Haedar Nashir | Daan Yahya | Republika

Refleksi

28 May 2022, 03:50 WIB

Nasionalisme Pancasila

Itulah nasionalisme autentik yang berpijak di bumi Indonesia milik bersama.

OLEH PROF HAEDAR NASHIR

Apa ukuran orang dan kelompok itu nasionalis? Cukupkah dengan berslogan “merdeka”, “aku Pancasila”, “aku Indonesia”, “NKRI harga mati”, “hidup mati dengan kebinekaan”, serta sederet simbol-simbol berlabelkan ke-Indonesia-an lainnya. 

Apalagi bila nasionalisme dan sikap nasionalis kemudian dibawa pada kecenderungan ekstrem. Seperti phobia terhadap agama dan umat beragama dengan memproduksi tiada habis isu-isu radikalisme, ekstremisme, intoleransi, kadrun, manusia gurun, dan hal-hal yang negatif seputar kaum beragama.

Khususnya kepada orang-orang Islam yang dianggap intoleran dan anti kebinekaan. Seolah menjadi nasionalis harus berbeda dan berlawanan dengan kaum agamis.

Sama halnya bila di kalangan kaum beragama ada yang mengembangkan sinisme terhadap hal-hal yang bertautan dengan nasionalisme, baik terbuka maupun tersembunyi. Seolah beragama itu berlawanan dengan nasionalisme.

Umat beragama alergi kebinekaan atau pluralisme, demokrasi, hak asasi manusia, toleransi, dan moderasi. Sebagian umat dan tokoh agama pun tidak mengembangkan ekstremitas, ujaran-ujaran meresahkan, dan memproduksi pertentangan dengan pihak lain.

 
Seolah menjadi nasionalis harus berbeda dan berlawanan dengan kaum agamis.
 
 

Nasionalisme pun tidak dipertentangkan dengan kesukuan dan kedaerahan. Anak-anak negeri yang kuat kesukuan dan kedaerahannya mesti berbanding lurus dengan kecintaan dan pengkhidmatan untuk Indonesia.

Kekecewaan-kekecewaan politik warga daerah tidak lantas memupuk benih antipati dan lebih-lebih separatisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para petinggi negeri tidak menyalahgunakan kekuasaan yang merusak persatuan. Semua pihak saling berintrospeksi.

Paham dan sikap cinta Indonesia merupakan keniscayaan dan melekat dengan jiwa keindonesiaan bagi seluruh anak negeri. Tetapi nasionalisme dan praktiknya dalam kehidupan berbangsa-bernegara juga meniscayakan pemahaman yang mendalam dan luas disertai khazanah ilmu, kecerdasan, kearifan, dan keteladanan agar berjalan proporsional serta tidak jatuh pada bias pendangkalan. Apalagi bila menjadi nasionalis radikal-ekstrem!

Jejak Kesejarahan

Nasionalisme sebagai paham kebangsaan sejatinya telah menjadi jiwa, alam pikiran, dan dipraktikkan oleh bangsa Indonesia ketika sejak awal membangun kesadaran dan kemudian melakukan perlawanan terahadap penjajahan yang berlangsung ratusan tahun di Indonesia ketika negeri ini dijajah oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan terakhir Jepang.

Saat itu gerakan cinta tanah air mengusir penjajah sejatinya merupakan wujud dari nasionalisme, yakni paham dan tindakan membela kebangsaan dan tanah air Indonesia.

 
Semua merupakan tonggak penting membela Tanah Air dengan pikiran, harta, dan jiwa meski saat itu istilah nasionalisme belum dikenal.
 
 

Segenap kekuatan masyarakat Indonesia saat itu bangkit membela tanah air melawan penindasan penjajah. Peran umat Islam sangat besar dalam melawan dan mengusir penjajah.

Kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Indonesia dengan heroik berperang melawan kolonial. Kerajaan Islam seperti  Samudra Pasai,  Darussalam, Siak, Ternate Tidore, Gowa, Bone, Buton, Banjar, Pajang, Mataram, Cirebon, Banten, Sumbawa, Bima, dan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di berbagai pulau berada di garis depan melawan penjajah.

