Sastra
Makam Keramat
Cerpen M Afin Masrija
Oleh AFIN MASRIJA
Kakek Randu, lelaki renta berusia hampir delapan puluh, duduk di lincak bambu depan rumahnya. Sorban lusuhnya melilit leher, tangan kirinya memegang cangkir teh yang belum disentuh. Seperti biasa tetangganya bertanya dengan padangan yang tak biasa.
“Lek, njenengan kok durung pernah sowan nang makam keramat kae?” tanya Paijan, tetangganya, suatu sore. Nada suaranya menyiratkan sesuatu antara heran dan mencibir.
Kakek Randu hanya tersenyum tipis.
“Aku tak kenal beliau, Ro. Tak ada riwayatnya.”
Memang Di Desa Sumbersongo, Kediri, kabar-kabar ganjil kerap tumbuh lebih cepat daripada padi. Salah satunya tentang sebuah makam keramat yang akhir-akhir ini jadi tujuan orang ngalap berkah: Makam Syaikh Ulumuddin Al Kamil—nama yang bahkan Kakek Randu belum pernah dengar sepanjang hidupnya sebagai santri dan pengajar ngaji.
“Lupa kali lek”
“Aku iki wis nyantri puluhan taun, Jan. Kalau ada wali sepuh yang makamnya di sekitar sini, mestinya aku pernah dengar. Wong Kediri iki cilik.”
“Tapi sing ndelok wis akeh, Lek,” sambung Paijan.
“Katanya banyak yang dapat tuah. Ada yang dagangannya laris, ada yang sembuh. Masak njenengan nggak penasaran? Jangan-jangan sampean Islam radikal yang nggak percaya berkah” ia terkekeh.
“Aku percaya berkah,” jawab Kakek Randu pelan.
“Tapi juga percaya ilmu. Sing penting jelas asal-usulnya.”
Dalam beberapa pekan, keriuhan di makam itu makin menjadi. Majelis dzikir berdiri, spanduk-spanduk tabligh akbar terpasang, pengeras suara mengumandangkan lantunan-lantunan doa hampir tiap malam.
Di warung Bu Sarmi, cibiran makin lantang.
“Pak Randu nganggep dirinya paling pinter,” gerutu seseorang.
“Wes sepuh kok isih ngeyel,” timpal lainnya.
“Apa ora wedi dosa nolak wali?”
“Atau Jangan-jangan kakek iri karena sekarang banyak yang ziarah ke sana, atau mungkin karena bukan dia yang menemukan makam itu” kata seseorang dari ujung meja.
Gelak tawa menyertai kalimat itu
Kakek Randu mendengar semuanya, meski ia berpura-pura tuli. Tapi cibiran itu seperti kerikil kecil yang terus dilemparkan ke pintu hatinya. Lama-lama membuat nyeri.
Cibiran makin hari makin menjadi. Anak kecil pun mulai ikut-ikutan.
“Simbahe Pa Atun itu lho, anti makam! Radikal!!” seru mereka sambil berlarian.
Pada suatu malam tanpa bulan, ketika desa sunyi dan hanya suara jangkrik memagut telinga, ia mengambil cangkul kecil dan lampu sentir.
“Aku harus tahu,” gumamnya.
“Apa benar makam itu suci, atau hanya akal-akalan.”
Langkahnya gontai namun tegas menuju bukit kecil tempat makam itu berada.
Di depan cungkup yang remang, Kakek Randu menarik napas panjang, di depan makam yang dipenuhi kain penutup hijau dan taburan bunga setengah layu. Setelah menyalakan petromaks, dan menggantungnya di batang pohon ketapang.
“Maafkan aku, Syaikh—siapa pun engkau. Aku hanya ingin kebenaran.”
Tangannya gemetar menggali perlahan, tanah lembap tercium kuat. Keringatnya bercampur debu.
Cangkulnya menghantam tanah merah yang masih lembap. Napasnya memburu. Sesekali ia berhenti, tak yakin pada dirinya sendiri, seperti kentongan tanda bahaya. Namun ia terus menancapkan cangkul, membalik tanah, menggali lagi dan lagi.
Baru beberapa menit, suara teriakan terdengar dari belakang.
“Heh! Sopo kuwi?!”
Beberapa pemuda penjaga desa berlari mendekat. Lampu-lampu senter mengarah pada tubuh ringkih Kakek Randu yang sedang menancapkan cangkul.
“Pak Randu?? Astaghfirullah! Panjenengan edan?!”
“Aku cuma pengin bukti,” suara Kakek Randu bergetar.
“Astaghfirullah!! Bukti opo?! Nggali makam wali? Kurang ajar!”
“Penghinaan!”
“Penodaan makam wali!”
“Gila!”
“Ayo kalau tidak percaya!! kita lihat Lihat… apa yang ada di bawahnya…” Tangannya terus mencangkul, nafasnya makin tersenggal-senggal.
“Berhenti, Kek!!” Bantak warga.
“Sampean sudah menghina wali!”
“Kafir!!”
“Pukul saja!”
Dalam hitungan detik, massa berdatangan. Senter, kayu, bahkan batu melayang. Kakek Randu limbung, tubuhnya menerima pukulan bertubi-tubi.
“Aja… Aja diteruske…” suaranya parau.
“Cukup! Ojo diterusno!”
Tubuh pria renta itu roboh, diam, tak bergerak.
Di tengah lingkaran manusia itu, liang galian tampak menganga. Sunyi. Kosong.
Seseorang memegang lampu senter, menggoyangkannya ke dalam.
“Lho… kok… ora ono opo-opo?”
“Cek maneh! Mungkin keplok sidik!”
“Tidak ada… tak ada kain kafan… tak ada tulang…”
“Besuk aja kita lanjutkan”
“Yang penting Kakek Randu segera ditolong”
Sunyi segera membungkus malam.
Pagi harinya, makam itu dikerumuni warga dan aparat desa. Ada kegaduhan, ada bisik-bisik, ada ketakutan.
“Coba buka galian itu…” kata salah satu aparat.
“Gali terus!!”
“Biar jelas, iki salah sopo!”
Dan ketika lubang itu terbuka sepenuhnya, orang-orang makin terperanjat.
Tidak ada apa-apa di dalamnya. Tanah kosong. Tak ada kain kafan. Tak ada tulang. Tak ada peninggalan apa pun.
Hanya kehampaan yang lebih sunyi daripada kematian.
seorang lelaki berjubah putih berkata lantang,
“Jasad wali itu diangkat Allah, seperti kisah ulama-ulama besar. Ini bukti kemuliaannya!”.
“Omong kosong! Iki jelas makam palsu!” bantah lainnya.
“Bisnis! Dolanan iman!”
Suara-suara itu saling bertabrakan, membelah warga menjadi dua kubu. Ada yang memandang dengan mata berkaca, ada yang memandang dengan amarah terselubung. Desa terbelah. Saling curiga. Saling tuduh.
Namun satu kenyataan tak dapat dibantah: Kakek Randu tewas karena mempertanyakan sesuatu yang ternyata—tak dimiliki siapa pun. Dan Kakek Randu dimakamkan tanpa banyak kata.
Beberapa minggu kemudian, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Pasar tetap riuh. Anak-anak tetap bermain layang-layang di sawah. Majelis dzikir masih digelar, meski jumlah jamaah tak seramai dulu.
Namun bisik-bisik di warung, di teras mushala, dan di pinggir jalan tak pernah berhenti.
“Kasihan Kakek Randu… ternyata dia tidak salah.”
“Justru karena kurang iman, jadinya begitu.”
“Tapi Setidaknya kita Jadi Tahu”
“Tapi siapa yang tahu? Bisa saja makamnya memang keramat.”
“Tidak ada jasadnya, lho. Itu tandanya wali agung.”
“Ah, itu tanda bisnis saja.”
“Tak ada yang punya jawaban pasti. Seperti sebagian besar cerita di desa-desa tua. Kebenaran kadang hanya jadi milik angin yang lalu, sementara manusia sibuk membenarkan keyakinannya sendiri.
Di lincak bambu yang kini kosong, sorban lusuh Kakek Randu masih tergantung. Ditiup angin pelan, seakan mengisyaratkan sesuatu yang tak sempat ia katakan:
Bahwa kebenaran, seperti makam itu, kadang hanya terlihat jika seseorang berani menggali—meski risikonya adalah dirinya sendiri.
Nama Kakek Randu tetap menggantung—seperti pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.
***
M Afin Masrija adalah orang asli Kediri yang pernah merantau ke Yogyakarta dan Magetan. Ia aktif menulis opini dan cerpen yang dimuat di berbagai media online maupun media cetak, dengan tema sosial, pendidikan, dan kehidupan keseharian.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
