KH Ghalib, seorang ulama karismatik yang juga memimpin perjuangan antipenjajahan di Lampung | DOK PRINGSEWU KAB

Mujadid

03 Jul 2022, 03:40 WIB

KH Ghalib, Patriot dari Lampung

Seperti umumnya para alim ulama, Kiai Ghalib menolak keras perintah seikerei.

OLEH MUHYIDDIN

 

Dalam catatan sejarah, ada banyak alim ulama yang turut berjuang membela kedaulatan Indonesia. Di Lampung, para pemuka agama Islam juga terlibat dalam perjuangan nasional. Salah seorang di antara mereka adalah KH Ghalib.

Dalam perjalanan hidupnya, tokoh tersebut tidak hanya berkiprah di dunia pendidikan. Pendiri Pondok Pesantren Bambu Seribu itu juga terjun langsung ke medan jihad. Bersama laskar-laskar pejuang, ia ikut dalam berbagai pertempuran melawan pasukan kolonial.

Bagi masyarakat Lampung, khususnya Kabupaten Pringsewu, ia merupakan inspirasi keteladanan. Sang kiai pernah memimpin satu kelompok pasukan laskar. Dengan gagah berani dan penuh taktik, gempuran militer musuh dihadapinya. Bahkan, pasukan Belanda dibuatnya gentar walaupun secara persenjataan lebih unggul.

 
Sang kiai pernah memimpin satu kelompok pasukan laskar. Dengan gagah berani dan penuh taktik, gempuran militer musuh dihadapinya.
 
 

Reputasinya dikenal baik di daerah paling selatan Pulau Sumatra. Bagaimanapun, sosok ulama-pejuang ini tidak asli berasal dari Lampung. Ia lahir sekitar tahun 1899 di Kampung Mojosantren, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Putra pasangan Kiai Rohani bin Nursihan dan Muksiti itu terbiasa ditempa dalam suasana hidup prihatin dan mandiri.

Sejak masih berusia anak-anak, ia jarang berjumpa dengan ayah kandungnya. Sang ayah kerap melanglang buana ke daerah-daerah. Malahan, sering kali pihak keluarga tidak mengetahui jejaknya. Sang putra saat hendak dikhitan sempat ditemui bapaknya. Waktu itu, Kiai Rohani memberikan uang seringgit kepadanya, tetapi sesudah itu pergi berkelana lagi.

Mulai saat itu, Ghalib tidak pernah lagi bertemu dengan ayahanda. Betapapun demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam belajar. Sebagai anak-anak, dirinya ketika itu dikenal sebagai murid yang cerdas. Dari para gurunya, ia menimba ilmu-ilmu agama dan pengalaman yang tak ternilai.

Saat berusia tujuh tahun, Ghalib kecil dititipkan oleh ibunya kepada seorang alim setempat. Kiai Ali, demikian nama ustaz tersebut, mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Dari sang guru, kontaknya dengan dunia pesantren di Jawa bermula.

Ada berbagai pesantren yang sempat disambanginya. Yang berkesan baginya adalah Ponpes Tebuireng di Jombang. Di sanalah dirinya mulai belajar kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Masa untuk memperoleh ilmu-ilmu keislaman dari sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tidak disia-siakannya sedikit pun.

 
Ada berbagai pesantren yang sempat disambanginya. Yang berkesan baginya adalah Ponpes Tebuireng di Jombang.
 
 

Selama menempuh studi di Jawa Timur, Ghalib muda juga gemar menyambung silaturahim dengan kawan-kawan maupun rekan gurunya. Pernah dalam suatu kesempatan, ia mengadakan rihlah ke Madura. Di Pulau Garam, ternyata saat itu sosok KH Kholil Bangkalan sangat tenar. Pemuda tersebut lantas memutuskan untuk menyerap ilmu dari sang waliyullah yang berjulukan Syaikhona itu.

