Puisi Merobohkan Berhala Kekuasaan | Daan Yahya/Republika

Sastra

Merobohkan Berhala Kekuasaan

Oleh CHUDORI SUKRA

 

Melumpuhkan Raymond

 

Agak sulit tampaknya melumpuhkan Raymond

dari berbagai arah dan dengan berbagai macam cara.

Dia tak punya musuh,

dan keluarganya pun mendukungnya pula.

Aku sebagai penguasa sudah mengerahkan

berbagai macam cara,

ratusan netizen sudah kuperintahkan,

puluhan hacker sudah kubayar mahal,

namun tak ada jejak digital Raymond

yang dapat menjadi sasaran tembakku.

Kupanggil beberapa sahabat dekatnya,

dan mereka pun pulang setelah kuberi amplop tebal.

Sekarang aku mulai mengerahkan beberapa utusanku

untuk mencari titik kelemahannya.

Akhirnya, kudapatkan info miring tentangnya

dari mantan istrinya.

 

***

 

Kelemahan Tiffany

 

Sulit juga kutembak Tiffany sebagai sasaran empuk.

Dia seorang salehah yang rajin beribadah,

kehidupan pesta dan dunia glamor tak disukainya.

Mantan suaminya mendukungnya pula.

Aku pun duduk semalaman di pojok kubangan

tempat bersemayam binatang piaraanku.

Datanglah Simbah di kegelapan malam.

Setelah aku menunduk dan bersujud di hadapannya,

dia pun memberiku nasehat,

bahwa kelemahan Tiffany terletak pada kesukaannya

untuk memiliki mobil mewah

agar dapat menyaingi istri

dari mantan pacar yang memutuskannya.

 

***

 

Titik Kelemahan

 

Kalian harus cari sedapat mungkin

di mana titik kelemahannya.

Jika bukan karena kedudukan di kantornya,

mungkin soal pacarnya atau keinginannya

untuk memiliki rumah atau mobil mewah.

Segera kerahkan para hacker

untuk menyelidiki jejak digitalnya.

Bikin dia menderita agar tak dapat tidur

di malam hari serta cemas dan panik di siang hari.

Dia itu manusia yang bukan hanya seonggok daging,

tetapi meliputi jiwa yang dapat kita atur

dan arahkan agar hidup menderita.

Agar supaya orang-orang di sekitarnya tahu

bahwa akulah sang penguasa tunggal satu-satunya.

 

***

 

Berhala Kekuasaan

 

Ada beberapa biawak yang memakan habis

kodok-kodok di balong samping rumahku.

Sudah dua dekade Simbah memerintahkan aku

agar memelihara kodok-kodok itu.

Sekarang aku bingung tanpa petuah

tanpa nasehat karena Simbah sudah tiada

sejak terkena Pandemi Covid dua tahun lalu.

Kini tinggal tiga biawak yang dapat kupantau

di kegelapam malam.

Satu biawak sudah berhasil aku tundukkan,

dengan memberi pakan kesukaannya.

Tetapi dua biawak lagi sulit kumengerti apa maunya.

Tetapi akhir-akhir ini, batinku semakin menderita,

karena satu biawak yang berhasil kulumpuhkan,

tiba-tiba mendatangkan ribuan biawak muda

mengikuti jejak dua biawak yang selama ini merecoki

jalan hidupku dan keluargaku.

 

***

 

Kembali ke Asal

 

Terpaksa aku menuruti nasehat dan kemauan istriku

agar cincin yang kukenakan segera dilempar

ke tengah rawa-rawa tempat bersemayamnya

kodok-kodok piaraanku yang kini sudah semakin tiada.

Kuperintahkan pula cincin kedua anakku

agar dibuang dan dilemparkan pula.

Sebab, mereka pun mengenakan cincin keramat

yang pernah diberikan Simbah dari Gunung Lawu

yang kini sudah meninggal karena terkena Covid-19.

Kedua anakku memprotes,

kenapa kami harus membuang cincin-cincin itu?

Aku pun segera menegaskan,

bahwa kehidupan ini hanyalah senda gurau

dan kesenangan yang menipu.

Mungkin ada benarnya petuah

dalam buku Pikiran Orang Indonesia itu,

bahwa kekuasaan yang diraih dengan dendam

kelak akan bermuara pada pertentangan

yang tak berkesudahan.

Sekarang kita semakin paham nasehat dari Koran Tempo

tentang sastra mengenai “Jimat dari Mayor Gibran”

Lebih baik kita pulang saja ke kampung halaman,

hidup sederhana seperti yang dulu lagi.

Kita harus kembalikan kekayaan negara

yang sebenarnya bukan menjadi hak milik kita.

Kita harus hidup tenang dan nyaman.

Sebab, segala mantra dan azimat itu

hanya menguntungkan kita dalam sekejap mata.

Setelah itu, hidup kita pasti diselimuti kegelapan

hingga hayat dikandung badan.

 

***

 

Chudori Aukra adalah anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga aktif menulis prosa dan esai untuk media-media nasional seperti Kompas, Republika, Koran Tempo dan lain-lain.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat