Puisi Lapar yang Menyebut Nama-Mu | Daan Yahya/Republika

Sastra

Lapar yang Menyebut Nama-Mu

Puisi-Puisi Iwan Setiawan

Oleh IWAN SETIAWAN

Sajak-Sajak Ramadhan di Pintu Malam

 

Ramadhan datang tanpa suara

hanya detak jantung yang melambat

dan nafas yang belajar jujur

aku menunggumu

di antara lapar dan doa

di sela jam yang patah oleh dzikir

setiap haus adalah nama-Mu

setiap sabar adalah jejak-Mu

aku menahan diri

bukan dari dunia

melainkan dari selain Engkau

bila malam turun

aku mengeja rindu

seperti anak kecil

mengetuk pintu rumah

yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan

 

Padang, 2026

***

 

Puasa dan Wajah Kekasih

 

aku berpuasa

agar wajahmu tampak lebih dekat

sebab kenyang sering membuat mata lupa

di siang yang panjang

aku menyebut-Mu dalam diam

dan diam itu menjelma api

membakar jarak antara aku dan Engkau

Kekasih

Engkau tak datang membawa janji

Engkau datang sebagai kehilangan

yang membuatku terus mencari

puasa mengajarkanku

bahwa rindu bukan kekurangan

melainkan cara cinta

menyempurnakan dirinya

 

Padang, 2026

***

 

Ramadhan, Surat Rindu yang tidak Pernah Kukirim 

 

aku menulis nama-Mu

di udara sahur

dan angin membawanya

entah ke mana

setiap ayat

adalah surat rindu

yang tidak pernah kukirim

sebab Engkau telah membacanya

bahkan sebelum kutulis

aku berdiri dalam Shalat

seperti seorang pecinta

yang lupa kata-kata

karena terlalu lama menunggu

Ramadhan ini

aku tidak meminta apa-apa

selain agar Engkau

terus membuatku merindu

 

Padang, 2026

***

 

Doa yang Berpuasa

 

doaku ikut berpuasa

ia kurus, ia lemah

namun justru itu

yang membuatnya terbang

aku tak lagi meminta dunia

aku hanya ingin

Engkau memandangku

sekilas saja

sebab sekali pandang-Mu

cukup untuk membuat

seumur hidupku bersujud

Kekasih

bila rindu ini dosa

maka biarlah aku

berdosa dalam cinta

dan bertobat

dalam pelukan-Mu

 

Padang, 2026

***

 

Lapar yang Menyebut Nama-Mu

 

lapar ini aneh

ia tidak meminta roti

ia hanya memanggil-Mu

setiap waktu berbuka

aku belajar

bahwa yang paling kucari

bukanlah hidangan

melainkan kehadiran

Ramadhan membuatku sadar

aku telah lama

menjadi pengemis cinta

di depan pintu-Mu

dan Engkau

tak pernah mengusir

bahkan ketika 

aku datang hanya membawa

air mata dan rindu


Padang, 2026

 

Idul Fitri yang Masih Jauh

 

aku belum ingin bertemu pagi

aku masih ingin tinggal

di malam Ramadhan

bersama-Mu

sebab fitri bagiku

bukan baju baru

melainkan hati

yang habis terbakar oleh rindu

Kekasih

bila Ramadhan harus pergi

jangan ambil rinduku

biarkan ia tinggal sebagai tanda

bahwa aku pernah jatuh cinta

Sedalam ini

 

Padang, 2026

*** 

Iwan Setiawan lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Ia menulis puisi dengan kecenderungan kontemplatif dan sufistik, bergerak di wilayah sunyi antara iman, ragu, dan pencarian makna. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra, dan ia adalah penulis Sang Pencari Cinta serta Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Pada 2017, ia menerima Littera Magazine Literary Award.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat