar AS tersebut akan menjadi salah satu indikasi paling jelas bahwa, terlepas dari meningkatnya perbedaan politik dengan Netanyahu dan bertambahnya oposisi terhadap dukungan AS kepada Israel, pemerintahan Trump masih mempertahankan pasokan senjata berdaya hancur tinggi kepada Tel Aviv.

Persoalannya kemudian bukan hanya mengenai berapa banyak senjata yang dikirim, melainkan bagaimana Washington menyeimbangkan dukungan strategis kepada Israel dengan tekanan politik domestik dan kekhawatiran mengenai konsekuensi kemanusiaan dari penggunaan senjata tersebut di wilayah padat penduduk.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat