Sujiman, seorang mualaf, mulai tertarik pada Islam sejak bermimpi melihat Ka | DOK IST

Oase

03 Jul 2022, 03:29 WIB

Sujiman Menemukan Cahaya Tauhid

Yang menarik hati Jiman adalah konsep ketuhanan dalam ajaran Islam. Ia terpesona akan tauhid.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Secara naluriah, manusia mengakui adanya kekuatan di luar dirinya yang menciptakan dan mengatur segala hal. Pengakuan itu kian tampak ketika seorang insan mengalami kesulitan hidup, seperti bencana, musibah, atau ketidakadilan.

Terlebih lagi ketika ia dihadapkan pada fakta keras: keberadaannya di dunia ini hanyalah sementara. Cepat atau lambat, dirinya akan merasakan maut.

Pemikiran itulah yang melintas dalam benak Sujiman sebelum memutuskan untuk berislam. Sejak kecil, lelaki yang kini berusia 38 tahun itu dibesarkan dalam keluarga non-Muslim. Pria asal Semarang, Jawa Tengah, tersebut merasai rentetan peristiwa hingga hidayah Illahi datang kepadanya.

Mualaf yang akrab disapa Jiman itu menuturkan, saat belum mencapai akil baligh dirinya mengikuti agama neneknya dari garis ayah. Mulanya, ia tidak terlalu menghiraukan ajaran agama tersebut. Baginya, percaya kepada eksistensi Sang Pencipta, itu sudah cukup.

 
Mulanya, ia tidak terlalu menghiraukan ajaran agama tersebut. Baginya, percaya kepada eksistensi Sang Pencipta, itu sudah cukup.
 
 

Namun, semakin bertambahnya usia, pola pikirnya kian berkembang. Rasa keingintahuannya cukup besar. Memang, diakui orang-orang sekitarnya, Jimin muda termasuk kritis dalam melihat berbagai hal, termasuk kebenaran dalam agama.

Satu hal yang diperhatikannya ketika itu adalah dogma mengenai Tuhan. Menurut agama non-Islam yang dipeluk neneknya itu, Tuhan beranak. Artinya, eksistensi-Nya dipandang lebih dari satu. Bahkan, jumlahnya mencapai tiga.

Tiga bentuk ketuhanan itu acap kali membuatnya heran. Kalau ajaran itu benar, pikirnya, bukankah menjadi tidak ada perbedaan antara Dia dan makhluk-Nya? Padahal, bagaimana mungkin ciptaan diciptakan oleh sesama ciptaan pula?

Karena tidak kunjung menemukan jawaban logis, Jiman muda lantas bertanya kepada pemuka agama setempat. Akan tetapi, penjelasan yang disampaikan tokoh lokal itu tidak memuaskannya. Rasa penasaran masih saja ada.

Akhirnya, Jiman sampai pada titik gamang. Ada gejolak dalam dirinya untuk menemukan Tuhan yang sebenarnya. “Saya bertanya tentang sosok Tuhan yang punya anak dan bapak, tetapi pemuka agama di tempat tinggal saya itu tidak bisa menjelaskan,” ujar mualaf tersebut kala menceritakan kisahnya kepada Republika, baru-baru ini.

 
Jiman sampai pada titik gamang. Ada gejolak dalam dirinya untuk menemukan Tuhan yang sebenarnya.
 
 

Karena merasa tidak juga memperoleh jawaban yang meyakinkan, Jiman mengambil langkah drastis. Ia mulai berupaya mencari sendiri kebenaran tentang Tuhan. Caranya dengan melihat pada agama-agama lain. Kala itu, anak lelaki usia 15 tahun tersebut juga berpindah keyakinan sehingga mengikuti agama yang dianut ibunya.

Agama bundanya itu juga non-Islam. Bagaimanapun, lagi-lagi keresahan menggelayuti hati dan pikirannya. Ia kembali menyoroti persoalan ketuhanan dalam agama barunya itu. Dalam konsep teologi yang ada di sana, Tuhan juga berjumlah banyak. Bahkan, Dia dikatakan memiliki orang tua.

Kemudian, timbul pertanyaan dalam diri Jiman: “mengapa umat hanya menyembah anaknya Tuhan? Bukankah lebih pantas menyembah kedua orang tuanya?” Kerisauan pun membayangi batinnya. Ia mulai cemas, apakah benar agama ini adalah yang diridhai-Nya?

Saat duduk di bangku SMA, Jiman memutuskan untuk melanjutkan kembali pencariannya akan Tuhan. Semula, tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mempelajari Islam. Di lingkungan tempat tinggalnya, kaum Muslimin merupakan minoritas. Hanya kurang dari 10 keluarga yang memeluk Islam di sana.

Tertarik Islam

Sebelum cahaya petunjuk Allah SWT datang ke sanubarinya, Jiman sama sekali tidak pernah membayangkan pada akhirnya tertarik pada Islam. Saat masih muda, dirinya sempat mempercayai pelbagai stigma tentang agama ini. Ia bahkan dahulu membenci azan, suara yang sering menggema dari pengeras suara di masjid-masjid sekitar rumahnya.

Bagaimana mulanya tergerak untuk mendalami Islam? Itu berawal dari sejumlah mimpi aneh yang kerap dialaminya dalam beberapa pekan. Sejak 1999, ia merasa bunga tidur yang dialaminya seperti menunjukkan sebuah petanda.

 
Bagaimana mulanya tergerak untuk mendalami Islam? Itu berawal dari sejumlah mimpi aneh yang kerap dialaminya dalam beberapa pekan.
 
 

Sebagai contoh, pada suatu malam dirinya bermimpi, yakni sedang diperlihatkan hamparan jalan dari arah barat ke timur. Disaksikannya sisi jalan yang begitu gelap pekat. Namun, tidak lama kemudian datanglah dua orang dari arah yang berlawanan. Keduanya membawa nyala cahaya sehingga jalan yang membentang di depannya menjadi terang benderang.

Kedua orang itu lantas menuntunnya ke dekat suatu bangunan. Belakangan, sesudah Jiman memeluk Islam, barulah dirinya mengetahui, bangunan yang dilihatnya dalam mimpi itu adalah Ka’bah.

Masih dalam mimpinya, Jiman menyaksikan kedua sosok misterius itu menyebutkan tentang Islam. Tepat pada momen tersebut, dirinya terjaga. Dalam keadaan masih mengantuk, ia mencoba untuk melupakan mimpi itu.

Akan tetapi, beberapa malam kemudian ia kembali memperoleh mimpi yang janggal. Dalam mimpinya kali ini, ia seperti menyaksikan susunan matahari, bintang, dan bulan. Ketiga benda langit itu dalam garis edar yang sejajar.

Yang membuatnya terkejut adalah mimpi lainnya, yang dialami beberapa malam sesudah mimpi aneh kedua. Ketika itu, ia bermimpi menyaksikan pemandangan mengerikan. Tampak di depan matanya, orang-orang sedang disiksa dalam api yang menyala.

Jiman sembari melihat hal itu merasakan kenikmatan. Namun, segera sesudah itu datanglah dua sosok yang tanpa basa basi “menyuruh” dia agar segera kembali ke dunia. Sebab, kata mereka, belum tiba waktu baginya untuk datang ke tempat tersebut.

Beberapa malam berlalu. Suatu ketika dirinya tertidur, mimpi lain dialaminya. Waktu itu, ia bermimpi sedang duduk di dekat Ka’bah. Di dekatnya, orang-orang tampak sedang mendengungkan doa. Tanpa disadarinya, ia mengangkat kedua tangan; meniru cara mereka dalam bermunajat kepada Tuhan.

 
Waktu itu, ia bermimpi sedang duduk di dekat Ka’bah. Di dekatnya, orang-orang tampak sedang mendengungkan doa.
 
 

Beberapa hari kemudian, Jiman kian merasa tidak nyaman dengan serentetan mimpinya itu. Untuk berdamai dengan batinnya sendiri, ia berupaya mencari tahu tentang Islam. Pada suatu siang, bersama dengan seorang kawannya, remaja tersebut menyambangi sebuah toko buku.

Ia pun menuju deretan rak buku-buku agama. Dan, inilah untuk pertama kalinya Jiman mengambil buku dari bagian “Islam”. Saat hendak mengambil sebuah buku, tiba-tiba satu mushaf Alquran terjatuh di depannya.

Ketika sedang mengambil benda tersebut, tangannya tidak sengaja membuka mushaf ini. Setelah membukanya, tampaklah halaman yang menunjukkan kutipan Alquran beserta artinya. Ayat yang dimaksud adalah Ali Imran ayat 102.

