Petani India memanggul hasil panen gandum di Jammu, Kamis (28/4/2022). Gelombang panas tahun ini menurunkan jumlah hasil panen di wilayah itu. | AP/Channi Anand

Opini

24 May 2022, 03:45 WIB

Mitigasi Krisis Pangan

Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula.

KHUDORI, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia dan Komite Pendayagunaan Pertanian

Resonansi krisis pangan kembali berbunyi nyaring. Pada tengah pekan di pekan ketiga Mei 2022, Sekjen PBB Antonio Guterres menyeru alarm krisis pangan global. Dari markas PBB di New York, ia berujar invasi Rusia di Ukraina menyulut krisis pangan global.

Perang memperburuk krisis pangan di negara miskin dan importir bersih pangan. Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula. Kecemasan ini didasari kecenderungan pengekspor pangan prioritas kepentingan domestik.

Ini terjadi sejak krisis pangan 2008. Kecenderungan berulang. Akibat gangguan gelombang panas yang mengancam produksi, 13 Mei 2022, India menghentikan ekspor gandum. Ini memperdalam krisis gandum dunia sejak invasi Rusia ke Ukraina.

 
Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula. 
 
 

Harga gandum di pasar berjangka yang sempat turun kembali melonjak 5,9 persen menjadi 12,46 dolar AS/gantang pada 15 Mei 2022. Rusia dan Ukraina memasok 34,1 persen kebutuhan gandum dunia: Ukraina 10 persen dan Rusia 24,1 persen.

Sejak perang berkecamuk, 24 Februari 2022, harga gandum naik 56 persen dari sekitar 8 dolar AS/gantang jadi 12,4 dolar AS/gantang, membuat gandum India lebih mahal dari pasar internasional, bisa menembus pasar ekspor.

Harga gandum turun 25 persen dari titik tertingginya ke 10 dolar AS/gantang.

Masuknya gandum India ke rantai ekspor dunia meringankan negara yang menggantungkan 80 persen biji-bijian dari Ukraina dan Rusia: Benin dan Kongo di Afrika; Mesir, Qatar, dan Lebanon di Timur Tengah; dan Kazakhstan serta Azerbaijan di Asia Tengah. Juga Indonesia.

 
Padahal, sejak invasi Rusia di Ukraina, negara yang membatasi ekspor terus bertambah, dari tiga menjadi 16 negara pada awal April 2022.
 
 

Melepas 8,5 juta ton per tahun, peran India dalam ekspor gandum sejatinya minor, delapan besar dunia. Namun, pelarangan ekspor itu seperti penyakit menular: mudah diikuti negara lain.

Padahal, sejak invasi Rusia di Ukraina, negara yang membatasi ekspor terus bertambah, dari tiga menjadi 16 negara pada awal April 2022. Ekspor yang terkena pembatasan mewakili 17 persen dari total kalori yang diperdagangkan di dunia.

Menurut Glauber (2022), ada lima pangan dominan yang menyumbang hampir 90 persen dari kalori yang terpengaruh pembatasan ekspor: gandum (31 persen), minyak sawit (28,5 persen), jagung (12,2 persen), minyak bunga matahari (10,6 persen), dan minyak kedelai (5,6 persen).

Data ini lebih dari memadai untuk membuat negara importir pangan bersih cemas. Sebab, volume ekspor (setara kalori) yang terkena pembatasan usai invasi Rusia melampaui saat krisis pangan 2008: 16 persen.

Di luar itu, sinyal krisis pangan tampak dari tingginya indeks harga pangan FAO, mencapai 159,3 pada Maret 2022, tertinggi sejak 1990. Indeks sedikit menurun pada April 2022: 158,5. Jauh melampaui indeks serupa saat krisis pangan 2008 (117,5) dan 2011 (131,9).

 
Indeks melompat tinggi didorong kenaikan harga minyak nabati dan serealia. Bagi negara importir pangan, dua fenomena di atas sinyal krisis pangan segera berdentang. Alarm krisis pangan segera menyala.
 
 

Indeks melompat tinggi didorong kenaikan harga minyak nabati dan serealia. Bagi negara importir pangan, dua fenomena di atas sinyal krisis pangan segera berdentang. Alarm krisis pangan segera menyala.

Jika perang berlarut-larut produksi gandum, jagung, barley, dan biji bunga matahari dari Rusia dan Ukraina bakal merosot tajam. Rusia dan Ukraina pemasok 12 persen total kalori yang diperdagangkan di dunia. Mereka masuk  lima pengekspor global serealia dan biji minyak penting.

Ancaman penurunan produksi pangan global juga dari sisi input: kenaikan harga gas alam dan pupuk. Rusia menyumbang 20 persen ekspor gas alam dunia. Selain mengancam suplai energi, kenaikan harga gas, bahan baku utama pupuk, membuat harga pupuk nitrogen mahal.

Eskalasi kenaikan harga pupuk di pasar dunia kian tak terbendung. Kondisi ini terkait fakta Rusia adalah pemasok pupuk nitrogen dan kalium dunia. Rusia menyumbang 15 persen perdagangan pupuk nitrogen dan 17 persen ekspor pupuk kalium dunia.

Pasokan pupuk yang seret dan harga yang tinggi, mengancam produksi pangan. Produksi bisa turun dan pasokan terjun bebas, termasuk tahun depan. Krisis pangan 2008 dan 2011 dimulai dari produksi pangan yang turun diikuti ekspektasi penurunan suplai.

 
Ancaman penurunan produksi pangan global juga dari sisi input: kenaikan harga gas alam dan pupuk.
 
 

Agar krisis pangan tak meledak, di level dunia harus ada kesepakatan tak akan ada pembatasan ekspor pangan. Jika dilakukan, sifatnya temporer dan jangka pendek. Pembatasan ekspor biasanya diikuti spekulasi pasar, yang bisa saja memicu kekacauan.

Bagi Indonesia, efek perang Rusia-Ukraina dan penutupan ekspor gandum India tak sebesar negara lain. Namun, efek dominonya tak bisa dipandang sepele. Rusia-Ukraina memasok gandum ke Indonesia hingga 30 persen.

Rusia dan Belarusia –pintu masuk invasi ke Ukraina—memasok 42,1 persen pupuk kalium. Rusia juga pemasok pupuk fosfat ke Indonesia. Dampaknya, harga pupuk nonsubsidi melonjak tinggi dan anggaran subsidi pupuk jebol. Jika volume pupuk subsidi dipangkas, taruhannya produksi pangan. 

Meski ruang fiskal sempit, pemerintah harus memastikan subsidi pupuk ke petani tak dipangkas. Ketika harga pangan, fokus utama negara harus memastikan kelompok miskin-rentan terlayani dan dijamin aksesnya pada pangan. Agar daya belinya terjaga. 


Ujian Seorang Mukmin

Tidak ada jalan lain kecuali bersabar dalam menghadapi ujian keimanan.

SELENGKAPNYA

Perang Masih Lama

Kita sebagai negara yang tidak terlibat langsung sangat memiliki kepentingan agar perang segera bisa diakhiri.

SELENGKAPNYA
×