Sastra
Ruamnya Seorang Perempuan
Puisi-puisi Damay Ar-Rahman
Oleh DAMAY AR-RAHMAN
Biarkan Sejenak diriku Lepas
Hanya sebuah daun menerbangkan dirinya untuk pergi separuhnya dari yang telah lama ia tempati.
Mengunjungi dan memberi serpihan nafas untuk bercerita
Tanpa awan dan hanya langit menjunjung tinggi yang menemani
Diantara bumi dan dimensi
Semoga ada dari keduanya untuk menyaksikan dan mendengarkan
Tepuk tangan tidak ada dalam kamus kehidupan
Senyuman dan mata nanar berair
Menyejukkan seharga kemarau
Sejak itu pula orang-orang keluar
Lalu di atas yang begitu runtuh
Takut serta kalut
Sebuah nestapa yang akan mati
Jika hidup tanpa mengharap belas kasih
Kekuatan yang utuh
Adalah menggenggam erat jiwa dan akal
Budi pekerti
Menjadi pandangan kekaguman
Jika engkau membutuhkan waktu untuk rehat
Pergilah sejauh engkau menyembuhkan jiwa
Kembalilah, bagimu dan pembuktian kepada yang fana
***
Ruamnya Seorang Perempuan
Hidup adalah bualan
Sesakit kematian para suci
Sepedih marah pada luka di hati
Seperih hati yang dipatahkan janji
Patah oleh harapan
Hingga sebuah nestapa
Bercerita
Bahwa kita... mungkin akan terbawa oleh mantra akhir dari peristiwa berkesudahan
Mana dikata...
Sebuah umpama rintik hujan membanting diri ke tanah
Dari awal ia berada di atas awan
Terpenggal oleh udara bebas
Menjadi keruh hingga menjalar menuju jalan tanpa ujung
***
Sepotong Cara Hidup
Entah harus berbicara apa
Susah mendefinisikan keadaan
Antara meninggikan diri
Atau merendahkan harga diri
Seperti sedang mengupas buah
Perlahan-lahan sentuhan isi dari dalamnya berkecambah pada suara
Tetapi, dalam sesaat seluruh keindahan pada isinya telah dipupus oleh keinginan
Apa dahaga...
Atau ternyata, adalah sebuah kekosongan dari kelaparan tanpa jeda
***
Aku....adalah Sepasang Sepatu
Sepasang sepatu Hitam
Mulai goyah
Dihantar melalui terminal kota
Sesak debu dari kendaraan para pemulang kerja
Beramukan di wajah-wajah ingin bertaubat
Pulang untuk bertemu siapapun yang dianggap pelampias lelah
Tetapi tidak semua dapat berpulang dengan pertemuan
Dia...sepasang sepatu itupun
Terkadang diletakkan tanpa bersama
Aroma berhari-hari yang merusak rongga
Sabar untuk tetap dibawa
Ia begitu paham mengenai hidup
Bahwa...
"Aku adalah sepasang sepatu"
***
Cobalah Memandang-Ku
Daun-daun tumbuh subur
Bunga-bunga pun mekar
Langit begitu menjunjung matahari
Namun, tidak seikhlas orang-orang yang berpayung dari langit cerah ini
Mereka kompak
Jalan seperti barisan prajurit
Membawa senapan berbentuk ransel dan kresek
Sambil menopang wajah mereka dengan telapak tangan kerdil
Tidak semua yang diciptakan bangga dengan Tuhannya
Walaupun begitu banyak cinta-Nya tercurah
Benda-benda diluar wajah manusia
Mereka berbeda
Tetapi lebih jauh dari kesempurnaan
Yang ternyata banyak terbuang karena lupa
***
Ada Senja di Pelupuk Matamu
Melihat-Mu
Aku tertegun
Sekaligus memandang-Mu
Dalam lubuk hati yang berkabung
Mengenang-Mu
Adalah selubung yang terbendungnya air suci nan sejuk
Mengalir di pipi
Seperti nirwana membubuhi limbubu awan yang mengepung mendung
Dalam hatiku
Engkaulah segala hidup
Menopang kali yang rapuh
Menindas sembilu
Saat tanpa letih engkau mendengar
Melihatku penuh dengan lumpur dosa
Apakah aku akan berkesempatan memimpikanmu untuk saling berpegangan
Sentuhan tak terlihat
Memberi kedamaian
Dalam sepinya aku
Dari dunia fana
***
Ketika Air Langit Marah
Yang kering dan lembab di kala malam sepi memar mendentum di atap rumah
Begitu menawan di bawah jernihnya air mata
Bebatuan bening
Memancarkan pantulan sinar mentari
Menembus celah-celah berduri
Dari pohon yang meradang
Sepi akibat bercerai dari tanah
Sudut dipelupuk mata pagi
Kulihat senyuman membulirkan kemesraan penuh roman
Tanpa pertikaian
Diletakkan, dihancurkan seakan-akan tiada penghidupan
Sampai tangisan meluluhlantakkan hingga ke tengah Adam dan hawa
***
Nuansa Pagi
Kali ini
Aku tak memandang tanah subur dengan bunga disertai daun hijau teduh
Suara ilalang yang berdesir saling bersahutan karena angin membelai lembut
Detik ini saat bangun dari tidur seperempat subuh
Karena suara rintih orang-orang membuatku takut akan kedatangan tamu pembawa catatan hidup
Yang tidak kutulis untuk isi kantungku
Suara takbir memanggilku untuk berseru
Sudah dilahap tanpa meninggalkan kenyang
Seperti nuansa malam begitu mencekam
Tidak ada harapan untuk pulang segera
Bahkan ibu kulihat sedang termenung melihat dinding dipenuhi coretan coklat kental
Jika kutemui wajah sang purnama
Maka akan membuyarkan pandangannya pada parasku penuh kasihan
Kali ini, kusaksikan bukan sekumpulan ayam-ayam yang menanti rezekinya
Namun, hanya segerombolan tulang-tulang bumi dari tengah ranjang yang dihancurkan oleh orang-orang tak suka dengan sepasang kasih untuk memelihara bumi
***
Damay Ar-Rahman, alumni Universitas Malikussaleh dan IAIN Lhokseumawe merupakan pengajar dan penulis buku puisi Aksara Kerinduan 2017, Serpihan Kata 2018, Senandung Kata 2018, kmpulan cerpen Bulan di Mata Airin 2018, Dalam Melodi Rindu 2019, novel Akhir Antara Kisah Aku dan Kamu 2020, Di Bawah Naungan Senja, Musafir, 2022, dan Hati yang Kembali 2025. Tulisan dimuat oleh berbagai surat kabar lokal, nasional, dan Malaysia.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
