Internasional
Keanggotaan di Board of Peace Jadi Ujian Diplomasi Indonesia
Indonesia tidak boleh sekadar mengikuti arus kekuatan besar.
JAKARTA – Global Insight Forum (GIF) menilai keputusan Indonesia bergabung sebagai anggota awal Board of Peace (BoP) membuka peluang strategis bagi diplomasi global Indonesia. Namun, langkah tersebut juga menghadirkan risiko geopolitik yang tidak ringan.
Hal itu mengemuka dalam webinar nasional bertajuk “Di Balik Narasi Perdamaian: Apa Makna Board of Peace bagi Posisi Geopolitik Indonesia?” yang digelar secara daring, Sabtu (14/2/2026) dan diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati hubungan internasional.
Direktur Eksekutif GIF, Teuku Rezasyah, menyatakan keikutsertaan Indonesia dalam BoP membawa mandat diplomasi penting, khususnya terkait isu Palestina. Namun, ia mengingatkan adanya dominasi Amerika Serikat dan Israel dalam struktur awal aliansi tersebut.
“Indonesia memiliki peluang memperjuangkan diplomasi kritis dari dalam. Tetapi kita juga harus realistis melihat konfigurasi kekuasaan yang ada. Jika kepentingan nasional diabaikan, Indonesia memiliki legitimasi untuk mengambil sikap tegas,” ujarnya.
Peneliti Senior GIF, Chandra Purnama, menilai struktur BoP menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai masa depan multilateralisme global. Keanggotaan yang selektif serta indikasi konsentrasi pengaruh pada aktor tertentu dinilai berpotensi menggeser prinsip hukum internasional ke arah dominasi kekuasaan.
“Jika tata kelola global semakin berbasis hegemoni, maka norma dan multilateralisme akan tergerus. Indonesia sebagai middle power harus memperkuat otonomi strategis dan memimpin konsolidasi Global South,” katanya.
Sementara itu, Senior Fellow GIF Faisal Nurdin menyoroti keputusan Indonesia dari perspektif realisme dan kepentingan nasional. Menurutnya, partisipasi dalam BoP merupakan langkah pragmatis untuk mengamankan posisi strategis di tengah dinamika global.
“Negara bertindak berdasarkan self-interest dan keseimbangan kekuasaan. Namun Indonesia tidak boleh sekadar mengikuti arus kekuatan besar, melainkan memanfaatkan perannya sebagai middle power secara strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, kontribusi Indonesia—termasuk rencana pengiriman pasukan perdamaian—dapat meningkatkan profil internasional Indonesia. Namun, langkah tersebut harus dibarengi pengawasan ketat dan kalkulasi risiko yang matang.
Dari sisi persepsi global, Innayathul Fitrie, Peneliti Kebijakan dan Hubungan Internasional, memaparkan bahwa respons media internasional terbelah. Sejumlah media memandang langkah Indonesia sebagai perjudian diplomatik yang berisiko terhadap reputasi nasional, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang strategis untuk memperluas pengaruh global.
“Publik internasional akan menagih konsistensi Indonesia dalam merealisasikan komitmennya, terutama terkait dukungan nyata terhadap Palestina,” ujarnya.
Moderator diskusi, Aan Fatwa, menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi Indonesia di BoP sangat bergantung pada transparansi, akuntabilitas, dan pelibatan masyarakat sipil.
“Diplomasi tidak boleh elitis. Harus ada keterbukaan pendanaan, kejelasan mandat, serta ruang partisipasi publik agar kebijakan luar negeri tetap demokratis dan sejalan dengan prinsip bebas aktif,” katanya.
Para narasumber sepakat bahwa keanggotaan Indonesia di BoP merupakan peluang untuk memperkuat kredibilitas global dan memimpin diplomasi perdamaian. Namun, tanpa strategi yang jelas dan konsensus nasional yang kuat, langkah tersebut berpotensi menghadirkan tekanan geopolitik baru.
GIF merekomendasikan agar Indonesia memperkuat kepemimpinan dalam koalisi Global South, menjaga prinsip hukum internasional dan multilateralisme, serta melakukan monitoring berkelanjutan terhadap implementasi peran Indonesia di BoP guna memastikan kepentingan nasional tetap terjaga.
Global Insight Forum merupakan lembaga think tank independen yang memusatkan perhatian pada kajian geopolitik global, hubungan internasional, isu keamanan, serta kepentingan strategis nasional Indonesia. GIF menggabungkan pendekatan akademis, analisis kebijakan, dan riset empiris untuk memahami dinamika global yang berimplikasi langsung terhadap posisi dan kepentingan Indonesia.
Sebagai pusat kajian strategis, GIF berkontribusi dalam menghasilkan pemikiran dan rekomendasi berbasis riset guna memperkaya ruang diskursus publik serta menjadi referensi bagi pengambil kebijakan, kalangan akademisi, dan komunitas strategis nasional. Melalui forum diskusi, webinar, dan publikasi analitis, GIF mendorong dialog yang kritis, objektif, dan non-partisan dengan tetap menempatkan kepentingan nasional Indonesia serta solidaritas Global South sebagai landasan utama.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
