Puisi Makam yang Tak Terbakar | Daan Yahya/Republika

Sastra

Mawar yang tak Terbakar

Puisi Iwan Setiawan

Oleh IWAN SETIAWAN

Perempuan yang Datang dari Ayat


engkau datang bukan dari pintu,

melainkan dari huruf-huruf

yang gugur dari langit subuh

aku menemui-Mu

di sela wudu yang belum kering

di antara doa yang masih basah

oleh ragu

wajahmu seperti tafsir yang tak selesai

semakin kubaca

semakin aku tersesat

ke dalam makna yang lebih dalam

kau ajarkan aku mencintai

tanpa memiliki

seperti bumi mencintai hujan

tanpa pernah meminta namanya

Tuhan menaruh bayang-Mu

di halaman hatiku

agar aku belajar

bahwa rindu bukan sekadar api,

melainkan cahaya yang menuntun pulang

 

Padang, 2026

***

 

Di Bawah Langit yang Berzikir

 

langit malam menurunkan bintang

seperti tasbih yang terlepas

dari jemari malaikat

aku berdiri di hadapan-Mu

membawa cinta yang belum selesai

dan dosa yang belum sempat kutinggalkan

Engkau hadir

dalam napas perempuan yang kucintai

setiap helaannya adalah ayat yang tak tertulis

namun kubaca dengan gemetar

cinta ini tak lagi sekadar hasrat

ia menjelma jembatan

antara tubuh dan ruh

antara debu dan cahaya

jika aku menyentuh tangannya

yang kuraba sesungguhnya

adalah jejak-Mu

yang bersembunyi di balik kulit.

 

Padang, 2026

***

 

Mawar yang tak Terbakar

 

aku membawa mawar ke hadapan-Mu,

namun ia tak terbakar

meski api rindu menyala

barangkali cinta

bukan untuk dihanguskan

melainkan untuk dijaga

seperti rahasia yang suci

perempuan itu memandangku

dengan mata yang berisi laut

aku tenggelam tanpa perlu karam

di dasar pandangnya

kutemukan Engkau

bersemayam tenang

seperti imam yang memimpin sunyi

aku pun mengerti

mencintainya adalah cara

untuk belajar mencintai-Mu

tanpa syarat

 

Padang, 2026

***

 

Tubuh yang Menjadi Doa

 

tubuhmu bukan sekadar tubuh,

ia adalah sajadah yang dibentangkan angin senja

ketika jemariku menyentuh udara di sekitarmu

aku seperti menyentuh gema

yang memanggil Nama-Nya

cinta kita bukan percakapan biasa

ia adalah dzikir yang tak bersuara

mengalir dari pori ke pori seperti sungai cahaya

di antara jarak dan dekap

aku belajar satu hal

bahwa Tuhan lebih dekat

daripada detak

yang membuatku menyebut namamu

 

Padang, 2026

***

 

Kekasih dan Kiblat

 

aku mencari kiblat di wajahmu

Bukan untuk menyembah

melainkan untuk memahami arah

yang pernah hilang

Senyummu adalah kompas

menunjuk ke dalam

tempat di mana Tuhan

menyembunyikan rahasia-Nya

setiap kali aku mencintaimu

aku sedang menanggalkan diriku

lapis demi lapis

hingga yang tersisa

hanya getar yang tak bernama

dan di getar itu

aku menemukan sujud

yang paling sunyi

 

Padang, 2026

***

 

Rindu yang Menjelma Langit

 

rindu ini tak lagi berwujud kata

ia membentang seperti langit tanpa tepi

aku berjalan di bawahnya

membawa bayang-Mu

yang menempel di dada

setiap awan adalah isyarat

setiap angin adalah bisik

yang menyebutkan

cinta bukan milik siapa-siapa

ia adalah titipan

agar manusia belajar

menjadi lembut

dan ketika aku memelukmu

dalam doa yang tak terucap

yang kupeluk sebenarnya

adalah rahmat

yang menyaru menjadi perempuan

 

Padang, 2026

***

 

Menuju Fanamu

 

pada akhirnya

aku tak lagi membedakan

antara engkau dan Engkau

segala yang kucintai

melebur seperti tinta

di dalam lautan makna

tubuh hanyalah perahu

cinta adalah angin

dan Engkau adalah samudra

yang tak terhingga

aku berlayar

tanpa ingin sampai

sebab tujuan bukanlah pelabuhan

melainkan lenyapnya aku

di dalam-Mu

jika suatu hari

namaku hilang dari dunia

biarlah ia tinggal sebagai gema kecil

yang pernah belajar mencintai-Mu

melalui seorang perempuan

 

Padang, 2026

***


Iwan Setiawan lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Ia adalah penyair Indonesia yang dikenal melalui karya-karya bernapas sufistik, melankolis, dan reflektif, dengan kecenderungan mengeksplorasi tema cinta ilahiah, kehilangan, kerinduan, luka batin, serta perjalanan spiritual manusia. 

Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring, serta dibaca dan didiskusikan di ruang-ruang sastra dan komunitas literasi. Pada tahun 2017, ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera sebagai pengakuan atas konsistensi dan kekhasan estetik dalam kepenyairannya.

Iwan Setiawan telah menerbitkan buku puisi Sang Pencari Cinta, serta Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan), yang menegaskan posisinya sebagai penyair yang setia pada jalur spiritual dan perenungan eksistensial.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat