ILUSTRASI Islam mengajarkan umatnya untuk tidak mengabaikan hablumminannas atau hubungan sosial. | DOK WIKIPEDIA

Khazanah

12 Jun 2022, 03:08 WIB

Tiga Hubungan Penting

Tiap insan yang beriman akan selalu menyadari adanya relasi vertikal, yakni antara Tuhan dan hamba-Nya

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam kehidupan ini, setiap insan tidak mungkin sendirian. Mereka pasti berinteraksi dengan banyak dan berbagai pihak di luar dirinya. Tanpa mengadakan hubungan, tidak mungkin kebutuhan jasmani dan rohani dapat dipenuhi.

Manusia diciptakan untuk menyembah hanya kepada Allah SWT. Karena itu, hubungan pun berlaku tidak hanya dengan sesama makhluk. Tiap insan yang beriman akan selalu menyadari adanya relasi vertikal, yakni antara Tuhan dan hamba-Nya.

Berikut ini adalah tiga hubungan yang esensial menurut ajaran Islam.

Hablumminallah

Ada horizontal. Ada yang vertikal. Relasi yang mengarah ke atas itu bermakna hubungan antara manusia dan Allah Ta’ala. Dalam bahasa agama, hal itu diistilahkan sebagai hablumminallah.

Seorang Mukmin akan menyadari pentingnya habluminallah dengan cara menjaga keyakinan tauhid dan ibadahnya. Karena itu, kaitannya terutama adalah kesalehan ritual. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bertanya kepada seorang sahabat, “Tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya?”

Lantas, beliau bersabda, “(Yaitu) hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

photo
ILUSTRASI Hablumminallah dapat dilihat dari bagaimana ketaatan beribadah yang dilakukan seorang hamba. - (DOK WIKIPEDIA)

Hablumminannas

Hubungan ini bermakna horizontal. Maksudnya, relasi antarsesama manusia. Jangkauannya bukan hanya yang seiman. Terhadap orang yang berlainan agama pun, relasi tersebut hendaknya terjalin dengan baik.

Kesalehan sosial dapat timbul dari kebiasaan menjaga hablumminannas. Contoh sederhana saja, yakni berbuat rukun dengan tetangga.

“Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS an-Nisa: 36).

photo
ILUSTRASI Memakan makanan yang halal dan baik merupakan salah satu wujud hubungan-baik dengan diri sendiri - (DOK PXHERE)

Diri Sendiri

Manusia adalah makhluk sosial. Bagaimanapun, tiap orang memiliki kekhasan individual. Bahkan, tidak ada sidik jari yang sama antara orang per orang.

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu memerhatikan hak dan kewajiban. Tubuh pun memiliki hak-hak yang mesti dipenuhi. Misalnya, hak konsumsi makanan dan minuman yang halal lagi baik (thayyiban). Suatu sajian mungkin saja halal dan memuaskan rasa lapar.

Namun, pilah-pilih juga perlu agar sistem percernaan dapat menerimanya tanpa rasa sakit yang datang kemudian.


Jamaah Gelombang Satu Bersiap ke Makkah

Jamaah haji gelombang satu di Madinah akan diberangkatkan ke Makkah, Ahad.

SELENGKAPNYA

Covid-19 Masih Terkendali

Menkes membenarkan adanya empat kasus mutasi SARS-CoV-2 omikron baru dari subvarian BA.4 dan BA.5 di Indonesia.

SELENGKAPNYA

Internalisasi Nilai-Nilai Kemabruran Haji

ibadah haji merupakan dambaan umat Islam yang selalu diinginkan.

SELENGKAPNYA
×