Perang Padri, Perang Diponegooro, dan Perang Aceh sangat populer heroismenya. Tokoh-tokohnya termasuk para pejuang perempuan terlalu banyak untuk disebut yang kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Semua merupakan tonggak penting membela Tanah Air dengan pikiran, harta, dan jiwa meski saat itu istilah nasionalisme belum dikenal.

Baru pada awal abad kedua puluh bertumbuh istilah nasionalisme yang diperkenalkan oleh para tokoh yang belajar referensi Barat. Mereka tokoh Islam seperti Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ahmad Surkati, Sukarno, Hatta, Agus Salim, Hasyim Asy’ari, A Hassan, Soedirman, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, dan lainnya.

Pergerakan nasionalisme dalam fase kebangkitan nasional juga beragam dilakukan oleh semua golongan, termasuk gerakan-gerakan Islam. Pelopor kebangkitan nasional yang menggerakkan kesadaran rakyat untuk bangkit merdeka, yang paling awal justru lahir dari gerakan Islam yaitu Sarikat Dagang Islam (SDI) tahun 1905 yang dipimpin oleh Haji Samanhoedi dan Jamiatul Khair tahun 1905.

 
Pergerakan nasionalisme dalam fase kebangkitan nasional juga beragam dilakukan oleh semua golongan, termasuk gerakan-gerakan Islam. 
 
 

SDI berkembang menjadi Sarekat Islam tahun 1911 dipimpin tokoh utama dan guru para pemimpin bangsa, yakni HOS Tjokroaminoto. Kemudian menyusul Boedi Oetomo (1908), Muhammdiyah (1912) yang juga mendirikan gerakan kepanduan tanah air Hizbul Wathan tahun 1918 yang memunculkan figur Soedirman, Al-Irsyad (1914), Taman Siswa (1922), Persatuan Islam (1923), Nahdlatul Ulama (1926), dan lain-lain. 

Menyusul Sumpah Pemuda tahun 1928 sebagai tonggak ikrar kesatuan nasional kaum muda untuk berbangsa satu, berbahasa satu, dan bertanah air satu Indonesia. Selain itu Kongres Perempuan Pertama tahun 1928, di mana ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah menjadi salah satu pemrakarsa dan penyelenggara, menjadi titik awal kebangkitan perempuan Indonesia untuk kemerdekaan.

Seluruh gelombang kebangkitan nasional tersebut menjadi sumber kekuatan perjuangan bangsa dalam gerakan nasionalisme yang kemudian melahirkan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Para tokoh yang jumlahnya 62 orang sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), setelah itu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang melahirkan Pancasila dan Konstitusi dasar UUD 1945, merupakan representasi dari seluruh kekuatan bangsa yang mayoritas Muslim berjiwa nasionalis.

Semua berpanjikan nasionalisme tanpa retorika yang tululs berjuang dan menjadi negarawan pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nasionalisme Autentik

Nasionalisme bukan milik kelompok tertentu dan pemahamannya meniscayakan kedalaman dan keluasan perspektif agar tidak terjebak pada klaim dan dominasi nasionalisme sempit.

Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945 di BPUPK ketika bicara tentang “nasionalisme” atau “kebangsaan” dengan tegas menyatakan, “Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia” di atas dasar kebangsaan, tetapi disadari pula bahaya nasionalisme. ... Bahayanya ialah mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berfaham „Indonesia uber Alles".

Bung Karno mengingatkan, “Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia, menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa”.

Para pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Soenarjo, dan Mohammad Yamin merujuk paham nasionalisme pada pemikiran Ernest Renan. Tahun 1882 Renan menulis, “...bangsa (nation) itu ialah suatu solidaritas besar, yang terbentuk karena adanya kesadaran, bahwa orang telah berkorban banyak, dan bersedia untuk memberi korban itu lagi...yakni persetujuan, keinginan yang dinyatakan secara tegas untuk melanjutkan hidup bersama (le desir de vivre ensemble)...” (Renan, terj. Soenario, 1994).

Nasionalisme jika dirunut pada pemikiran “kontrak sosial” (Du Contrat Social) JJ Rousseau diikat oleh “kehendak umum” (ensemble) untuk saling berbagi, bertanggung jawab, dan melindungi demi kelangsungan hidup bersama.

Para pemimpin pergerakan Islam Indonesia menggali nasionlisme pada ajaran dan sejarah perjuangan Islam. Idiom “hubhul wathan minal iman” sangat lekat dengan jiwa nasionamisme kaum muslimin di negeri ini, bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman.

Perintah “jihad” dan pekik “Allahu Akbar” bahkan menjadi ruh keislaman yang menggerakkan perlawanan tak kenal gentar dalam mengusir penjajah, yang taruhannya nyawa atas nama agama dan Allah.

 
Indonesia sebagai negara-bangsa (nation-state) itu milik bersama dan untuk semua, bukan untuk satu golongan dan paham kebangsaan atau apapun.
 
 

Sehingga dua diksi keagamaan tersebut justru menjadi kekuatan ruhaniah yang dahsyat dalam perjuangan menegakkan memerdekakan Indonesia, bukan penanda dari radikalisme-esktresmisme agama seperti salah pandang dan bias praktik saat ini.

Peran umat dan tokoh Islam maupun golongan agama lainnya dalam perjuangan kemerdekaan itulah dalam referensi ilmu sosial disebut sebagai bentuk “religious nationalism” atau nasionalisme keagamaan. Nasionalisme itu beragam dan tidak tunggal yang didominasi oleh kelompok dan paham tertentu.

Indonesia sebagai negara-bangsa (nation-state) itu milik bersama dan untuk semua, bukan untuk satu golongan dan paham kebangsaan atau apapun. Indonesia justru merupakan jalan tengah atau moderasi dari segala proses dan keragaman, bukan sesuatu yang tunggal, eksklusif, dan monolitik.

Anthony Reid (2018) dengan objektif memberikan kesaksian, “Indonesia menjadi titik temu persatuan nasional seluruh rakyat Indonesia dari berbagai golongan sebagai era baru, yang di era Nusantara berpencar dan menjadi entitas sendiri-sendiri yang tidak mengarah ke persatuan.”

 
Indonesia justru merupakan jalan tengah atau moderasi dari segala proses dan keragaman, bukan sesuatu yang tunggal, eksklusif, dan monolitik.
 
 

Karenanya penting meluruskan paham dan afiliasi nasionalisme pada pemikiran dan identifikasi yang luas, sehingga bersifat inklusif dan menyatukan kebinekaan, bukan ekslusif dan menjurus ke pembelahan. Bersikap nasionalis tidak dapat dibenarkan diperhadapkan secara diametral dengan orientasi keagamaan, kedaerahan, dan oposisi biner yang saling berlawanan di tubuh bangsa Indonesia.

Nasionalisme harus dibawa ke titik tengah atau moderat agar tidak menjadi nasionalisme ekstrem seperti diingatkan Soekarno 76 tahun yang lalu. 

Nasionalisme Indonesia secara hakiki niscaya dirujukkan pada dasar nilai dan konstitusional yang kokoh, sehingga menjadi Nasionalisme Pancasila. Nasionalisme yang Berketuhanan yang Maha Esa, Berperikemanusiaan yang adil dan beradab, Berpersatuan Indonesia, Berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Itulah nasionalisme autentik yang berpijak di bumi Indonesia milik bersama. Bukan nasionalisme serpihan dari chauvinisme dan ultranasionalisme!


Banjir Rob dan Penurunan Tanah

Banjir rob kian parah kalau wilayah pesisirnya mengalami penurunan tanah.

SELENGKAPNYA

Sintesis Wakaf dan Bisnis

Penyusunan feasibility study yang akurat memperbesar peluang keberhasilan pengembangan aset wakaf.

SELENGKAPNYA

Seumpama Pohon Durian

Salah satu ayat kauniyah itu adalah pohon durian yang harum dan enak rasanya.

SELENGKAPNYA
×