Sastra
Kucing Liar di Rumah Sang Jenderal
Cerpen Chudori Sukra
Oleh CHUDORI SUKRA
Kami bergegas menuju desa Nameng, kabupaten Bandung, setelah mendengar laporan adanya penembakan kucing-kucing liar oleh Pak Parjo, seorang jenderal pensiunan TNI. Setibanya di lokasi, saya sebagai aktivis organisasi Animal Welfare, merasa terenyuh ketika mendapatkan empat ekor kucing mati dan dua ekor lainnya dalam kondisi kritis.
Keempat kucing yang mati telah dikuburkan warga, tetapi saya memerintahkan dua anggota saya, untuk menggali kembali empat kuburan itu agar dapat dipastikan kebenarannya.
Kami membawa mayat keempat kucing ke klinik agar segera diotopsi, sedangkan dua ekor yang kritis segera diberi pertolongan pertama kemudian dilarikan ke Jakarta agar segera dirawat dan diobati.
Tak lama kemudian, saya mendapatkan hasil otopsi perihal luka tembakan yang dialami keenam kucing tersebut, di antaranya di sekitar rahang dan leher. Sedangkan, seekor kucing mengalami luka fatal akibat letusan peluru yang mengarah ke mata hingga menghancurkan rahangnya. Konon, menurut kesaksian warga, ada puluhan kucing yang mati ditembak Pak Parjo, yang hidup sendirian di rumah mewah yang dibangun di perkebunan kopi miliknya.
Tentu Pak Parjo kurang memahami, atau menentang anggapan bahwa kucing adalah makhluk yang penuh misteri. Dia tak peduli ketika masyarakat mengatakan bahwa hewan kucing memiliki tujuh nyawa, hingga para pengendara merasa takut jika menabrak seekor kucing, karena akan berdampak bagi dirinya yang kelak akan mengalami kecelakaan. Hewan kucing juga dianggap sebagai kerabat dari para raja hutan, serta pewaris rahasia dari benua Afrika kuno yang menyeramkan.
Konon, legenda Sphinx Agung di Mesir adalah sepupu dari para kucing, bahkan hewan kucing dianggap lebih tua dari Sphinx itu sendiri. Di dalam Islam, hewan itu juga dikenal sakral dan kudus, hingga seorang sahabat Nabi Muhammad di Madinah dijuluki “Abu Hurairah” (bapaknya para kucing), karena ia bersahabat dengan puluhan kucing yang rajin dipelihara di kediamannya.
Saya sendiri kurang tahu pasti, apa alasan Pak Parjo menembaki kucing-kucing di sekitar rumah dan perkebunan miliknya. Memang, tidak jarang orang membenci suara kucing di malam hari, apalagi suara dua ekor kucing yang kadang saling bertengkar di tengah malam. Tetapi apapun alasannya, pria tua itu tak pantas mendapat kesenangan dari berburu dan menembaki kucing-kucing di sekitar kediamannya.
Tiap kali seekor kucing mendekati rumah dan kebunnya, ia segera mengambil senapan pemburu yang sudah diisi oleh peluru tajam yang siap ditembakkan. Suara tembakan itu kadang terdengar ketika suasana sudah mulai gelap setelah azan magrib. Penduduk desa Nameng terheran-heran mendengar suara-suara aneh di sekitar perkebunan milik Pak Parjo. Namun, mereka saling membisu, tak mau menanyakan hal tersebut kepada pria tua itu.
Rumah di tengah perkebunan itu didiami bersama seorang pembantu bernama Bi Marni, yang suka masak dan mengurus taman yang dihiasi pohon-pohon kaktus dan bonsai di sekitar pekarangan. Di petang hari, pembantunya itu akan pulang ke kampung seberang. Meskipun, kadang ia merasa kesal juga melihat perangai sang majikan yang temperamental, terutama setelah ditinggal mati istrinya pada saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Para pemilik kucing piaraan di desa Nameng, tentu merasa jengkel mendengar ulah dan kelakuan Pak Parjo yang aneh itu. Namun, mereka tak berani mengecam perbuatan jenderal purnawirawan tersebut. Ketika salah seorang penduduk merasa kehilangan binatang piaraannya, entah itu kucing, bebek, ayam atau kelinci, mereka hanya dapat bersikap hati-hati dan waspada, jangan sampai ada hewan piaraan lainnya yang mendekati kebun dan rumah lelaki misterius itu. Pernah salah seorang penduduk desa kehilangan dua ekor kucing miliknya, tetapi bukannya ia mempersoalkan kehilangan hewan piaraannya, justru ia merasa bersyukur dan menerima takdir begitu saja, bahwa masih beruntung ia tidak kehilangan salah seorang anaknya.
Ya, penduduk Nameng terbilang masyarakat yang polos dan lugu, bahkan tidak terlampau memusingkan dari mana kucing-kucing itu berdatangan dan berseliweran di sekitar rumah-rumah mereka.
Suatu hari, rombongan karavan menggelar hiburan korsel di perempatan desa Nameng. Para pengembara yang datang dari selatan itu menggelar berbagai-macam pertunjukan yang biasanya berlangsung sekitar dua minggu. Mereka berpakaian kotor dan kumal, seakan sudah berbulan-bulan tidak mandi. Kadang di sekitar lapangan, mereka menggelar acara hiburan sebanyak tiga-empat kali dalam setiap tahunnya. Ada permainan rumah hantu, kuda-kudaan, seluncuran, tembak-tembakan, hingga perempuan berbaju aneh yang duduk menghadap bola kristal, seakan pintar meramal nasib. Pemimpin rombongan tampak mengenakan penutup kepala bergambar tanduk dan cakram di antara kedua kening kiri dan kanannya.
Di antara rombongan itu, terdapat seorang gadis remaja bermata tajam, yang tampaknya sulit ditebak yang manakah ibu atau ayahnya. Atau barangkali ia seorang anak yatim-piatu yang dipelihara dan diasuh oleh keluarga dari kepala rombongan karavan. Gadis remaja itu sedang mengelus-elus kucing anggora piaraannya. Ia sangat menyayangi kucing berwarna putih itu, dan barangkali bersama kucing piaraannya itu dia mendapatkan penghiburan, hingga perasaan sedih dan kesepian tidak berpihak kepadanya.
Jadi, gadis remaja yang biasa dipanggil Keling itu lebih banyak tersenyum ketimbang bersedih atau menangis, sambil duduk-duduk bersama kucingnya di samping trailer karavan yang dicat dengan warna-warni gambar binatang.
Di hari keempat rombongan karavan itu menggelar hiburan, Keling kehilangan kucing anggora miliknya. Selama berjam-jam ia mencari, bahkan hingga keesokan harinya belum juga dia temukan. Di pangkuan ibu asuhnya, ia menangis sesenggukan, setelah beberapa penduduk Nameng mengabarkan perihal banyaknya kucing-kucing yang hilang karena ditembak seorang purnawirawan TNI tersebut.
Si Ibu Asuh yang biasanya sibuk meramal dan menghibur anak-anak di depan bola kristalnya, kini tak kuasa meneteskan air matanya. Tangisnya semakin berubah menjadi kekesalan, hingga kemudian menjelma sebagai doa bahkan kutukan. Dia merentangkan tangannya ke atas langit, mengucap mantra-mantra aneh yang sulit dipahami maknanya. Ketika ia sedang merapalkan mantranya, di atas awan tampak terbentuk sosok-bayangan eksotis yang kabur, seperti hewan-hewan liar berbulu putih yang dimahkotai cakram dengan senyum menyeringai, seakan menunjukkan gigi-gigi taringnya.
Hari Jumat pagi, rombongan karavan itu gulung tikar, dan pergi meninggalkan desa Nameng. Para penduduk merasa iba dan resah, karena si Keling tidak lagi memeluk hewan kesayangannya, hingga sepanjang jalan ia menangis disertai sorotan mata yang terpancang pada lapangan tempat mereka menggelar pertunjukan. Rasa rindu dan sayang mereka kepada kucing bertolak-belakang dengan kebencian sang jenderal tua pada makhluk yang dianggap aneh dan merepotkan itu.
Saya berdiri di samping Pak Lurah Nameng, setelah menyalami mereka satu persatu seraya mengucap salam perpisahan. Ibu asuh Keling sempat membisikkan sesuatu ke telinga saya dengan kata-kata bersayap: “Kalau memang kucing kami mati karena ditembak Tentara Tua itu, sampaikan salam saya bahwa tidak sepantasnya manusia memusuhi para kucing.”
Keesokan harinya, di waktu subuh, ketika matahari baru sepenggalan naik, masyarakat Nameng melihat kejadian yang langka dan menakjubkan. Ratusan kucing liar berlarian di sekitar perkebunan Pak Parjo, seakan mereka bangkit kembali dari kuburnya. Ada yang besar, kecil, hitam, putih, abu-abu, serta kucing-kucing liar berwarna belang. Kucing-kucing itu saling melompat ke sana kemari, bahkan ada yang berlompatan di atas pohon-pohon kopi milik Pak Parjo.
Para kucing itu terlihat bersih, mengkilap dan gemuk-gemuk. Ketika saya memerintahkan salah seorang anggota Animal Welfare untuk segera mengambil sarden dan berbagai jenis ikan kaleng dari mobil box, lalu menyodorkannya pada kucing-kucing itu, tampaknya tak satupun dari kucing liar itu yang mendekat dan memakannya. Aneh bin ajaib? (pikir saya). Apakah sang jenderal tua di dalam rumah itu telah memberinya makanan satu-persatu, hingga kucing-kucing itu terlihat montok dan gemuk-gemuk?
Setelah pintu rumah diketuk berkali-kali, bahkan tidak ada sahutan setelah dipanggil berkali-kali, akhirnya Pak Lurah memerintahkan bawahannya untuk menemui Bi Marni di kampung seberang. Seketika itu, pembantu Pak Parjo itu datang bersama rombongan Pak Lurah sambil membawa kunci serep untuk pintu bagian belakang. Namun, ketika mereka masuk ke bagian dalam, apakah yang terjadi di rumah mewah itu?
Tak ada seorang pun yang mereka lihat, kecuali hanya darah-darah segar berceceran di tempat tidur, dengan kerangka tubuh manusia yang daging-dagingnya sudah bersih. Seketika itu, Bi Narti berteriak histeris sambil memanggil-manggil nama majikannya, “Pak Parjo... astaghfirullah, Pak... Bapak...!!”
Ia pun terkulai lemas dan terjatuh pingsan di atas lantai. []
Chudori Sukra adalah Penggiat Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga aktif menulis prosa dan esai untuk harian nasional Kompas, Koran Tempo, Republika, dan lain-lain.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