Masa remajanya dihabiskan untuk mengembara dari satu daerah ke daerah lainnya. Semua itu dilakukannya guna mendalami ilmu-ilmu agama. Yang menjadi perhatiannya bukan hanya pengetahuan ihwal ibadah (ubudiyah), tetapi juga spiritual. Ilmu hikmah diperolehnya dengan restu alim ulama yang ditemuinya.

Ghalib mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Syiah’iyah. Gadis tersebut juga memiliki sifat yang sama dengannya, yakni tawadhu dan sederhana. Pasangan suami dan istri tersebut tidak dikaruniai keturunan hingga akhir hayat mereka. Keduanya mengasuh tiga orang sebagai anak angkat, yakni Jamzali, Siti Romlah, dan Rubaiyah.

Mulai hijrah

Sekitar periode 1920-an, Kiai Ghalib memperoleh rezeki sehingga dapat menunaikan haji. Perjalanan laut ditempuhnya selama beberapa bulan. Dari Jawa, kapal yang ditumpanginya transit di Pulau Temasek (Singapura), lalu Seylon, hingga tiba di Jeddah. Selama di Tanah Suci, dirinya tidak hanya melakukan rukun Islam kelima, tetapi juga menimba ilmu-ilmu agama dari para syekh setempat.

Pada 1927, KH Ghalib kembali ke Tanah Air. Selama di perjalanan pulang, ia berkenalan dengan seorang pemuda Muslim yang berasal dari Temasek, yakni Muhammad Anwar Sanprawiro. Dari penuturannya, ulama muda itu untuk pertama kalinya mendengar kabar tentang Lampung.

Cerita mengenai daerah itu, baginya, sangat menarik. Maka sesampainya di Jawa, Kiai Ghalib berdiskusi dengan istrinya. Nyai Syiah’iyah diajaknya untuk hijrah ke daerah di selatan Pulau Sumatra tersebut.

 
Pada 1927, KH Ghalib kembali ke Tanah Air. Selama di perjalanan pulang, ia berkenalan dengan seorang pemuda Muslim yang berasal dari Temasek.
 
 

Setelah bermusyawarah, pasangan suami-istri itu sepakat untuk mengikuti jejak keluarga M Anwar, yakni bertempat tinggal di Lampung. Begitu sampai di sana, Kiai Ghalib dan istri bertamu ke rumah Anwar di Pagelaran.

Atas saran sahabatnya itu, keduanya lalu membeli sebidang tanah di Desa Fajarisuk, Kabupaten Pringsewu. Lokasi lahan itu berada di dekat sisi utara pasar setempat.

Waktu itu, masyarakat Pringsewu masih cukup jauh dari nuansa religius. Mereka umumnya hanyalah warga biasa yang menghabiskan rutinitas untuk mencari nafkah. Walaupun Muslim, kesehariannya belum dekat dengan ibadah-ibadah, khususnya yang berjamaah.

Kiai Ghalib memandang, kondisi demikian merupakan tantangan baginya sebagai seorang yang mengerti agama. Pada 1930-an, ia mulai merintis pengajian kecil untuk masyarakat setempat. Ternyata, umumnya warga senang sekali dengan ikhtiarnya itu.

Sekitar dua tahun kemudian, Kiai Ghalib menggagas berdirinya sebuah masjid. Kini, tempat ibadah di Kecamatan Pringsewu itu bernama Masjid Jami KH Ghaliba. Di sanalah umat Islam, khususnya penduduk lokal, dapat melaksanakan shalat jamaah, mengaji Alquran, dan kegiatan-kegiatan islami lainnya.

 
Pada 1930-an, ia mulai merintis pengajian kecil untuk masyarakat setempat.
 
 

Tidak cukup dengan mendirikan masjid pertama di Pringsewu. Kiai Ghalib pun membangun madrasah di dekat tempat ibadah itu. Semula, bangunan tersebut berkapasitas 20 murid. Lantainya masih tanah yang dikeraskan. Dindingnya anyaman bambu, sedangkan atapnya genteng batu bata.

Dalam perkembangan kemudian, madrasah nan sederhana itu kian besar. Jumlah kelas diperbanyak. Bahkan, Kiai Ghalib juga mendatangkan para guru dari daerah-daerah. Termasuk di antaranya adalah Haji M Nuh, seorang sahabatnya dari Cianjur, Jawa Barat.

Tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, madrasah rintisan Kiai Ghalib itu juga memberikan pemahaman kepada para murid tentang kondisi sosial masyarakat. Kala itu, negeri ini masih dalam cengkeraman penjajahan. Karena itu, sering kali sang kiai mengobarkan semangat jihad santri-santrinya. Mereka ditempa mentalnya agar sigap menentang setiap bentuk penindasan.

Pada akhirnya, kompleks masjid-madrasah itu menjadi pesantren. Saat Kiai Ghalib memimpin lembaga tersebut, semua santri setempat dapat belajar dengan gratis.

Berbagai kebutuhan para guru juga dijamin oleh sang kiai sendiri. Kekayaan pribadinya sering kali disediakan dalam jumlah yang tidak sedikit guna mendukung kemajuan institusi pendidikan itu—yang lantas diberi nama Pondok Pesantren Bambu Seribu.

Lawan penjajah

Dalam banyak segi, KH Ghalib memiliki kesamaan dengan gurunya, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama menentang penjajahan. Prinsip antikolonialisme itu diwujudkan mereka dalam ucapan, tindakan, maupun keteladanan.

Sejak 1942, Belanda memang hengkang dari Indonesia. Namun, Tanah Air kedatangan penjajah-baru, yakni Jepang. Di bawah pemerintahan pendudukan Dai Nippon, kondisi rakyat tetap sengsara. Kesewenang-wenangan terjadi di mana-mana.

Salah satu tekanan yang dilancarkan Nippon terhadap kaum Muslimin Indonesia adalah kewajiban seikerei. Ritual itu berarti penghormatan kepada Dewa Matahari dengan cara membungkukkan badan kala pagi hari ke arah timur atau Negeri Jepang.

Seperti umumnya para alim ulama, Kiai Ghalib menolak keras perintah seikerei itu. Jelas sekali bahwa prosesi tersebut adalah sebentuk kemusyrikan. Karena ketegasannya itu, berkali-kali sang kiai ditangkap dan dipenjara oleh aparat polisi militer Nippon.

Bagaimanapun, penangkapan tidak membuatnya takut sedikit pun. Begitu keluar dari jeruji, Kiai Ghalib memimpin perjuangan para pemuda dan laskar di Pringsewu, Lampung. Secara gerilya, pergerakan Muslimin itu dilancarkan walaupun dengan pedang, golok, keris, atau bambu runcing. Persenjataan yang tentunya tidak sebanding dengan laras senapan dan bayonet Nippon.

 
Begitu keluar dari jeruji, Kiai Ghalib memimpin perjuangan para pemuda dan laskar di Pringsewu, Lampung.
 
 

Kehadiran Jepang di Bumi Pertiwi berlangsung dalam konteks Perang Dunia II. Tahun berganti tahun, nyatalah bahwa Negeri Matahari Terbit semakin tidak kuasa membendung serangan Sekutu. Terlebih lagi, bom-bom atom dijatuhkan Amerika ke Hiroshima dan Nagasaki. Kaisar Jepang sesudah itu mengumumkan menyerah.

Momen kevakuman kekuasaan dimanfaatkan oleh para pejuang, khususnya tokoh-tokoh nasional. Pada 17 Agustus 1945, bertempat di Jakarta Sukarno dan M Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI atas nama bangsa Indonesia.

Meskipun kemerdekaan berhasil diraih, masalah belumlah usai. Pasca-Perang Dunia II, Belanda (NICA) datang diboncengi oleh Sekutu ke Tanah Air. Tujuannya meneguhkan kembali penjajahan Negeri Tanah Rendah itu atas Indonesia.

Di Lampung, Kiai Ghalib beserta para ulama lokal menyambut ajakan jihad yang digelorakan tokoh-tokoh nasional, termasuk sang guru—KH Hasyim Asy’ari.  Seperti diceritakan dalam buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung, ikhtiarnya antara lain adalah menyiagakan laskar Hizbullah-Sabilillah. Di antara para pemuda pengisi barisan juang itu adalah para santri Ponpes Bambu Seribu.

 

photo
Masjid KH Ghalib di Pringsewu, Lampung. Ulama yang juga pendiri Ponpes Bambu Seribu itu dikenang sebagai alim yang pejuang. - (DOK PRINGSEWU KAB)

Gugurnya Sang Pejuang

Empat tahun pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI merupakan masa yang genting. Kedaulatan memang berhasil ditegakkan. Namun, Belanda (NICA) kala itu hendak kembali menjajah Tanah Air karena merasa diri bagian dari pemenang Perang Dunia II, palagan yang di dalamnya Jepang menelan kekalahan.

Tentu saja, para tokoh bangsa dan rakyat Indonesia seluruhnya menentang ambisi NICA. Di Lampung, gelora perjuangan juga turut membara. Seorang tokoh setempat, KH Ghalib, ikut mendukung ikhtiar perlawanan yang dilakukan kaum Muslimin.

Pendiri Ponpes Bambu Seribu itu sudah dikenal sebagai sosok yang anti-penjajahan sejak zaman kolonial Belanda hingga masa pendudukan Dai Nippon. Maka, pada masa revolusi ini semangatnya tetap tinggi. Spirit jihad itu ditularkannya kepada para santri, termasuk mereka yang bergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Berkali-kali Belanda melakukan penyerbuan. Pada akhir 1948, dalam suasana agresi militer para tentara NICA terus mendesak. Di Yogyakarta, para pemimpin nasional bahkan ditangkap.

Memasuki awal 1949, situasi mulai menguntungkan bagi RI. Simpati internasional mengalir. Bahkan, PBB mendesak Belanda untuk membebaskan para tokoh nasional, seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir.

Di Lampung, kabar gencatan senjata sudah tersiar. Namun, pasukan NICA terus bergerak. Kiai Ghalib yang baru saja turun gunung dari gerilya memutuskan untuk menyiagakan laskar-laskar santri di Pringsewu.

 
Kiai Ghalib yang baru saja turun gunung dari gerilya memutuskan untuk menyiagakan laskar-laskar santri di Pringsewu.
 
 

Sejumlah pemuda kemudian diperintahkan untuk menghancurkan Jembatan Bulok agar musuh tidak dapat memasuki Pringsewu. Namun, NICA dapat mengatasinya dengan memutar lewat Gedongtataan, Kedondong, terus ke Pagelaran. Mengetahui hal itu, Kiai Ghalib memerintahkan para santri untuk menyeberangi Sungai Way Sekampung, lalu mulai bergerilya di hutan.

Sampai di Pringsewu, NICA langsung melakukan bumi hangus. Ponpes Bambu Seribu juga ikut dihancurkan. Walau sudah berpindah-pindah lokasi, Kiai Ghalib dan para pengikutnya dapat ditangkap. Ia lalu dibawa ke Gereja Katholik Pringsewu, yang saat itu difungsikan markas tentara Belanda.

Selama 15 hari, sang kiai ditahan. Tinggal tiga hari, persetujuan gencatan senjata akan diumumkan. Pada 6 November 1949 pukul 01.00 WIB dini hari, Kiai Ghalib dibebaskan dari sel. Namun, baru melangkah beberapa meter dari sana, ulama tersebut ditembak dari belakang. Sang pejuang gugur.

Perjuangannya selalu dikenang rakyat. Pada 1992, tokoh tersebut diakui sebagai Pahlawan Lampung oleh gubernur setempat saat itu.


Delegasi Amirul Hajj Tiba di Tanah Suci

Hampir 90 persen jamaah sudah berada di Makkah.

SELENGKAPNYA

Agar tak Diusir Askar

Larangan itu disampaikan secara bersamaan oleh para askar ketika waktu shalat sudah dekat.

SELENGKAPNYA

Buah Manis Tawakal

Siapa saja yang bertawakal kepada-Nya, pasti Dia akan memberinya kecukupan.

SELENGKAPNYA
×