Petugas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat berada di depan Bank Wakaf Mikro (BWM) pasantren binaan PT Astra Internasional TbK yang diresmikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Aceh Besar, Aceh, Jumat (8/4/2022). | ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/foc.

Opini

27 May 2022, 03:45 WIB

Sintesis Wakaf dan Bisnis

Penyusunan feasibility study yang akurat memperbesar peluang keberhasilan pengembangan aset wakaf.

MUHAMMAD SYAFI'IE EL-BANTANI; Praktisi Wakaf dan Pendiri Ekselensia Tahfizh School Dompet Dhuafa

Konsep dasar wakaf adalah produktif. Acuannya, pernyataan Rasulullah kepada Umar bin Khattab ketika meminta pandangan terkait kebunnya di Khaibar, “Habatsta ashlaha wa tashadaqta biha” (tahan pokoknya dan sedekahkan hasilnya).

Artinya, aset wakaf mesti mendatangkan surplus, yang disalurkan kepada mauquf ‘alaih (penerima manfaat wakaf). Karena itulah, mengembangkan aset wakaf tak cukup berbekal ilmu wakaf, perlu didukung juga ilmu bisnis. Di titik inilah sintesis antara wakaf dan bisnis.

Sebagian lembaga wakaf masih memandang wakaf murni sebagai Islamic social finance. Ini tidak salah asalkan pada konteks pengelolaan dan pengembangannya bisa dibedakan dengan zakat. Zakat murni berorientasi benefit. Disalurkan habis.

Sedangkan wakaf, berorientasi profit untuk memberikan benefit. Pokok wakaf tidak boleh habis agar bisa terus memberikan benefit. Tidak salah mengembangkan wakaf sosial karena dibutuhkan umat, tetapi jangan jadikan bisnis proses utama wakaf.

 

 
Wakaf sosial hanya pelengkap karena tidak menghasilkan surplus. Sementara, bisnis proses utamanya wakaf produktif. Karena itu, pengembangan aset wakaf juga perlu dikelola dengan pendekatan bisnis.
 
 

 

Wakaf sosial hanya pelengkap karena tidak menghasilkan surplus. Sementara, bisnis proses utamanya wakaf produktif. Karena itu, pengembangan aset wakaf juga perlu dikelola dengan pendekatan bisnis.

Sintesis antara wakaf dan bisnis melahirkan pola pengembangan aset wakaf secara menguntungkan dan berkelanjutan. Sebaliknya, roh wakaf insya Allah menghadirkan keberkahan dalam bisnis.

Orientasi bisnis yang semula profit an sich berubah menjadi profit demi kebermanfaatan bagi mauquf ‘alaih. Karena itulah, tidak boleh ada anggapan tabu wakaf dijalankan dengan pendekatan bisnis.

Wakaf semestinya dijalankan dengan pendekatan bisnis sebagai cerminan profesionalisme dan kompetensi nazir. Bedanya, jika bisnis an sich terkadang kurang memperhatikan aspek halal dan haram, syubhat dan berkah.

Maka itu, bisnis berbasis wakaf mesti memperhatikan semua aturan dan etika bisnis dalam Islam. Tidak boleh ada proyek wakaf didanai dari sumber yang syubhat, apalagi tidak halal. Tidak boleh ada pengembangan aset wakaf tercemar praktik ekonomi ribawi.

 
Wakaf semestinya dijalankan dengan pendekatan bisnis sebagai cerminan profesionalisme dan kompetensi nazir. 
 
 

Lembaga wakaf mesti mampu membuktikan, menjalankan bisnis berbasis wakaf juga bisa menghasilkan profit besar, sebagaimana perusahaan komersial. Lantas, bagaimana penerapan pengembangan wakaf dengan pendekatan bisnis?

Pertama, tahap perencanaan pengembangan aset wakaf. Setiap aset wakaf yang akan diproduktifkan mesti melalui feasibility study. Jangan sampai ada proyek wakaf mangkrak karena ternyata tidak prospektif untuk diproduktifkan.

Padahal, dana yang dikeluarkan untuk pengembangan aset wakaf tersebut sudah cukup besar. Selain itu, disusun analisis forecasting cashflow-nya agar terlihat pada tahun ke berapa tercapai titik impas dan mulai memperoleh profit.

Semuanya mesti disusun dengan data valid, bukan asumsi yang tak berbasis data.

Penyusunan feasibility study yang akurat memperbesar peluang keberhasilan pengembangan aset wakaf. Setidaknya, secara hitungan matematika bisnis, aset wakaf tersebut prospektif mendatangkan surplus wakaf.      

Kedua, tahap pelaksanaan pengembangan aset wakaf. Bisnis proses wakaf mesti dijalankan profesional dan konsisten. Sering, titik lemah lembaga wakaf ada pada tataran proses. Proses bisnis tak dijalankan dengan konsisten sehingga berdampak pada hasil yang tidak optimal.

 
Penyusunan feasibility study yang akurat memperbesar peluang keberhasilan pengembangan aset wakaf. 
 
 

Misalnya, pada proyek pengembangan wakaf produktif green house melon dengan luas lahan 800 meter persegi. Jika SOP dilaksanakan dengan baik, potensi ekonomis dalam setahun panen senilai Rp 334 juta. Jika sebaliknya, hasil panen tak optimal.

Ketiga, monitoring dan evaluasi (monev). Proses bisnis pengembangan aset wakaf mesti dipantau dan dievaluasi. Lembaga wakaf tak boleh sungkan memonitor dan mengevaluasi mitra pengelola wakaf yang bekerja sama dengannya.

Monev memitigasi potensi masalah, risiko, dan peluang. Dari data ini bisa disusun opsi-opsi solusi untuk setiap masalah yang muncul, dan mengoptimasi peluang-peluang bisnis yang menguntungkan. Keempat, pelaporan pengembangan aset wakaf.

Setiap aset wakaf yang diproduktifkan mesti dibuatkan laporannya secara rapi. Sering kali lembaga wakaf kurang mampu menyajikan laporan pengembangan aset wakaf, seperti standar perusahaan menyajikan laporan bisnisnya.

Padahal, hal ini menjadi penting sebagai laporan pertanggungjawaban publik kepada para wakif. Dengan demikian, diharapkan aset wakaf produktif terus tumbuh dan berkembang menghasilkan surplus wakaf, baik kuantitas maupun skalanya.

Pada titik inilah, wakaf akan mampu menghadirkan kesejahteraan sosial bagi umat. 


Jangan Berhenti Mencintai Palestina

Palestina tak juga menjadi isu prioritas bagi warga dunia yang lebih tegas saat Perang Ukraina.

SELENGKAPNYA

Habis Presiden Tiga Periode, Terbitlah Koalisi Kaki Tiga

Manuver koalisi kaki tiga memberi peluang munculnya tiga pasang capres-cawapres dalam Pemilu 2024.

SELENGKAPNYA

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

SELENGKAPNYA
×