Sastra
Raga Buluh
Oleh MAYA SANDITA
Petang baru lepas. Matahari menyisih ke biliknya, meninggalkan berkas langit jingga sepanjang peraduan langit dan laut. Malam menjelang di desa Selese.
Sejak adzan Maghrib dikumandangkan, orang kampung sudah ramai di dalam masjid. Apabila selesai Isya, barulah ramai semua keluar, berbondong-bondong menuju rumah masing-masing. Desa Selese tak pernah sunyi. Ya, tak pernah sunyi sebelum ini.
Bermula dengan yang terjadi hari itu. Selepas Ashar menjelang Maghrib, Jumat petanglah sekiranya_. Mak Uwe lewat di depan masjid. Anak-anak baru akan berangkat mengaji dengan Tok Bah. Sementara menunggu Tok Bah yang terlambat kala itu, mereka bermain di jalan.
Mak Uwe tengah membawa sepeda dengan raga buluh yang penuh sayur. Sebuah keranjang bambu yang diletakkan di belakang sepeda. Memanglah pula masa panen di kebun Mak Uwe. Sayur perlu diantar segera ke dermaga, sebab perahu motor akan berangkat memancung laut sebentar lagi. Agak terburu waktulah Mak Uwe. Ia sudah berteriak dari jauh mengimbau anak-anak agar menepi, namun mereka tetap asyik bermain di jalan samping masjid.
Celaka tak dapat dielakkan lagi. Satu diantara banyak anak yang sedang bermain, tersenggol raga buluh Mak Uwe. Sebenarnya hanya tersenggol sedikit saja. Namun badannya yang berputar itu tidak bisa berdiri tegap seketika, ia masuk ke lungkang. Bajunya basah dan bau. Teman-teman menertawakannya. Ia malu dan berlari pulang. Di jalan, ia bertemu Tok Bah. Saat dipanggil ia tak menoleh, bahkan lari lebih laju.
Anak-anak yang melihat Tok Bah dari kejauhan langsung masuk ke masjid. Kegiatan mengaji pun dimulai. Sebelumnya Tok Bah pula bercerita bahwa sebenarnya badan beliau sedang tidak sehat. Dengan demikian, maklumlah anak-anak atas keterlambatan Tok Bah.
Hampir selesai waktu mengaji, sebentar lagi adzan Maghrib akan dikumandangkan. Tibalah Andak, orang tua anak laki-laki yang tadi jatuh ke lungkang. Ia berdiri saja di luar masjid, tepatnya di pinggir jalan. Andak menunggu Mak Uwe lewat. Dari raut wajah Andak, Tok Bah sudah curiga, ada hal yang tak patut.
Benar saja, tepat ketika sepeda Mak Uwe melaju ke arah masjid, Andak menghadang. “Oi, Mak Uwe! Apa masalahmu sampai membuat anakku masuk lungkang? Dia menangis pulang dengan baju penuh lumpur!” bentak Andak.
“Sebentar Andak. Jangan langsung marah. Andak musti tahu kejadian sebenarnya. Saya tidak bermaksud menjatuhkan anak Andak. Raga buluh saya…” Mak Uwe mencoba menjelaskan.
“Memang raga buluh tua engkau ini yang buat masalah. Kereta sudah tua, raga buluh tua juga, orangnya pun tua! Tak tampakkah dengan mata dikau Mak Uwe, anak-anak tengah bermain?” Kekesalan Andak agaknya tak dapat ditawar. “Tengok dikau, Mak Uwe. Buat masalah lagi dengan raga buluh tua engkau ini, habislah!” Ia mendengus kesal dan membawa anaknya pulang.
Mak Uwe terduduk lemas. Ia melepas sepatu karetnya. Mak Uwe baru saja mengayuh sepeda belasan kilo. Belum lagi letihnya hilang, Andak menghadang dan meradang.
“Ambil wudhu Mak Uwe. Kita salat Maghrib. Tenangkan dulu hatimu.” Suara Tok Bah mengejutkannya.
“Masih sepuluh menit lagi menjelang Maghrib, Tok Bah. Istri saya menunggu obat yang saya beli tadi. Maaf, saya shalat di rumah saja bersamanya.”
Namun belum lagi sepatu karetnya terpasang, seseorang dengan sepeda motor menghampirinya, “Mak Uwe, istri engkau! Istri engkau sudah tak ada!”
Lutut Mak Uwe lemas bukan main.
Tok Bah mendekatinya. Beliau dengan tubuh rentanya memapah Mak Uwe masuk ke dalam masjid. “Sebentar lagi Maghrib, menghadaplah dulu pada Allah. Biar istrimu diurus oleh tetangga yang perempuan lebih dulu.”
Langit senja di Selese kali itu tidak seindah biasanya di mata Mak Uwe. Ia gagal mengantarkan obat istrinya tepat waktu. Istrinya sudah pergi menyusuri garis jingga yang panjang itu. Tangis pecah di sudut matanya saat mendengar nama istrinya dibacakan dalam berita duka. Seolah kata-kata yang terdengar itu merenggutnya paksa dari rasa tak percaya. Masjid ramai. Orang-orang sekampung menyalati almarhumah. Mereka mendoakan semoga kebaikan almarhumah diterima, dilapangkan kuburnya, dan diampuni dosanya. Selanjutnya, almarhumah dibawa ke rumah saudaranya yang lebih dekat dengan masjid.
Usai salat jenazah, orang kampung satu persatu pulang. Masjid mulai sepi. Mak Uwe berniat menemui Tok Bah usai shalat sunahnya. Ia berniat meminta nasihat Tok Bah agar ikhlas melepas istrinya. Namun beliau tak kunjung berdiri dari sujudnya hingga lima belas menit berlalu.
Mak Uwe memberanikan diri mendekat. Ia menyentuh pundak Tok Bah. Benar saja yang Mak Uwe duga. Tok Bah rebah. Tubuhnya sudah dingin, udara tak lagi mengalir di hidung Tok Bah. Mak Uwe berlari ke luar masjid dan berteriak, “Tolong! Tok Bah sudah pergi. Tok Bah sudah berpulang. Tok Bah sudah dingin.” Sekali lagi ia terduduk lemas di pintu masjid. Untuk kedua kalinya di hari yang sama, desa Selese berduka.
Keesokan harinya, dua jenazah dimakamkan. Kampung hening selama sepekan. Kegiatan mengaji terhenti sebab belum ada pengganti Tok Bah. Anak-anak mengaji di rumah.
Sementara di gubuk usang, Mak Uwe berdiam diri. Yang orang lain tahu, Mak Uwe melewati malam-malam dengan duka yang dalam. Siapa sangka ia menyimpan luka dan dendam. “Andai Andak tak menghadangku sore itu, tentu aku sudah di rumah, menyuapimu makan malam dan obat yang sebelumnya kau pesan,” kenang Mak Uwe.
“Ia menyalahkan raga buluh tua kita. Raga buluh yang membawa hasil panen kita setiap bulan. Raga buluh yang sudah puluhan tahun menanggung beban. Apa yang tak pernah ia bawa? Hasil kebun kita, hasil jaring ikan Mak Long, makan siang puluhan buruh tambang dulu, tas-tas perantau yang baru pulang dari negeri seberang. Kuantarkan sampai ke tujuan! Ia lebih dari sekadar raga buluh tua.” Mak Uwe menangis memeluk raga buluh tua itu. Isaknya terdengar oleh sesiapa yang lalu. Orang kampung menarik kesimpulan, Mak Uwe mengalami gangguan jiwa.
Ketika fajar menyibak kelam dini hari. Beberapa kalimat terdengar lagi untuk pertama kalinya dari pengeras suara di menara masjid. Andak beserta anak lelakinya tidak ditemukan. Mereka berdua hilang senyap. Hal itu disadari tetangga Andak yang hendak meminta air untuk berwudhu sebelum shalat Subuh, namun tak mendengar suara Andak dari dalam rumahnya. Anehnya, pintu belakang rusak. Pasaknya lepas dari tempatnya. Jelas pintu didorong keras dari luar.
Satu kampung menghentikan aktivitas. Semua orang mencari Andak dan anaknya. Pencarian dilakukan dari rumah ke rumah, dari bukit ke bukit, dari dermaga ke dermaga. Orang-orang tak menaruh curiga pada Mak Uwe. Si tua gila yang kemana-mana bersepeda membawa sekarung sampah dalam raga buluh tidak mungkin melakukannya. Sedang kini Mak Uwe sibuk membenamkan raga buluh yang timbul tenggelam di kolam pencucian tambang mati.
Batam, 10 Mei 2026
Maya Sandita, penulis dan kepala laboratorium yang berdomisili di Batam – Kepulauan Riau. Buku kumpulan cerpennya bertajuk Ruang Tunggu (2021). Salahsatu cerpennya Lelaki di Bawah Lampu Jalan – Kompas (2020). Menjuarai berbagai lomba sastra berbahasa daerah Minangkabau. Salahsatunya juara 1 dalam Lomba Menulis Sastra Minangkabau Tema Kaba tingkat nasional yang diadakan oleh Disbud Sumatera Barat, dengan judul naskah Sambang Sambilan (2020) Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme , E-mail sanditacorp@gmail.com.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
