Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

03 Jul 2022, 06:56 WIB

Jokowi Naik Kereta, Soeharto Tak Mau Pakai Rompi

Presiden Jokowi kunjungi Ukraina naik kereta, Presiden Soeharto kunjungi Bosnia tak mau pakai rompi.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Koran-koran memberitakan rencana kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk menawarkan perdamaian. Namun, tanggapan pesimistis pun muncul karena Indonesia tak memiliki kekuatan apa-apa untuk memaksa Rusia dan Ukraina berdamai.

Kendati begitu, Jokowi tetap berangkat ke Ukraina dan Rusia bersama rombongan. Ke Ukraina naik kereta dengan waktu perjalanan selama 12 jam dari Polandia.

Kereta dianggap sebagai moda paling aman untuk mencapai Kiev, saat Ukraina terus-menerus diserang Rusia. Menjelang kunjungan Jokowi, Rusia kembali menembakkan rudal-rudalnya ke Kiev, ibu kota Ukraina pada Senin (27/6).

Serangan itu tak menyurutkan Jokowi untuk tetap berangkat ke Kiev bersama Ibu Negara Iriana. Selain membahas upaya damai, Jokowi juga menyerahkan bantuan kemanusiaan.

 
Serangan itu tak menyurutkan Jokowi untuk tetap berangkat ke Kiev bersama Ibu Negara Iriana.
 
 

Sebelum Jokowi berangkat, di Kiev sudah ada 10 anggota Paspampres. Lalu, saat berangkat, Jokowi dikawal oleh 10 anggota Paspampres bagian penyelamatan, dan 19 anggota Paspampres yang melekat pada Jokowi.

Pada 1995, Presiden Soeharto juga pernah mengunjungi negara yang sedang luluh lantak karena perang. Pada saat itu Soeharto mengunjungi Bosnia saat masih berperang dengan Serbia.

Sebelum mengunjungi Bosnia, terlebih dulu Soeharto mengunjungi Kroasia. Bosnia, Serbia, Kroasia, adalah beberapa negara baru yang merdeka setelah negara federal sosialis Yugoslavia runtuh.

Ketika Soeharto masih berada di Kroasia, pesawat yang ditumpangi utusan PBB yang sedang terbang menuju Bosnia ditembaki oleh Serbia. Meski tak ada korban, insiden ini, menurut Sjafrie Sjamsuddin, membuat personel Paspampres yang sudah berada di Bosnia mencari kepastian jadi-tidaknya Soeharto ke Bosnia. Saat itu, Sjafrie menjadi Komandan Grup A Paspampres yang bertugas mengawal Soeharto.

 
Ketika Soeharto masih berada di Kroasia, pesawat yang ditumpangi utusan PBB yang sedang terbang menuju Bosnia ditembaki oleh Serbia.
 
 

Kepastian Soeharto berangkat ke Bosnia tersirat dari ucapan pamit Soeharto kepada Presiden Kroasia. “Saya pamit dulu untuk pergi ke Sarajevo,” ujar Soeharto kepada Presiden Kroasia, seperti dikutip Sjafrie di buku Pak Harto, The Untold Stories.

Menurut  Sjafrie, dari Kroasia Soeharto beserta rombongan naik pesawat sewaan buatan Rusia yang biasa dipakai PBB. Jumlah kursi yang terbatas membuat tak banyak yang mendampingi Soeharto.

Pengawalnya hanya Sjafrie dan Komandan Detasemen Pengawal Pribadi Presiden Mayor CPM Unggul Yudhoyono. Dari jajaran kabinet ada Menlu Ali Alatas, Mensesneg Moerdiono, Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung, Kepala BIA Mayjen Syamsir Siregar, Komandan Paspampres Mayjen Jasril Jakub, dan Ajudan Presiden Kolonel Inf Sugiono.

Sebelum naik pesawat, masing-masing calon penumpang harus menandatangani pernyataan risiko keamanan yang menjadi tanggung jawab pribadi. Soeharto langsung membubuhkan tanda tangan di formulir dan Sjafrie yang kemudian mengisikan data-datanya.

Dari ibu kota Kroasia, Zagreb, ke ibu kota Bosnia, Sarajevo, perjalanan ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Setengah jam sebelum mendarat, penumpang diminta mengenakan helm dan rompi pengaman karena akan memasuki wilayah yang memerlukan pengamanan.

Paspampres membawa rompi antipeluru seberat 12 kilogram, milik Paspampres bantuan dari Kopassus. Rompi ini, kata Sjafrie, mampu menahan tembakan M-16. Ketika semua orang sudah mengenakan helm dan rompi, Soeharto belum juga mengenakan. Soeharto mengenakan jas dan peci hitam.

 
Ketika semua orang sudah mengenakan helm dan rompi, Soeharto belum juga mengenakan. Soeharto mengenakan jas dan peci hitam.
 
 

Sebelum Sjafrie memegang helm dan rompi yang harus dikenakan Soeharto, Soeharto bertanya kepada Sjafrie mengenai perlindungan untuk kursi dan bodi pesawat. Sjafrie menjawab pesawat sudah ditutup antipeluru di bagian bawah dan samping pesawat. Mendengar jawaban itu Soeharto tenang-tenang saja.

Melihat hal itu, Sjafire mengambil helm dan rompi lalu pindah ke depan Soeharto dengan maksud jika Soeharto menginginkannya, Sjafrie tinggal menyerahkannya. Dengan cara Jawa seperti ini, Sjafrie tak perlu mengatakan agar Soeharto segera mengenakan rompi.

Namun, Soeharto malah memberikan instruksi kepada Sjafrie agar helmnya nanti diserahkan ke Museum Purna Bakti di Taman Mini. Dan, mengenai rompi yang sedang dipegang Sjafrie, Soeharto memerintahkan agar tetap dipegang.

Setelah itu, Sjafrie mengenakan peci yang ia pinjam dari wartawan. Ia mengenakan rompi di dalam jas, sehingga penampilannya mengenakan jas dan peci hitam menyerupai penampilan Soeharto. Tujuannya untuk mengelabui sniper dalam mengenali sasaran utamanya.

Sebelum mendarat, Sjafrie sempat mengintip jendela pesawat. Ia bisa melihat ada senjata 12,7 mm, senjata yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat. Senjata itu terus berputar mengikuti arah pesawat.

Saat itu, bandara di Sarajevo dimiliki dua pihak yang bertikai, Bosnia dan Serbia. Wilayah ujung ke ujung dikuasai Serbia, samping kiri kanannya dikuasasi Bosnia.

Turun dari pesawat, Sjafrie langsung memosisikan diri seperti yang diinstruksikan Soeharto sehari sebelumnya, yaitu berada di dekat Soeharto. Sementara itu, Mayor Untung berjalan terlebih dulu agak di depan. Soeharto berjalan tenang.

Pasukan PBB menjemput dengan menyediakan panser buatan Prancis. Panser ini akan melewati Sniper Valley untuk mencapai Istana Presiden. Sniper Valley adalah wilayah yang dipenuhi oleh para sniper dari dua pihak yang bertikai.

 
Pasukan PBB menjemput dengan menyediakan panser buatan Prancis. Panser ini akan melewati Sniper Valley untuk mencapai Istana Presiden.
 
 

Soeharto memiliki alasan khusus untuk mengunjungi Bosnia. Saat itu, Indonesia menjadi ketua Gerakan Non-Blok. Bosnia yang merupakan pecahan Yugoslavia dianggap juga menjadi anggota Gerakan Non-Blok sebagaimana halnya Yugoslavia yang merupakan anggota.

“Ya, kita kan tidak punya uang. Kini ini pemimpin Negara Non-Blok, tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang, ya kita datang saja. Kita tengok,” ujar Soeharto seperti yang diceritaan oleh Sjafrie di buku Pak Harto, The Untold Stories.

Soeharto perlu mengendalikan risiko keamanan, sehingga kedatangannya bisa membuat senang yang didatangi. Begitulah cara Soeharto menaikkan morel masyarakat Bosnia.

Kini, Indonesia memegang presidensi G-20 yang akan mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi G-20 November 2022 di Bali. Sesudah mengunjungi Ukraina, Jokowi mengunjungi Rusia.

Ukraina bukan anggota G-20, melainkan negara nonblok meski bukan anggota Gerakan Non-Blok. Sebelum diserang Rusia, Ukraina menyatakan akan bergabung ke blok NATO. Sedangkan, Rusia merupakan anggota G-20, tetapi akibat serangan Rusia ke Ukraina, banyak negara anggota G-20 menolak kehadiran Rusia di Bali.


KH Ghalib, Patriot dari Lampung

Seperti umumnya para alim ulama, Kiai Ghalib menolak keras perintah seikerei.

SELENGKAPNYA

Renungan Arafah

Arafah memiliki banyak keutamaan, baik pada segi tempat maupun waktu.

SELENGKAPNYA

Sujiman Menemukan Cahaya Tauhid

Yang menarik hati Jiman adalah konsep ketuhanan dalam ajaran Islam. Ia terpesona akan tauhid.

SELENGKAPNYA
×