Seorang askar Saudi mengwasi jamaah di Masjidil Haram pada musim haji 2021 lalu. | AP/Amr Nabil

Kabar Tanah Suci

02 Jul 2022, 03:45 WIB

Agar tak Diusir Askar

Larangan itu disampaikan secara bersamaan oleh para askar ketika waktu shalat sudah dekat.

OLEH ALI YUSUF dari Makkah

Tepat pukul 01.00 WAS, petugas yang mengenakan pakaian militer membangunkan semua jamaah yang sedang tertidur pulas di lantai tiga Masjidil Haram. Saya menjadi bagian orang yang terperanjat atas suaranya yang nyaring membangunkan jamaah.  

Alhamdulillah, pada Kamis (30/6) malam saya tertidur di Haram setelah menyelesaikan shalat Isya. “Yalla hajji, hajat... hajat,” begitu cara mereka membangunkan semua jamaah yang tertidur di lantai tiga.

Saya langsung pergi ke kamar mandi yang berjarak dua kilometer dari lantai tiga ke toilet nomor enam. Setelah kembali ke lantai tiga, saya melaksanakan tawaf, sesekali istirahat untuk menunaikan shalat. Saya mencari posisi shaf satu garis lurus dengan Hajar Aswad dan Multazam. Karena waktu masih tengah malam, posisi ini masih aman dan mudah didapat.

Namun, berbeda ketika azan pertama pada pukul 03.00 WAS dikumandangkan muazin Masjidil Haram. Jamaah mulai berdatangan. Lantai tiga yang begitu luas mulai terasa sesak, karena para petugas askar yang menggunakan pakaian warna coklat dan militer mendorong pembatas ke depan, sehingga mempersempit ruang tawaf.

 
Permintaan larangan mendekat di tempat-tempat yang sudah disekat menjadi pemandangan yang lazim di dua masjid suci di Makkah dan Madinah.
 
 

Pembatas yang terbuat dari plastik ini digunakan untuk menghalangi jamaah mendekati pagar balkon. Karena batas itulah jamaah tidak bisa melihat orang tawaf di depan Ka’bah yang megah dari atas. Waktu azan Subuh tinggal 30 menit lagi dari waktu shalat di Masjidil Haram 04.14 WAS.

Lagi-lagi, para petugas keamanan Masjidil Haram berteriak memanggil, “Haji... yalla Haji...”. Permintaan larangan mendekat di tempat-tempat yang sudah disekat menjadi pemandangan yang lazim di dua masjid suci di Makkah dan Madinah. Larangan itu disampaikan secara bersamaan oleh para penjaga Masjidil Haram ketika waktu shalat sudah dekat.

Menjelang iqamat, para petugas sudah menyisir jamaah yang merapat ke pembatas balkon. Mereka memukul-mukul pembatas tersebut agar jamaah tidak merapat saat dilarang mendekat pembatas. Kondisi itu membuat para petugas memasang pita pengaman yang luasnya lima meter dari pembatas balkon.

"Haji.. yalla Haji," seru petugas yang di baju militernya tertulis Fayez M Al-Lihyani sambil mengibas-ngibas tangannya di hadapan jamaah.

 
Menjelang iqamat, para petugas sudah menyisir jamaah yang merapat ke pembatas balkon.
 
 

Hal yang sama juga dilakukan oleh petugas lainnya. Petugas ini tak segan menarik bahkan mendorong jamaah ke belakang agar tak memaksakan diri mendekat pembatas. Banyak jamaah di depan saya yang didorong, bahkan ditarik agar tidak mendekat dengan pembatas balkon.

Namun, ada hal menarik saya alami. Apa yang mereka lakukan kepada jamaah lain, tak mereka lakukan kepada saya dan juga jamaah yang sedang mendirikan shalat. Para petugas ini tak mau melakukan itu kepada jamaah yang sedang shalat, mereka membiarkan jamaah shalat sampai selesai, meski ada di dalam wilayah terlarang untuk digunakan shalat.

Tentu ini menjadi teknik unik supaya tak diusir para askar. Padahal, saya tidak melaksanakan shalat, hanya duduk diam tanpa kata di antara dua sujud, sesekali menundukan kepala sampai ke lantai, meminta ampun dan memohon agar rasa ingin buang air kecil hilang.

Sudah hampir dua jam saya menahan keinginan ini sampai keluar keringat dingin. Banyak alasan kenapa saya tidak segera pergi ke toilet, selain jaraknya jauh hampir dua kilomer. Jalan untuk dilalui juga sudah padat, sehingga sulit dilewati. Begitulah keadaan jamaah ketika waktu shalat sudah tiba. Maka, saf-saf akan terisi rapat tanpa celah.

 
Namun, ada hal menarik saya alami. Apa yang mereka lakukan kepada jamaah lain, tak mereka lakukan kepada saya dan juga jamaah yang sedang mendirikan shalat. 
 
 

Karena keadaan serba sulit, akhirnya saya pasrah, berdoa agar Allah SWT memberikan saya kekuatan untuk menahan rasa ingin buang air kecil. Demi menghilangkan rasa ingin buang air kecil itu, saya sengaja minum air zamzam sambil berdoa apa yang diinginkan, salah satunya dihilangkan rasa ingin buang air kecil, supaya bisa shalat subuh berjamaah di depan Ka'bah. Setelah pasrah, berusaha dan doa, Alhamdulillah, rasa ingin buang air kecil hilang saat itu juga. Masya Allah.

Alhamdulillah, selama tujuh hari tinggal di Makkah, sudah tiga kali mendapat kesempatan shalat di Masjidil Haram meski di lantai tiga. Sebagai petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) Arab Saudi bidang kesehatan, saya dan sesama petugas lainnya tak bisa sekehendak hati shalat lima waktu di depan Kabah.

Selain karena padatnya program kerja internal yang harus diselesaikan setiap PPIH, waktu tempuh perjalanan dari Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah Masjidil Haram tidak singkat. Perlu waktu kurang lebih 15 menit dengan kondisi jalan lancar untuk sampai Masjidil Haram.

 
Di tempat penyeberangan itu sering terdengar kabar adanya jamaah mengalami kecelakaan akibat tertabrak kendaraan yang melaju dengan cepat.
 
 

Waktu tempuh itu bisa bertambah dua kali lipat saat waktu menjelang shalat. Karena bus nomor 6 yang mengangkut penumpang dari KKHI Madinah harus melaju pelan-pelan seiring banyaknya jamaah haji yang melintas tanpa melihat sekitar.

Pemandangan itu seperti yang terlihat di daerah Mahbas Jin sektor satu tempat jamaah haji embarkasi SUB dan LOP tinggal. Pada waktu-waktu menjelang shalat, banyak jamaah haji berduyun-duyun melintas di tempat ini untuk menuju halte pengumpan bus shalawat yang mengantar ke Masjidil Haram.

Di tempat penyeberangan itu sering terdengar kabar adanya jamaah mengalami kecelakaan akibat tertabrak kendaraan yang melaju dengan cepat. Demi menghindari hal itu terjadi pada jamaah haji Indonesia, petugas seksi transportasi sektor satu Mahbas Jin Mashuri Masyhuda mengingatkan agar jamaah haji fokus saat menyeberang jalan.

Meski terdengar sudah banyak jamaah yang mengalami kecelakaan, saya belum mendengar otoritas pemerintah Arab Saudi berencana membangun jembatan penyeberangan orang (JPO).

Sepanjang perjalanan dari KKHI Makkah sampai ke Masjidil Haram, begitu pun sebaliknya, belum pernah saya melihat ada jembatan penyeberangan orang di tengah-tengah jalan, terutama di daerah Aziziyah. Mudah-mudahan jamaah selalu diberikan keselamatan.


Tenda Kesehatan di Mina Diperbaiki

Segala persiapan menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina terus dilakukan.

SELENGKAPNYA

Apa Itu Haji Akbar?

Bila wukufnya hari Jumat, pada tahun tersebut adalah haji akbar.

SELENGKAPNYA

Sambutan Check Point Saat Kembali ke Makkah

Selain Shumaisi dan Jumum, masih ada terminal check point lain yang menyortir masuknya jamaah ke Makkah.

SELENGKAPNYA
×