Aisyah dan Permen Awan | Daan Yahya/Republika

Sastra

Aisyah dan Permen Awan

Cerpen Ridwan

Oleh RIDWAN

Tetesan air dari langit sore itu seolah mengaminkan kemasgulan Aisyah; sementara di benaknya, rintik itu jatuh berulang, tanpa suara.

Derai itu menjelma gema panggilan ibu tiga hari lalu. Suaranya patah-patah oleh sinyal, seolah datang dari jarak yang lebih jauh dari sekadar kota.

​“Sekira pukul berapa sampai, Nak?”

​“Turun di simpang perempatan saja.”

​“Adikmu dari tadi merengek. Katanya mau permen awan dari kota.”

​Kalimat-kalimat itu sempat singgah sebentar, lalu putus; nada akhirnya terpotong oleh kerisik sinyal, menyisakan sunyi yang ngilu di telinga Aisyah.

​“Kamu di mana, Dik? Kakak pulang bawakan permen awan,” bisiknya. Suaranya tidak pecah, namun terasa sedikit parau, seolah ada sisa debu jalanan yang menyumbat di sana.

​“Celaka! Aisyah, lekas ke posko pengungsian! Jangan terdiam saja, bah naik!” teriak seorang relawan dari kejauhan.

Ia mematung. Seruan itu melintas begitu saja, tak benar-benar menembus sadar. Sebuah tangan menariknya menjauh dari air cokelat susu yang merayap ke betis, menyisakan lumpur sebagai satu-satunya warna yang lekas merampas segalanya; kelabu dan pekat di pandangannya.

​“Paman janji akan menemukan adikmu. Kita lanjut pencarian bila situasinya aman,” ujar lelaki itu, singkat, seperti orang yang sudah terlalu sering mengucapkan sumpah serupa di tengah sisa-sisa kehancuran.

Aisyah merogoh ransel, dikeluarkannya bungkusan plastik berisi permen awan. Warnanya terlalu cerah di tempat ini, seolah sebuah benda yang salah alamat. Ia mendekapnya erat ke dada, seraya berkata, “Maafkan Kakak, Dik,” lalu menurunkannya kembali ke pangkuan dengan tangan yang luruh.

​Matanya kemudian menangkap sesuatu di kejauhan: sebuah sandal hanyut, berputar pelan mengikuti arus. ​“Paman, ambilkan itu,” katanya, datar, namun telunjuknya kokoh mengarah ke air.

Lelaki itu beranjak tanpa suara, meraih sandal yang tertinggal satu, lalu menyerahkannya.

Aisyah menerimanya tanpa berkata apa-apa. Di sela jemarinya, ia juga menyelipkan sebuah sendok makan yang sudah menghitam, tadi ia pungut dari sela puing meja yang roboh.

Benda-benda itu ia letakkan bersisian dengan ransel miliknya, seolah bukan kepunyaan siapa pun—hanya rongsokan yang mendadak punya harga diri. Sandal, sendok—segala yang tercecer dan tertinggal—selalu berhasil menariknya kembali ke masa lain.

​Ia teringat suatu sore, ketika adiknya menangis hingga cegukan karena ingin jajan, sementara penjual gulali lewat di jalan setapak, sengaja memperlambat langkah seolah sedang menguji ketabahan mereka. Tabungan di kaleng bekas biskuit sudah tandas. Aisyah menarik tangan adiknya ke pawon berdinding bambu yang mulai reot dimakan usia.

​“Jangan menangis. Kakak bisa buat yang lebih enak,” katanya waktu itu, tanpa tahu dari mana keyakinan itu datang.

​Di atas nyala lilin yang mengerjap, Aisyah menahan sendok yang sudah jelagaan berisi gula pasir. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena panas yang perlahan merambat, menagih ketabahan kulitnya. Gula itu mula-mula diam, lalu mulai basah di pinggirannya, mengilap seperti air yang ragu untuk jatuh.

Ia memiringkan sendok pelan-pelan, menjaga agar cairan itu tidak tumpah. Butir-butirnya mencair, mendidih kecil, lalu menyatu menjadi karamel kental berwarna cokelat tua. Dari dapur bambu beralaskan tanah, bau manis yang hampir gosong merambat pelan, menetap di udara.

​Saat cairan itu mulai berat dan malas bergerak, Aisyah menuangkannya ke atas selembar daun pisang yang dibentangkan di lantai. Ia menyelipkan sebatang lidi di ujungnya, menanti sampai gula itu mengeras perlahan, memeluk lidi sebagai pegangan. Aisyah menyentuhnya dengan ujung jari, lekas menarik tangan ketika terasa lengket.

​“Ini gulali batu. Lebih enak,” katanya kemudian. Adiknya berhenti menangis, menyesap karamel panas dari ujung lidi dengan mata yang masih sembap.

​Lamunan itu buyar saat seorang relawan menyodorkan segelas teh hangat. Aisyah menerimanya, tapi tak diminum. Uapnya naik sebentar, lalu lenyap ditelan udara posko yang lembap.

Di benaknya, dapur bambu itu kembali hadir—lebih jauh ke masa lalu, sebelum adiknya lahir. Ia melihat ibunya menjerang sayur di tungku kecil, menjaga nyala api dengan sabar agar tak padam. Ayahnya duduk di ambang pintu; batuknya berat, tangannya mengusap dada berulang kali seolah sedang menenangkan sesuatu yang meradang di dalam sana. Sendok yang sama, dipakai ibunya untuk mencicipi sup mendidih di kuali.

​“Panas,” kata ibunya. Aisyah mengecap bibir, meski tetap menyesapnya. Ia ingin tahu rasanya. Ingin merasa ikut menjaga sesuatu, meski belum paham apa yang sebenarnya sedang mereka pertaruhkan.

Teriakan kecil membuyarkan lamunannya. Seorang anak tersandung di dekat posko darurat. Aisyah menoleh, refleks bangkit setengah badan, lalu kembali duduk setelah menyadari itu bukan adiknya.

​“Capek?” tanya relawan yang kini berdiri di sampingnya. Ia menepuk-nepuk bahu Aisyah pelan, seolah sedang menenangkan sesuatu yang ringkih. Aisyah hanya menjatuhkan dagu, sebuah gerakan yang lebih mirip kepasrahan daripada jawaban.

​“Hujan sudah mulai reda,” kata relawan itu. “Kami akan menyisir lokasi, lanjut cari adikmu lagi. Pelan-pelan.”

​Aisyah menatap sendok di tangannya. Kepalanya terayun pelan, seolah beban di lehernya baru saja bertambah berat. Ia menyelipkan benda itu ke saku jaket, berdiri, lalu melangkah keluar posko. Di bawah tempias atap terpal, ia berhenti sejenak. Tangannya meraba saku, memastikan sendok itu masih ada—sepotong logam yang kini terasa lebih hangat dari tubuhnya sendiri.

Untuk sesaat, ia ragu: apakah ini sendok yang sama? Ingatannya bergeser pelan, seliweran seperti bayangan di air keruh. Ia membayangkan gagangnya dulu lebih panjang, atau mungkin justru lebih pendek. Ia tak lagi yakin kapan retakan itu muncul—sebelum adiknya lahir, atau setelah ayahnya jatuh sakit. Ia ingat panas gula di ujung sendok, tapi tak ingat siapa yang pertama kali meniupnya; ibunya, atau dirinya sendiri. Dalam ingatannya, wajah- wajah itu saling tumpang-tindih. Aisyah membiarkannya.

Hujan benar-benar berhenti. Dari kejauhan terdengar orang memanggil nama, satu per satu, tak selalu mendapat jawaban. Aisyah menarik napas sampai bahunya merosot, lalu melangkah lagi menuju gundukan lumpur yang ia yakini sebagai bekas rumahnya.

​Ia membuka plastik permen awan dari kota. Udara sumuk segera mengalahkannya. Kapas merah muda itu menciut, kehilangan rupa, lumer di sela jari. Janjinya nyeri di dada, layu sebelum sempat diserahkan.

Ia tak menangis. Matanya perih ngenyut, seperti dulu ketika asap lilin mengenai wajahnya. Ia meletakkan sisa permen yang kempes itu di cekungan sendok hitam. Merah muda yang keruh di atas hitam yang legam. Ia menaruhnya perlahan di atas gundukan lumpur yang masih lembap.

​“Cuma ini yang sempat Kakak tenteng,” gumamnya.

​Tetes air langit jatuh pelan dari sisa atap yang patah. Permen itu perlahan luluh, menyatu dengan bumi. Sendok hitam tertinggal, karam separuh badan, tanpa siapa pun yang mengambilnya lagi.

 

***

 

Ridwan, saat ini berdomisili di Kota Bogor. Ia merupakan mahasiswa program studi Ilmu Hukum di Universitas Terbuka. Di sela-sela kesibukan akademiknya, ia aktif mengeksplorasi gagasan melalui tulisan. Ridwan dapat disapa melalui akun Instagram-nya di @ridwan_veritas.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat