Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Jakarta

03 Jul 2022, 09:00 WIB

Kisah Zaman Meleset dan Panti Asuhan di Jakarta

Di Indonesia, khususnya Jakarta, baru pada 1930-an berdiri panti asuhan.

OLEH ALWI SHAHAB

Menurut filosofi Islam, setiap anak yatim yang ditinggal ayahnya menjadi kewajiban kakek, paman, atau kakak untuk merawat dan memeliharanya termasuk menjaga hartanya. Di negara Islam, hampir tidak terdapat rumah yatim maupun rumah jompo.

Apalagi, Allah mengutuk keras mereka yang tidak memperhatikan anak yatim. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tiap rumah yang terdapat anak yatim dan diperlihara dengan baik akan diberkahi Allah." Menurut Nabi, orang yang memelihara anak yatim kedudukannya dengan beliau seperti dua jari yang tidak dapat dipisahkan.

Meski yatim piatu mendapat perhatian dari kaum Muslimin yang mengikuti perintah Allah dan Rasulnya. Tapi, di Indonesia, khususnya Jakarta, baru pada 1930-an berdiri panti asuhan. Masalahnya saat itu di Indonesia, imbas dari ekonomi dunia, terjadi resesi ekonomi yang dikenal dengan sebutan malaise.

 
Meski yatim piatu mendapat perhatian dari kaum Muslimin yang mengikuti perintah Allah dan Rasulnya. Tapi, di Indonesia, khususnya Jakarta, baru pada 1930-an berdiri panti asuhan. 
   

Bung Karno yang menyindir kolonial Belanda menyebutnya sebagai "zaman meleset". Karena kehidupan yang sangat susah, banyak yatim yang tidak terpelihara, di antaranya putri bernama Balgis. Dia terpaksa mencuri kue karena kelaparan.

Malang nasib anak yang di bawah umur itu. Ketika ia ditangkap oleh Pemerintah Belanda hendak dimasukkan ke panti asuhan Kristen. Peristiwa ini menjadi pukulan bagi para alim ulama dan habaib.

Untuk menyelamatkan akidah gadis cilik ini, mereka bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangun panti asuhan bagi anak yatim. Pada 12 Agustus 1931 (27 Rabi'ul Awwal), Sayid Abubakar bin Muhammad Alhabsyi beserta 12 pendiri lainnya mendirikan yayasan wakaf Daarul Aitam (Panti Asuhan Yatim Piatu) di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sebagai modal dasar terkumpullah 1.860 gulden. Perkumpulan Arrabitoh Aklawiyah menghibahkan dua persil tanah yang terletak di kelurahan Tanah Abang masing-masing seluas 3.060 meter persegi dan 5.610 meter persegi.

 
Untuk menyelamatkan akidah gadis cilik ini, mereka bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangun panti asuhan bagi anak yatim.
 
 

Sebulan sebelumnya, masih dalam kaitan resesi ekonomi 1930-an, berdiri panti asuhan Islam "Roemah Piatoe Moeslimin" (didirikan Juli 1931) oleh dermawan bernama Siti Zahara yang hingga kini masih berdiri di Jalan Kramat Raya 11, Jakarta Pusat.

Dalam sejarahnya, hampir 82 tahun, kedua panti asuhan ini hanya menerima anak yatim piatu beragama Islam. Di samping itu, seperti terjadi di Daarul Aitam, yatim piatu tidak hanya ditampung di panti asuhan, tapi juga nonpanti.

Panti Asuhan Daarul Aitam, yang sejak beberapa tahun lalu pindah ke Jalan Kahfi I No 52A, Ciganjur, Jakarta Selatan, memiliki gedung cukup megah berlantai dua dan memelihara 61 yatim piatu. Masih ada lagi 107 yatim piatu nonpanti.

 
Di panti ini, tersedia tenaga medis yang memantau kesehatan para anak asuh, termasuk penanganan oleh seorang dokter.
 
 

Mereka juga mendapat pendidikan sekolah aliyah, SMK, dan SMA, serta kuliah di Universitas Darul Dakwah, Malang, Jawa Timur. Dilihat dari usia kedua panti asuhan yang hampir satu abad, seperti dikemukakan oleh pimpinannya, ribuan yatim telah terbantu.

Ketua Yayasan Daarul Aitam Ir Ali A Shahab, anak yatim merupakan titipan kepada umat sehingga mereka harus merasa seperti masih ada orang tua. “Kalau anak kita adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan saja. Tapi, anak yatim piatu, kita bukan saja bertanggung jawab pada Tuhan, tapi juga masyarakat,” ujar dia.

Ada sebuah moto yang dipegang teguh hingga saat ini oleh para pengurus Daarul Aitam. Moto itu, "Menghidupi Yayasan, tapi tidak hidup dari yayasan”. Di panti asuhan ini, di samping membekali keterampilan kepada para anak asuh, juga memberikan makanan bergizi, hingga layanan medis.

Di panti ini, tersedia tenaga medis yang memantau kesehatan para anak asuh, termasuk penanganan oleh seorang dokter.

Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi Jumat, 27 November 2012. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman yang wafat pada 2020.


Pembelian Pertalite Belum Dibatasi

Pertamina membuka pendaftaran uji coba konsumsi Pertalite selama sebulan.

SELENGKAPNYA

Yasonna: Visa Rumah Kedua untuk WNA Menetap di Indonesia

Indonesia menyediakan layanan visa rumah kedua kepada WNA yang ingin menetap.

SELENGKAPNYA

Sambutan Check Point Saat Kembali ke Makkah

Selain Shumaisi dan Jumum, masih ada terminal check point lain yang menyortir masuknya jamaah ke Makkah.

SELENGKAPNYA
×