Pengasuh Pondok Pesantren Ummi Rotiah Bawean, KH Fauzi Rauf | DOK REP MUHYIDDIN

Hiwar

29 May 2022, 03:15 WIB

Santri Itu Saleh dan Muslih

Kata KH Fauzi Rauf, pesantren tak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mengajarkan kehidupan.

Pesantren selalu menjadi opsi bagi keluarga Muslim di Indonesia. Biasanya, para orang tua mendaftarkan anak-anaknya ke institusi tersebut dengan harapan, sang buah hati dapat menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, serta berwawasan luas.

KH Fauzi Rauf mengatakan, ekspektasi itu bersesuaian dengan asas lembaga ini, yakni mengajarkan ilmu-ilmu keislaman sekaligus kearifan dalam bermasyarakat. Pengasuh Pondok Pesantren Ummi Roti’ah Bawean, Gresik, Jawa Timur, itu memandang adanya dua sifat yang menjadi target pendidikan semua pesantren. Keduanya adalah karakter saleh dan muslih.

Yang pertama dapat dilihat dari disiplinnya dalam mendirikan ibadah-ibadah ritual (mahdhah). Adapun yang lain dirasakan dari kegemarannya merawat hubungan antarsesama manusia, terlebih lagi yang seiman.

“Intinya, santri ideal itu tidak hanya saleh, tetapi juga muslih, membawa perbaikan. Kalau seseorang muslih, ia insya Allah bisa membuat orang lain saleh,” ujar alumnus Jurusan Tafsir Hadits UIN Sunan Kaijaga Yogyakarta ini.

Kemudian, bagaimana menempa para santri agar memiliki sifat-sifat tersebut? Apa saja peran seorang ulama sebagai pemimpin di lembaga pesantren? Lebih lanjut, seperti apa pola pedagogis yang diterapkan di Ponpes Ummi Roti’ah?

Untuk menjawabnya, berikut ini petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Kiai Fauzi Rauf yang ditemui di Desa Kebuntelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda melihat pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang khas Indonesia?

Perlu kita ketahui, pesantren tidak hanya khas, tetapi juga merupakan (lembaga) pendidikan yang asli dan tertua di Indonesia. Usianya bahkan lebih tua daripada negara ini. Pesantren adalah hasil dari proses penyesuaian antara Islam dan nilai-nilai lokal yang berkembang di Tanah Air.

Alhamdulillah, bangsa Indonesia bisa melestarikan pesantren dari dahulu hingga sekarang. Dalam perkembangannya, para ulama memola pesantren dengan berbagai model. Namun, secara umum asas pesantren di Indonesia itu sama.

Apa saja keunggulan institusi pesantren menurut Anda?

Salah satunya, yang tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga lain, adalah pemusatan atau kebergantungannya pada figur sentral. Dialah yang disebut sebagai pengasuh. Jadi, pesantren sesungguhnya adalah representasi kepribadian pengasuh tersebut. Dalam hal ini, sosok seorang kiai yang sangat berpengaruh.

Hubungan antara kiai dan santrinya bukan hanya relasi kontraktual. Lebih dari itu, hubungannya bersifat rohaniah, yang berlangsung tidak hanya pada saat santri belajar di pesantren. Sampai dirinya berhenti dari pesantren, hubungan guru-murid tetap berlaku.

Selain itu, pesantren tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mengajarkan (para santri) tentang kehidupan secara umum. Jadi, bagaimana anak-anak bisa mengatur hidupnya selama 24 jam berada di pesantren. Di sana, mereka sambil menyaksikan langsung keteladanan dari sosok pengasuh dan para ustaznya.

Bagaimana memenuhi ekspektasi umumnya orang tua yang berharap anaknya dapat menjadi saleh setelah lulus dari pesantren?

Tentu, selama di pesantren kami memberikan pendidikan yang dipola dengan berbagai macam pembentukan karakter. Misalnya, sekarang berkembang topik pendidikan karakter. Itu sebenarnya sudah ada sejak lama di pesantren. Intisari pendidikan karakter itu adalah akhlak.

Di pesantren, para santri dididik agar punya keteguhan dalam berprinsip. Lantas, ilmu itu tidak hanya dipahami, tetapi juga didalami, diinternalisasi, dan bahkan dijiwai. Proses seperti itu, menurut saya, hanya ada di pesantren.

Sebenarnya, ada banyak kecenderungan dari pengasuh atau tokoh kiai dalam memola pendidikan di pesantrennya. Namun, secara umum mereka tetap mengutamakan tafaqquh fiddin atau mendalami ilmu-ilmu agama.

Nanti pengembangannya bisa bermacam-macam. Bahkan, sekarang sudah ada pesantren yang kecenderungannya ke kewirausahaan. Ada juga yang ke IT (informasi dan teknologi). Ada pula yang ke bidang kemaritiman. Itu semua bisa saja diterapkan. Namun, tafaqquh fiddin harus tetap ada. Tidak boleh bergeser. Sebab, sejak awal pesantren memang diikhtiarkan untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman.

Menurut Anda, apa saja kriteria seorang santri yang ideal?

Santri yang ideal itu adalah yang bermanfaat untuk masyarakat secara umum. Karena itu, kami membekali para santri supaya mereka berdaya guna di komunitas apa pun dan di mana pun mereka tinggal. Lalu, mempunyai kepribadian yang baik, serta keunggulan komparatif sejauh yang ia butuhkan.

Intinya, santri ketika hidup di komunitas apa pun harus siap. Misalnya, ketika pulang ke kampung yang hidup dalam suasana pertanian. Maka santri harus siap menjadi petani yang baik. Kalau misalnya dia ditakdirkan hidup dalam lingkungan ilmiah, ia juga harus siap menjadi intelektual.

Sekarang, alhmadulillah pesantren pada umumnya—termasuk di Pulau Bawean—sudah banyak yang membuka pendidikan formal. Yang cuma mengandalkan kurikulum salaf dapat dihitung beberapa saja. Semua itu dilakukan agar para santri tidak ketinggalan zaman dan bisa beradaptasi. Meskipun demikian, sekali lagi, tafaqquh fiddin harus tetap dipertahankan.

Intinya, santri ideal itu tidak hanya saleh, tetapi juga muslih, membawa perbaikan. Kalau seseorang muslih, ia insya Allah bisa membuat orang lain saleh.

Bagaimana membangun karakter saleh dan muslih itu dalam diri para santri?

Para santri selama di pesantren itu belajar hidup. Artinya, bagaimana mereka bisa mempergunakan waktu sebaik mungkin. Pertama, waktu dimanfaatkan untuk melatih diri dengan ibadah mahdhah. Misalnya, tertib waktu dalam melaksanakan shalat secara berjamaah. Kemudian, membiasakan diri (mendirikan) shalat-shalat sunah. Tidak ketinggalan juga, shalat tahajud, berpuasa sunah, dan lain-lain.

Pesantren juga menegakkan kehidupan yang egaliter. Jadi, kiai tidak bisa membeda-bedakan antarsantri. Meskipun di kampungnya si anak kaya raya, ketika berada di pesantren ia dipandang sama dengan para santri lainnya. Makanannya saja sama.

Itu poin yang baik sekali untuk membekali mereka dengan keyakinan, dirinya sebenarnya sama dengan yang lain. Jangan pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan ukuran-ukuran artifisial.

 
Jangan pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan ukuran-ukuran artifisial.
 
 

Maka, umpamanya, mental individualistis yang mungkin terbawa dari rumah pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya ketika mereka menjadi santri di pesantren. Di antara caranya adalah menjalani hidup sederhana, bersahaja.

Kemudian, melebur dengan masyarakat. Di sini, kalau masyarakat setempat mengadakan gotong royong, maka para santri kadang diikutsertakan. Kegiatan itu asalkan tidak menggangu jalannya aktivitas belajar rutin di pesantren. Dengan belajar berkomunikasi dengan masyarakat, mereka menjadi tidak eksklusif. Pesantren pun jangan sampai kehilangan hubungan dengan penduduk sekitar. Harus ada hubungan timbal balik.

Bagaimana profil dan pola pendidikan yang mentradisi di Pondok Pesantren Ummi Roti’ah Bawean?

KH Anwari Faqih, mertua saya, mendirikan ponpes ini pada 1989. Sebagai pendiri, Kiai Anwari menerapkan pendidikan salaf dan modern. Beliau mengadopsi sistem pendidikan Nurul Jadid (Paiton, Probolinggo, Jawa Timur).

Jadi, beliau sangat mengidolakan KH Zaini Munim sehingga pikiran-pikiran, akhlak, dan sebagainya adalah hasil tempaan Kiai Zaini. Sembilan tahun mondok di Nurul Jadid.

Kiai Anwari pernah bercerita kepada saya. Sebenarnya, beliau tidak punya angan-angan sama sekali untuk mendirikan sebuah pesantren. Sejak nyantri di Nurul Jadid, beliau hanya ingin ingin mendirikan lembaga pendidikan formal.

Karena itu, awalnya beliau hanya membentuk Madrasarah Tsanawiyah (MTs) Himayatul Islam pada 1986. Bahkan, sebelumnya pada tahun 1976 itu beliau juga sempat mendirikan SMP Islam di Bawean. Namun, karena sumber daya manusia kurang saat itu, akhirnya lembaga itu bubar.

Kalau (pola pendidikan) pesantren salafnya, seperti biasa, ada kajian kitab-kitab salaf, seperti fikih, akhlak, tasawuf, dan tafsir hadis. Namun, dalam dua hingga tiga tahun terakhir, saya mendorong para santri di sini untuk memperkuat hafalan kitab. Misalnya,  kitab-kitab nadhom, seperti Imriti dan Alfiyah.

Kami usahakan, setiap tahun ada wisuda santri untuk hafalan kitab nadhom itu. Dan ternyata, hafalan itu memiliki banyak sekali manfaat. Kalau hafalan, para santri ada targetnya. Misalnya, setiap malam harus hafal segini. Nah, alhamdulillah mereka ternyata bisa memenuhi target.

Sekarang, pola pendidikan formalnya di sini mungkin berbeda dengan pendidikan di sejumlah pesantren lain. Meskipun MTs dan MA Himayatul Islam berada di bawah naungan Yayasan Ummi Roti’ah, pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat. Siswa-siswanya pun tidak hanya berasal dari Ponpes Ummi Roti’ah, tetapi juga dari pesantren-pesantren lain di Desa Kebuntelukdalam.

Bisa diceritakan sekilas, seperti apa keteladanan KH Anwari Faqih yang seyogianya diikuti generasi kini?

Pertama, beliau merupakan sosok kiai yang visioner. Pandangannya jauh ke depan. Saya sendiri yang berpengalaman di perguruan tinggi merasa kagum dengan beliau. Kiai Anwari juga termasuk tipe ulama yang berwawasan luas dan moderat. Tidak terlalu keras dalam mendidik.

Kedua, beliau adalah seorang pekerja keras. Bisa dibilang, hiburannya adalah bekerja. Apa saja beliau kerjakan. Bahkan, bangunan pesantren itu beliau sendiri yang menangani langsung.

Jadi, beliau berusaha menghindari waktu yang berlalu sia-sia. Kalau tidak untuk belajar, ya bekerja. Inilah yang patut diteladani oleh generasi sekarang.

Saya ingat, salah satu hobi beliau adalah memperbaiki jalan-jalan di kampung. Beliau menggerakkan para santri untuk bergotong royong. Bahkan, beliau pun turut serta. Lama-kelamaan, masyarakat lokal akhirnya ikut bergotong royong.

photo
KH Fauzi Rauf selaku pimpinan wilayah Nahdlatul Ulama cabang Pulau Bawean, Jawa Timur - (DOK NU JATIM)

Memimpin Cabang NU di Kampung Halaman

Bawean merupakan sebuah pulau kecil di Laut Jawa. Jaraknya sekitar 120 km dari pesisir utara Gresik, Jawa Timur. Sejak zaman dahulu, daerah yang memiliki pantai nan indah itu menghasilkan ulama-ulama besar.

Sebut saja, KH Muhammad Hasan Asy’ari dan Syekh Muhammad Zainuddin al-Makki. Keduanya bergelar al-Baweani karena pulau inilah asal mereka.

Dengan melihat sejarah, dakwah Islam di pulau berpenduduk 107 ribu jiwa ini mesti terus dirawat dan dikembangkan. Seluruh masyarakat setempat merupakan Muslim yang umumnya berpaham ahlus sunnah waljama’ah (aswaja). Afiliasi organisasinya biasanya pada Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Ummi Roti’ah Bawean KH Fauzi Rauf, sejak tahun 2000-an kian banyak pemuda Bawean yang hijrah ke luar. Melihat fakta tersebut, Kiai Fauzi yang ketika itu sudah meraih gelar sarjana dari UIN Sunan Kalijaga terpanggil untuk pulang.

Tidak hanya mengajar di Pesantren Mambaul Falah Tambilung, Desa Sokaoneng. Ia pun kala itu turut aktif dalam kegiatan NU setempat. Hingga akhirnya, para kiai sepuh mempercayakannya untuk menjadi ketua Tanfidiyah Pimpinan Cabang NU Bawean periode 2002-2007.

“Jadi ketika itu kita mengalami lost generation. Karena tahun-tahun itu ternyata banyak generasi Bawean yang hijrah ke Malaysia. Akhirnya, tahun-tahun itu saya yang dipilih,” ujar Kiai Fauzi kepada Republika di Pulau Bawean, Gresik, baru-baru ini.

Hingga kini pun, lelaki kelahiran tahun 1970 ini menjabat sebagai ketua PCNU Bawean.  Berkat kepemimpinannya, organisasi kepemudaan NU mulai banyak melaksanakan kegiatan.

Fokus utamanya adalah membenahi kaderisasi Nahdliyin di pulau ini. “Bagaimana caranya NU diisi oleh orang-orang muda. Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi sulit mencari kader,” ucap alumnus Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.

 


Warisan Kesederhanaan Buya Syafii

Buya berpesan agar menjaga keutuhan bangsa, keutuhan Muhammadiyah, dan keutuhan umat.

SELENGKAPNYA

Nasionalisme Pancasila

Itulah nasionalisme autentik yang berpijak di bumi Indonesia milik bersama.

SELENGKAPNYA

Menemukan Kilau

Sekalipun terpendam dalam lumpur kotor, berlian tak pernah kehilangan kilau.

SELENGKAPNYA
×