Nasional
bjb KUR, Sukseskan Bisnis Erigandana Batik
Mengenalkan aksara Sunda melalui produk batik
Batik merupakan kekayaan dan warisan budaya tak benda asal Indonesia. Unesco menetapkan itu sejak 2009. Tak ada satupun negara yang berani membantah itu. Dari visual hingga bentuk dari kain batik, menunjukkan identitas dan cerita budaya di Tanah Air.
Terlebih jika pada corak batik itu tampak aksara atau idiom budaya. Salah satu brand bernama Erigandana Batik terlihat lebih berani dalam mempertegas bahwa batik merupakan kekayaan intelektual Indonesia, yang salah satunya dari Sunda.
Keberanian itu ditunjukkan dengan menampilkan aksara Sunda pada motif dan corak batiknya. Itu menunjukkan bahwa komoditas batik tidak sekadar menjadi alat bisnis. Lebih dari itu, produsen batik membawa misi pelestarian budaya di Indonesia.
Erigandana Batik didirikan oleh Veby Wibisana (26 tahun) dan bunda Eryanti. Lokasinya di Jalan Sukamenak, Gang Saluyu Selatan I No 30, RT 05, RW 09, Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Erigandana Batik hadir sebagai simbol kreativitas generasi muda dalam menjaga warisan leluhur. Brand ini lahir pada masa pandemi Covid-19. Berangkat dari kegelisahan akan semakin memudarnya eksistensi aksara Sunda, khususnya di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
“Melalui batik ini, kami ingin mengangkat kembali aksara Sunda beserta filosofi dan paribasa Sunda yang mulai terlupakan,” ujar Veby. Nama brand Erigandana diambil dari nama bunda (ibu) yang diidolakannya. Ibu Veby bernama Eryanti.
Sementara Gandana berasal dari bahasa Sunda yang artinya wangi, harum atau berwibawa. “Harapan saya, Erigandana Batik bisa terus berkembang, harum namanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga sampai ke mancanegara,” ungkapnya.
Dengan didukung Perda Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah, Erigandana Batik merupakan batik pertama di Indonesia yang mengangkat kaligrafi aksara Sunda.
Keunikan Erigandana Batik terletak pada penggunaan kaligrafi Aksara Sunda yang dipadukan dengan nilai-nilai filosofi kehidupan. Salah satu motif unggulannya adalah tokoh Semar, dengan pesan ‘Nyaur kudu diukur, nyabda kudu diunggang’. Kalimat petuah Sunda ini mengajarkan kita akan pentingnya berhati-hati dalam berbicara.
Ada pula motif aksara khas Kabupaten Bandung, yakni ‘Kudu akur jeung dulur’, yang mengajak kita untuk hidup rukun dengan sesama. Masih banyak ragam produk lainnya yang tersedia di Erigandana Batik.
Mulai dari batik tulis dan batik cap, hingga produk turunan seperti kemeja, outer, kaos, dan tumbler. Kesemua produk itu sama-sama mengusung identitas budaya Sunda. Bahkan pada produk seperti tumbler, disisipkan pesan filosofi seperti 'Bengkung ngariung, bongkok ngaronyok', yang memiliki nilai filosofi dalam memperkuat nilai kebersamaan.
Dalam proses produksinya, Erigandana Batik melibatkan sekitar lima tenaga kerja. Erigandana Batik bukan sekadar batik. Untuk itu, proses produksinyapun cukup kompleks. Mulai dari pembuatan pola, mencanting, pewarnaan, hingga pelorodan.
Tak hanya fokus pada produksi, Veby juga aktif memberdayakan masyarakat sekitar dengan memberikan pelatihan membatik. Tujuannya untuk ekonomi kreatif di masyarakat lokal.
"Kami ingin masyarakat di sini punya keterampilan dan bekal untuk membatik, karena sebelumnya mereka tidak pernah terlibat dalam proses ini,’’ kata Veby.
Dari sisi pemasaran, Erigandana Batik telah menjangkau berbagai instansi pemerintahan, baik di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, hingga daerah lain di Indonesia. Selain pesanan dalam jumlah besar untuk seragam, produk satuan juga diminati oleh konsumen yang datang langsung ke galeri.
Untuk harga, Erigandana Batik menawarkan variasi yang kompetitif, mulai dari Rp 250.000 hingga Rp500.000 per piece. Sementara untuk batik tulis eksklusif, harganya bisa dibandrol hingga Rp 2,5 juta per piece.
Kiprah Erigandana Batik banyak mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Brand ini telah meraih penghargaan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung, serta Kementerian Pariwisata Indonesia sebagai pelaku ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Dengan semangat pelestarian budaya dan inovasi tanpa henti, Erigandana Batik membuktikan bahwa warisan lokal dapat tampil modern, bernilai ekonomi tinggi, sekaligus menjadi identitas yang membanggakan di mata dunia.
Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan produk Erigandana Batik, bisa langsung mengunjungi galeri di Jalan Sukamenak, atau melalui media sosial Tiktok @erigandanabatik, Instagram @erigandana.batik atau menghubungi ke No. Whatshapp 0813 9460 7985.
Perjalanan bisnis Erigandana Batik tidak terlepas dari peran bank bjb. Bisnisnya dibantu oleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank bjb, atau bjb KUR. Proses pengajuan bjb KUR relatif mudah. Kala itu, Veby mengajukan pinjaman KUR ke bank bjb Kantor Cabang Tamansari.
Skema pinjaman modal Erigandana Batik selaras dengan produk yang dimiliki bank bjb. bjb KUR adalah fasilitas pinjaman yang diberikan kepada pelaku usaha, baik perorangan, badan usaha atau kelompok usaha dengan skala mikro kecil dan menengah.
Keunggulan bjb KUR adalah suku bunganya kompetitif dan bebas biaya provisi. bank bjb berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta bank bjb merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Informasi lebih lanjut mengenai bjb KUR dapat diperoleh dengan mengunjungi kantor cabang bank bjb terdekat, atau melalui call center bjb Call 14049 atau kunjungi website resmi bank bjb infobjb.id/KUR.
"Kami ucapkan terimakasih banyak kepada bank bjb yang selalu support, hingga bisnis kami tumbuh dan berkembang dan semakin dikenal secara nasional,’’ tandasnya.
Advertorial
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
