Nasional
Menyelamatkan Generasi Digital dari FOMO dan FOBO
Dunia kini bergerak dalam ruang persepsi yang dibentuk algoritma.
JAKARTA — Penulis Fear of Missiong Out (FOMO) dan The 10% Entrepreneur, Patrick McGinnis, menilai ledakan media sosial, kecerdasan buatan, dan banjir informasi membuat FOMO dan FOBO (fear of better option) semakin kuat dibanding dua dekade lalu saat istilah itu pertama kali ia perkenalkan. Dunia, kata dia, kini bergerak dalam ruang persepsi yang dibentuk algoritma, sehingga hubungan manusia dengan realitas ikut bergeser.
“Kita hidup dalam ruang persepsi dan filter. Hubungan kita dengan realitas berubah. Di ruang seperti itulah FOMO dan FOBO berkembang,” ujarnya di sela World Governments Summit 2026 di Dubai, 4 Februari 2026, berdasarkan keterangan video yang ditujukan kepada Republika, Kamis (5/2/2026).
McGinnis menjelaskan, budaya kolektivis di Asia termasuk Indonesia memang relatif lebih tahan terhadap FOMO karena fenomena tersebut cenderung individualis, namun teknologi mempercepat perubahan perilaku.
Anak muda yang menghabiskan banyak waktu dengan perangkat digital, menurut Patrick McGinnis, jauh lebih rentan mengalami FOMO dibanding generasi orang tua mereka.
Ia menekankan, tekanan sosial hari ini tidak lagi datang hanya dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari tren global dan algoritma platform. Karena itu, Patrick McGinnis mendorong adanya pemahaman lintas generasi agar keluarga, sekolah, dan komunitas mampu membantu anak muda membangun ketahanan mental di tengah arus digital yang agresif.
Dalam konteks kepemimpinan, Patrick McGinnis menawarkan kerangka sederhana agar FOMO tidak mengambil alih keputusan strategis, yakni memperlakukan setiap pilihan besar seperti investasi.
“Tanya apa alasan Anda, apa potensi hasilnya, siapa sumber nasihat tepercaya, dan mengapa Anda peduli pada keputusan itu. Dengan bertanya hal-hal dasar itu, FOMO tidak akan menguasai prosesnya,” ujarnya.
Menurut McGinnis, pemimpin yang mampu menjaga kejernihan berpikir di tengah kebisingan informasi akan mengambil keputusan lebih cepat dan lebih presisi. Disiplin bertanya pada motif dan dampak, kata dia, membantu memisahkan sinyal dari distraksi.
Selain FOMO, FOBO juga makin sering muncul karena melimpahnya pilihan yang sama-sama menarik. “FOBO terjadi ketika kita hidup dalam kelimpahan pilihan. Untuk menguranginya, institusi perlu merancang arsitektur keputusan yang membantu orang menyingkirkan hal tidak penting secara cepat,” kata McGinnis.
Ia menilai, lembaga pendidikan dan pemerintah dapat berperan besar dengan mengajarkan literasi pilihan, yakni kemampuan memfilter informasi, memilah prioritas, dan membatasi distraksi agar individu tidak terjebak kelumpuhan keputusan.
Patrick McGinnis juga melihat Indonesia sebagai lahan subur bagi konsep 10% Entrepreneur, yaitu mendorong masyarakat membangun usaha sampingan tanpa meninggalkan pekerjaan utama. Dengan pasar besar dan sektor informal yang kuat, eksperimen kecil berpotensi melahirkan inovasi berdampak luas.
“Indonesia adalah masyarakat yang kompleks. Banyak pulau, banyak tantangan logistik, tapi justru di situlah kesempatan berada. Eksperimen kecil bisa menghasilkan inovasi besar,” jelas McGinnis.
Menurut Patrick McGinnis, pendekatan 10% entrepreneurship memberi ruang aman untuk mencoba hal baru karena risiko finansial tetap terkendali. “Kalau gagal, Anda masih punya pekerjaan utama. Tapi Anda juga mendapatkan pembelajaran berharga untuk langkah berikutnya.”
Dalam tataran kebijakan, Patrick McGinnis menyebut dua instrumen yang terbukti efektif di banyak negara berkembang, yaitu pendidikan kewirausahaan dan akses pembiayaan mikro.
"Pinjaman kecil, program pendampingan, atau skema pembiayaan sederhana bisa menciptakan efek besar. Ini tidak harus besar jumlahnya. Gabungan pendidikan dan akses finansial akan membuka energi luar biasa di masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, banyak wirausaha besar bermula dari proyek sampingan yang dikerjakan paralel dengan pekerjaan utama. “Sering kali, 10 persen entrepreneur hari ini menjadi 100 persen entrepreneur di masa depan.”
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