Ia pun membaca arti dari ayat tersebut. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” Kalimat itu seperti menohok kesadarannya secara telak. Seakan-akan setelah melihatnya, ia merasa ditegur oleh Tuhan.

Ketika itu, orang-orang masih mengenalnya sebagai remaja yang tidak suka Islam. Karena itu, mengambil dan membeli mushaf Alquran dari toko buku hanya akan memalukan dirinya di depan umum. Jiman pun secara sembunyi-sembunyi membeli mushaf kitab suci tersebut. Lantas, dengan diam-diam pula dirinya membaca ayat demi ayat yang termaktub di dalamnya.

Jiman terlalu malu akibat sejak kecil dirinya dikenal membenci Islam. Sekarang, justru rasa penasarannya begitu tinggi akan agama ini. Setelah memahaminya seorang diri melalui berbagai bacaan, Jiman kemudian bertekad untuk bersyahadat. Pada 2003, lelaki itu mulai mencari seorang ustaz atau kiai sebagai membimbing.

photo
Sujiman bersama keluarga tercinta - (DOK IST)

Menjadi Muslim

Setelah mencari-cari, Jiman akhirnya berkenalan dengan seorang pemuka agama Islam di Salatiga, Jawa Tengah. KH Ridwanto, demikiannamanya, bersedia untuk menjawab apa pun pertanyaannya mengenai Islam.

Satu hal yang menarik hati Jiman adalah konsep ketuhanan dalam ajaran Islam. Ia terpesona akan tauhid. Akidah Muslimin meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Allah tidak beranak. Dia tidak pula diperanakkan.

Dalam waktu relatif singkat sejak perkenalannya dengan Kiai Ridwan, Jiman pun membulatkan tekadnya. Hatinya sudah mantap untuk memeluk Islam. Saat prosesi syahadat akan berlangsung, sang kiai sempat dibuatnya terkejut. Sebab, baru kali itu ulama tersebut menyaksikan, ada seorang (calon) mualaf yang lancar penuturan bahasa Arab: “Asyhadu anlaa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.”

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah,” ucap Jiman.

Usai resmi menjadi seorang Muslim, Jiman masih berguru kepada Kiai Ridwan. Dalam waktu relatif singkat, dia sudah dapat mendirikan shalat tanpa melihat sumber bahan bacaan. Fenomena itu semakin membuat bingung sekaligus senang sang kiai.

Atas saran gurunya itu, Jiman lantas mendalami Islam di Pondok Pesantren Sunan Giri, Salatiga, Jawa Tengah. Setelah belajar Alquran, Jiman kembali ke kampung halamannya. Dan memberitahukan keislamannya kepada kedua orang tuanya.

Bersyukur, keluarga menerima pilihan hidupnya. Mereka memang tidak terlalu mempersoalkan perbedaan keyakinan. Keberagaman bukanlah hal yang tabu baginya. Sebaliknya, pertentangan justru datang dari kawan-kawannya dahulu semasa SMA.

 
Dengan sabar, Jiman memberi tahu kepada mereka tentang konsep ketuhanan dalam Islam. Tauhid sangat simpel dan dapat diterima akal.
 
 

Mengetahui dirinya masuk Islam, mereka kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bernada serangan terhadap agama ini. Dengan sabar, Jiman memberi tahu kepada mereka tentang konsep ketuhanan dalam Islam. Tauhid sangat simpel dan dapat diterima akal.

Kini, keislaman Jiman ternyata menjadi jalan hidayah bagi orang-orang sekitarnya. Dahulu, di kampung halamannya hanya ada sekitar tujuh keluarga yang Muslim. Sekarang, puluhan keluarga menjadi pemakmur masjid setempat.

“Dari tujuh keluarga, kini Muslim di Kampung Getasan sudah menjadi 57 keluarga. Alhamdulillah. Termasuk saya sendiri yang kini telah berkeluarga,” paparnya.


Yang Tak Mungkin Bersanding

Jika boleh memilih tentu saja kaum Muslimin memilih tidak ada khamar di muka bumi.

SELENGKAPNYA

KKHI Makkah Sukses Lakukan Operasi Besar 

Tim KKHI Makkah dalam hitungan jam menyulap ruang kosong menjadi ruang tindakan.

SELENGKAPNYA

Agar tak Diusir Askar

Larangan itu disampaikan secara bersamaan oleh para askar ketika waktu shalat sudah dekat.

SELENGKAPNYA
×