Potret Arthur Conan Doyle, pencipta tokoh Sherlock Holmes,. | Portsmouth Museum - Arthur Conan Doyle Collec

Teraju

26 May 2022, 03:55 WIB

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

OLEH SIWI TRI PUJI B

Tak banyak yang tahu, akhir pekan lalu diperingati sebagai Hari Sherlock Holmes Sedunia oleh para penggemar karakter detektif rekaan itu. Tanggal 22 Mei adalah hari ulang tahun penciptanya, Arthur Conan Doyle.

Tahun ini genap 135 tahun sang detektif menemani hari-hari para penggemarnya. Bocoran bagi mereka yang belum pernah membaca kisah-kisahnya -- dan baru akan memulai membacanya -- ada 56 cerita pendek dan empat novel. Saat ini ada jauh lebih banyak cerita Holmes palsu daripada yang asli. 

Kisah Sherlock Holmes pertama muncul di media cetak pada tahun 1887. Novel pertama yang menampilkan sosoknya, A Study in Scarlet, dimuat di Beeton's Christmas Annual pada tahun itu. Novel kedua, The Sign of the Four, dimuat di Lippincott's Monthly pada tahun 1890.

Tokoh ini semakin populer setelah cerita pendeknya dimuat secara berseri di majalah The Strand, diawali dengan A Scandal in Bohemia pada tahun 1891 yang berlanjut sampai tahun 1927 dengan tambahan dua novel. Novel dan cerita pendek tersebut berlatar waktu tahun 1880-an hingga 1914.

Hampir semua cerita petualangan Holmes dinarasikan oleh sahabat karibnya, Dokter John H Watson, kecuali dua yang diceritakannya sendiri (diterjemahkan dengan judul Kasus Prajurit Berwajah Pucat dan Misteri Surai Singa) serta dua yang ditulis dengan sudut pandang orang ketiga (Kasus Batu Mazarin dan Salam Terakhir).

Dalam dua cerita, Ritual Keluarga Musgrave dan Kapal Gloria Scott, Holmes awalnya memberitahu Watson apa yang diingatnya mengenai kasus tersebut, lalu dikembangkan oleh Watson. Novel pertama dan keempatnya, A Study in Scarlet dan The Valley of Fear, masing-masing memiliki bagian penceritaan ulang dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu yang tidak diketahui oleh Holmes maupun Watson.

photo
Potret Arthur Conan Doyle, pencipta tokoh Sherlock Holmes,. - (Corbis)

Kisah-kisahnya terus diterbitkan selama empat puluh tahun berikutnya, sampai tak lama sebelum kematian penulisnya. Selama kurun waktu ini, sang detektif memiliki petualangan yang tak terhitung jumlahnya, biasanya ditemani oleh kawan sekaligus asisten setianya, Dr Watson.

Karakter lain termasuk saudara Holmes, Mycroft, serta musuh bebuyutannya dan dalang aneka macam kejahatan, Profesor James Moriarty. Kisah-kisahnya telah banyak difilmkan dan terus mendulang penggemar baru hingga saat ini.

Apa yang membuat kisah Sherlock Holmes tetap hidup dan disukai? Seperti halnya sastra serial, elemen terpenting dari daya tarik cerita Holmes adalah kepribadian karakter utamanya, diikuti oleh hubungannya dengan amanuensisnya.

Nyentrik, sinis, dan entah kenapa acuh tak acuh terhadap wanita, rasional untuk suatu kesalahan namun menderita kebosanan yang begitu mendalam sehingga ia harus menggunakan kokain untuk menghilangkannya. Pendek kata, Holmes adalah model eksentrik Inggris, eksotis di mana-mana kecuali di tanah kelahirannya.

Menciptakannya, bagaimanapun, adalah prestasi yang cukup besar dari imajinasi romantis pengarangnya. Untuk memasangkannya dengan Dr. Watson, pensiunan ahli bedah tentara yang menceritakan semua kecuali segelintir cerita, adalah sesuatu yang jenius. Humor plegmatis Watson yang baik yang mengakar pada petualangan fantastis Holmes dan kliennya di London sulit dilupakan.

Apa yang membuat cerita-cerita itu dapat dibaca kembali setelah kita mengingat plotnya adalah permainan kedua pria itu, serta deskripsi Doyle yang menawan tentang kehidupan di flat Baker Street yang mereka tinggali.

photo
Ilustrasi novel Sherlock Holmes dari tahun 1892. - (Museum London)

Doyle berulang kali menyatakan bahwa karakter detektif awalnya terinspirasi oleh rekannya, Joseph Bell, seorang ahli bedah di Royal Infirmary of Edinburgh, dimana Doyle bekerja sebagai asistennya. Seperti Holmes, Bell terkenal karena kemampuannya untuk menarik kesimpulan luas dari pengamatan kecil, tetapi pengamatannya digunakan sebagai dokter, bukan detektif.

Francis "Tanky" Smith, seorang polisi dan ahli penyamaran yang merupakan detektif swasta pertama Leicester, juga diduga telah mempengaruhi karakter tersebut. Dan, tentu saja, sahabat Holmes, Watson, juga seorang dokter medis seperti Doyle.

Omong-omong, Doyle pernah gagal "membunuh" Holmes. Saat menulis The Final Problem (diterbitkan 1893, tetapi berlatar tahun 1891), Doyle merasa bahwa "energi sastra saya tidak boleh terlalu banyak diarahkan ke satu saluran." Maka ia memutuskan mematikan Holmes dalam novel ini. 

Namun, reaksi publik sangat di luar dugaan. Para pembaca yang tertekan menulis surat kesedihan kepada The Strand, dan 20 ribu orang memutuskan berhenti berlangganan majalah itu sebagai protes. Conan Doyle sendiri menerima banyak surat protes, dan seorang wanita bahkan memulai suratnya dengan dua kata: "Kamu jahat!" 

photo
Ilustrasi Sherlock Holmes di Majalah Strand. - (Museum London)

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes sehingga mereka mengenakan pita hitam di lengannya sebagai tanda berkabung. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kematian seorang tokoh fiktif!

Setelah menolak tekanan publik selama delapan tahun, Conan Doyle menulis The Hound of the Baskervilles (secara berseri pada tahun 1901–1902, dengan latar implisit sebelum kematian Holmes).

Pada tahun 1903, Conan Doyle menulis The Adventure of the Empty House; berlatar tahun 1894, Holmes muncul kembali, menjelaskan kepada Watson yang tercengang bahwa dia telah memalsukan kematiannya untuk mengelabui musuh-musuhnya. Namanya juga cerita fiktif, ya kan?! Pengarangnya bebas menuntun ke arah mana cerita dibuat.

Ketika Sang Detektif Memukau Sultan

Saat itu Ramadhan, dan Sultan menuliskan pesan bahwa dia sudah membaca semua buku saya dan akan menemui saya setelah Bulan Suci. Melalui perwakilannya, dia juga memberi saja Penghargaan Medjidie, dan Penghargaan Chevekat untuk istri saya.

Penulis novel Sherloc Holmes, Arthur Conan Doyle, menuliskan ini dalam momoarnya, Memories and Adventure. Sultan yang dimaksud dalam tulisannya adalah Sultan Abdul Hamid II, sultan terakhir dalam Kesultanan Ottoman (Usmaniyah) yang berpusat di Turki. 

photo
Sultan Abdul Hamid II - (Wikimedia Commons)

Bukan rahasia, Sultan Abdul Hamid II  (1876-1909) adalah salah satu pembaca setia serial Sherloc Holmes. Meskipun pendidikan yang diterimanya dianggap tidak memadai, ia memiliki banyak pengetahuan. Membaca adalah salah satu kegemarannya, dan dia menangani sebagian besar urusan negara dari perpustakaan pribadinya. 

Sultan Abdul Hamid II dikenal sebagai pembaca novel yang bersemangat. Ia juga menyukai artikel perjalanan dan publikasi yang terkait kesehatan. Dia mengikuti karya-karya terbaru yang diterbitkan di Eropa dan menerjemahkannya di kantor terjemahan yang dia dirikan di Istana Yıldz.

Dia membaca semua jenis buku selama jam kantor dan seringkali hingga larut malam. Tapi dari semua genre novel, pilihan pertamanya sebelum tidur adalah novel detektif.

"Saya memiliki masalah tidur, jadi saya meminta seseorang untuk membaca buku, yang kedengarannya seperti lagu pengantar tidur bagi saya. Saya tertidur lelap pada paruh pertama cerita," ceritanya, seperti tertulis dalam memoar yang ditulis putrinya, Ayse Osmanaglu, My father, Sultan Abdülhamid.

