Polisi SAudi memeriksa kelengkapan dokumen di pos pemeriksaan menuju Makkah pada musim haji 2021 lalu. | AP/Amr Nabil

Kabar Tanah Suci

01 Jul 2022, 03:45 WIB

Sambutan Check Point Saat Kembali ke Makkah

Selain Shumaisi dan Jumum, masih ada terminal check point lain yang menyortir masuknya jamaah ke Makkah.

OLEH A SYALABY ICHSAN dari Makkah

Mesin van putih keluaran pabrikan asal Jepang itu sudah dipanaskan. Mobil bernomor 27 yang menjadi kendaraan operasional sehari-hari kami untuk meliput kegiatan haji akan melakukan pekerjaan ekstra. 

Kang Nunu, sopir yang sehari-hari menemani kami, akan membawa mobil itu melaju ke Makkah. Di parkiran kantor Daker Madinah di kawasan al-Mashani, mobil kami tampak mentereng bersama jejeran bus yang sudah siap melaju.  

Berangkat ke Makkah menjadi momentum spesial bagi kami. Meski sudah menunaikan ibadah umrah qudum yang dilakukan sebelum melaksanakan haji tamattu, kami sudah rindu Masjidil Haram. Terlebih, Makkah akan berbeda daripada saat kami tiba pada 1 Juni lalu. Ketika itu, suasana kota masih terbilang lengang. Meski tidak sedikit jamaah yang sedang berumrah, kami bisa menjalankan ibadah di Masjidil Haram dengan nyaman. 

Kini, kota suci itu akan dipenuhi lagi oleh jamaah dari beragam penjuru bumi. Dia akan menjadi tuan rumah muzakarah umat Islam terbesar seantero dunia, yakni haji.

 

 
Arab Saudi memang belum menormalisasi sepenuhnya penyelenggaraan ibadah haji setelah sempat digelar tertutup pada dua tahun terakhir akibat pandemi. 
 
 

 

Arab Saudi memang belum menormalisasi sepenuhnya penyelenggaraan ibadah haji setelah sempat digelar tertutup pada dua tahun terakhir akibat pandemi. Dari jumlah yang mencapai hampir 2,5 juta jamaah pada 2019, Saudi menurunkannya hingga hanya 1 juta jamaah. Indonesia yang baru saja menolak dengan halus tawaran kuota tambahan hanya kebagian 100.051 jamaah.

Untuk memastikan jamaah haji sampai ke Arab Saudi tanpa membawa penyakit, ada skrining awal yang dilakukan di negara asal. Jamaah diharuskan untuk menjalani tes PCR dalam kurun 72 jam sebelum pemberangkatan.

Mereka pun diwajibkan untuk mendapatkan vaksin Covid-19 dosis lengkap. Syarat lainnya, usia harus di bawah 65 tahun. Semua jamaah, termasuk petugas seperti kami, harus memenuhi persyaratan tersebut sebelum pergi ke Tanah Suci. 

Bagi jamaah yang tiba di Arab Saudi menjelang puncak musim haji seperti sekarang, mereka akan melalui beberapa pemeriksaan di terminal check point. Pengetatan tersebut dilakukan pihak Saudi untuk mengantisipasi jamaah internasional yang tidak memiliki visa haji atau warga domestik yang tak membawa bukti surat izin. 

Kendaraan yang kedapatan tak memegang dokumen tersebut akan dipaksa putar balik. Jika dokumennya dianggap bermasalah, mereka akan diperiksa kembali di ruangan yang ada di terminal. Sidik jari mereka akan dipindai untuk memverifikasi visanya sudah sesuai atau tidak.

 

 
Kendaraan yang kedapatan tak memegang dokumen tersebut akan dipaksa putar balik.
 
 

Namun, ada saja cerita jamaah ilegal yang berhasil lolos dari pemeriksaan. Beberapa teman mukimin menjulukinya sebagai “haji koboi”. Mereka masuk ke Makkah lewat jalur-jalur gurun tak beraspal. Jika ternyata ketahuan saat berada di Makkah, mereka akan didenda 10 ribu riyal alias Rp 40 juta akibat memasuki Tanah Suci secara  ilegal. 

Ada beberapa dokumen yang harus disiapkan jika ingin lolos dari titik-titik pemeriksaan tersebut. Bagi mukimin (ekspatriat yang bekerja di Arab Saudi), mereka harus memiliki izin untuk bekerja di Tanah Suci dan KTP (iqama) Makkah. Bagi mereka yang hendak menunaikan ibadah haji, mereka harus memiliki surat izin berhaji atau izin berumrah. Untuk jamaah haji dari luar negeri, dokumen mereka sudah diurus oleh muasasah sehingga cukup duduk manis di bus selama perjalanan menuju ke pemondokan.

Hanya saja, cerita berbeda bagi kami para petugas. Kami memegang paspor berikut visa sendiri. Untuk itu, kami pun dibekali tasrih (surat izin) masuk yang juga dikeluarkan muasasah setempat. Tasrih berisi 13 nama tersebut menjadi tiket kami untuk lolos ke Tanah Haram.

Pengetatan check point yang dilakukan bukan isapan jempol. Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan belasan pos jaga yang diisi minimal satu petugas polisi. Pos tersebut dilengkapi dengan trafic cone dan pagar barikade untuk mempersempit laju jalan. Dengan demikian, setidaknya petugas atau CCTV bisa memantau wajah pengendara. 

 
Pengetatan check point yang dilakukan bukan isapan jempol. Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan belasan pos jaga yang diisi minimal satu petugas polisi.
 
 

Perjalanan kami makin dramatis tatkala angin gurun menerpa. Mobil andalan kami tidak cukup kuat untuk berlari di tengah lintasan padang berpasir. Mobil pun kerap oleng ke kanan dan ke kiri.  Beruntung, Kang Nunu berpengalaman mengendalikan kendaraan di tengah gurun. 

Angin puyuh yang berputar di sisi kanan menjadi pemandangan lain yang mendebarkan. Untunglah jarak angin tersebut cukup jauh dengan jalan raya. Putarannya juga perlahan makin habis. Ada juga sekumpulan babon yang membuat kami berhenti sejenak. Mereka memanjat mobil dan melongok ke jendela, tanda mencari makan. Sedikit perbekalan yang ada di mobil kami bagikan. Gerombolan monyet gurun itu pun menikmati jeruk dan pisang yang kami berikan. 

Mobil kembali melaju setelah monyet-monyet itu makan dengan lahap. Kami yang tadinya mengarah ke check point di Terminal Jumum, diarahkan tim aju untuk melalui Shumaisi. Meski Jumum memang menjadi titik pemeriksaan kendaraan jamaah dari Madinah, pemeriksaan di Shumaisi dikabarkan tidak seketat di sana. Kami pun mengambil arah menuju Jeddah untuk masuk ke Makkah melalui terminal itu. 

Terminal Shumaisi memang baru saja dimodernisasi. Otoritas Pengembangan Wilayah Makkah (MRDA) mengembangkan pos pemeriksaan tersebut untuk jamaah haji dan umrah yang hendak menuju Makkah. Tujuan modernisasi ini untuk  mengurangi waktu tunggu para jamaah.

 
Terminal Shumaisi memang baru saja dimodernisasi. Otoritas Pengembangan Wilayah Makkah (MRDA) mengembangkan pos pemeriksaan tersebut untuk jamaah haji dan umrah yang hendak menuju Makkah. 
 
 

 Setidaknya ada 16 titik masuk pemeriksaan di terminal tersebut. Tidak hanya itu, terminal tersebut juga tengah mengembangkan fasilitas layanan baru yang juga akan bermanfaat bagi penduduk Makkah. Di Shumaisy akan dibangun kantor administrasi, masjid, pusat pertahanan sipil, pusat Bulan Sabit Merah, dan gedung yang menampung lembaga pemerintah lainnya. 

Di Shumaisi, kami melalui dua terminal pemeriksaan yang cukup berdekatan. Meski begitu, informasi dari kawan yang sudah di depan benar adanya. Petugas jaga hanya meminta sopir untuk menunjukkan tasrih. Setelah itu, kami pun bisa melaju dengan tenang. 

Selain Shumaisi dan Jumum, masih ada terminal check point lainnya yang menyortir masuknya jamaah ke Makkah. Pos pemeriksaan itu dimulai dari pusat utama al-Bahita, al-Miqat di al-Seil, Qarn al-Manazil dan Wadi Moharram, yang terhubung dengan al-Hada. 

Di samping itu, masih ada titik-titik lain yang harus dilalui jamaah.  Titik-titik pemeriksaan tersebut memang dibutuhkan agar jumlah jamaah yang menghadiri prosesi haji sesuai dengan yang direncanakan.

Memasuki Makkah, kami disambut dengan kepadatan lalu lintas dan petugas. Mobil patroli berjaga di hampir setiap sudut jalan. Di area Masjidil Haram, para petugas berpakaian cokelat dan loreng keabu-abuan juga tampak siaga. Mereka ada di setiap 50 meter trotoar. 

Di sana, kami juga menyaksikan jamaah dari berbagai negara dengan ragam warna kulit, postur tubuh, dan pakaiannya berlalu lalang. Tentu saja termasuk jamaah yang berpakaian khas batik hijau berbadan lebih mungil daripada jamaah dari negara lainnya. Jamaah tempat kami berkhidmat dalam menjalankan tugas di Tanah Suci. 


Jangan Ada Lagi Kerusakan di Ukraina

Peperangan Rusia-Ukraina telah menyebabkan ancaman krisis pangan global.

SELENGKAPNYA

Daerah Siap Uji Coba MyPertamina

Daerah siap menjalankan uji coba pembelian Pertalite dan solar menggunakan aplikasi MyPertamina.

SELENGKAPNYA

Hargai Perbedaan Waktu Idul Adha

MUI mengimbau agar semangat hari raya kurban diwujudkan dalam kehidupan umat Islam.

SELENGKAPNYA
×