Ia menghindari buku-buku yang "berat" dan menggugah pikiran dengan ketakutan bahwa buku itu akan menempel dalam benaknya, dan membuatnya makin sulit tidur. Namun novel Conan Doyle adalah mengecualian. 

Asisten pribadinya, Ismet Bey, akan membacakan novel detektif keras-keras dari balik partisi di dekat tempat tidurnya ketika Sultan beranjak ke peraduan.  Ia akan meninggalkan ruangan dengan tenang setelah Sultan terlelap.

Sultan Abdul Hamid II mengenal cerita Sherlock pada tahun 1908 berkat terjemahan Faik Sabri Duran. Namun, ada banyak cerita Holmes yang diterjemahkan lebih awal untuk apa yang diistilahkan sebagai "Koleksi Utama Yıldz".

Seorang penerjemah yang memperkenalkan dirinya sebagai 'Corci Sang Pelayan' dalam manuskripnya merangkum cerita Sherloc Holmes dalam bentuk buku catatan, dan menerjemahkan banyak cerita Holmes jauh sebelum tahun 1908. 

photo
Ilustrasi Sherlock Holmes bersama asistennya Dr Watson pada Majalah Strand edisi 1983. - (Strand Magazine)

Erol Yepazarci yang melakukan penelitian tentang novel-novel detektif menemukan ada 72 terjemahan di Istana Yıldz dan 505 di Arsip Ottoman Universitas Istanbul. Novel detektif terkenal lainnya, Arsen Lupin, diterjemahkan ke dalam bahasa Turki pada tahun 1905, alias dua tahun sebelum diterbitkan di negara-negara barat sebagai sebuah buku.

Abdul Hamid II pertama menemukannya di sebuah majalah yang diterbitkan sebagai cerita berseri. Dia segera memerintahkan untuk menerjemahkannya. inilah kali pertama dia mulai tertarik dengan cerita-cerita detektif.

Ia juga meminta seorang perwira di Kedutaannya di Inggris untuk menerjemahkan publikasi tentang dirinya dan melaporkan kembali kepadanya. Melalui terjemahan-terjemahan ini, ia berhasil menyimpan semua artikel tentang dirinya yang diterbitkan di luar negeri. Terkadang sultan meminta agar karya-karya penulis favoritnya dikirimkan kepadanya oleh duta besar untuk dapat diterjemahkan di kantor penerjemahan istana. 

Dengan jalan ini pula, Sultan mengenal karya Conan Doyle untuk pertama kalinya. Tepatnya, setelah ia membaca salah satu majalah asing favoritnya, Strand, edisi Oktober 1903. Dia memperhatikan kisah The Empty House karya Arthur Conan Doyle di halaman sebelumnya, dan inilah "pertemuan" pertama Sultan dengan karakter Arthur Conan Doyle dan Sherlock Holmes. Segera setelah itu, dia lebih menyukai Doyle daripada cerita detektif Prancis yang telah dia baca sejauh ini. 

Kemudian sultan meminta Muzurus Pasha, Duta Besar Ottoman di London untuk mengirim semua karya Doyle ke istana. Tak sampai hitungan bulan, seluruh cerita Sherloc khatam dibacanya, dan berujung berkirim pesan serta penghargaan bagi penulisnya.

Trivia

* Pada 2012, Guinness Book of World Records mencatat Sherloc Holmes sebagai karakter yang paling banyak digambarkan dalam film dan televisi

* Sherlock Holmes telah ditampilkan di layar sebanyak 254 kali dan terus bertambah

* Serial adaptasinya, Enola Homes, menuai gugatan. Pewaris Arthur Conan Doyle menggugat Netflix karena melanggar hak cipta Doyle. Gugatan serupa pernah dilayangkan lima tahun lalu terhadap Miramax untuk filmnya, Mr. Holmes, yang hanya mengulas sekilas tentang pensiun Holmes di akhir cerita.

 

* Oh, ya, dalam novel Doyle, Sherloc Holmes lempang saja ekspresinya. Jadi jika film yang dibuat ingin karakter Holmes mengekspresikan emosi, penciptanya harus membayar.


Memperkuat Dewan HAM

Sejak dibentuk, efektivitas Dewan HAM belum signifikan. Namun, cukup menjanjikan untuk mendorong pelaksanaan HAM lebih baik.

SELENGKAPNYA

Mitigasi Krisis Pangan

Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula.

SELENGKAPNYA

Oksigen Persaudaraan

Ajaran agama telah mengajarkan perlunya silaturahim.

SELENGKAPNYA
×