Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

24 May 2022, 03:30 WIB

Oksigen Persaudaraan

Ajaran agama telah mengajarkan perlunya silaturahim.

OLEH PROF FAUZUL IMAN

Ajaran silaturahim tersurat lengkap yang diawali dengan sapaan universal, "Wahai manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan menciptakan darinya berpasang-pasangan. Lalu, dari kedua pasangan itu menyebarkan ragam umat (laki-laki dan perempuan). Bertakwalah pada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling minta dan peliharalah hubungan silaturahim" (QS an-Nisa’: 1).

Sebaran umat manusia yang diungkap ayat di atas jelas merupakan risiko pluralitas yang sangat logis disapa oleh Tuhan sebagai komunitas universal yang secara psiologis perlu dikelola dengan proporsional.

Dari sebaran sosial itu karena secara alamiah dapat membentuk hubungan sosial, budaya, politik, dan hukum, konsekuensinya timbul aktivitas transaksional yang lazim melahirkan akibat hukum tentang tuntutan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dan ditegakkan (baca: kalimat Tasaalun). 

Kondisi dari setiap tuntutan yang terpenuhi dengan baik tentu tidak menjadi masalah serius. Namun, bagi yang belum terpenuhi dapat menimbulkan akibat hukum yang mengarah pada konflik sosial, bahkan tidak mustahil mengarah ke konflik budaya.

Dalam kondisi ini, paru-paru sosial dan budaya mulai terasa pengap dan terimpit mengalami sesak napas karena kurangnya oksigen pengelolaan sosial yang berjalan lancar. Ajaran agama, seperti sudah disebut ayat di atas, telah mengajarkan perlunya silaturahim.

Ajaran silaturahim ini penting tidak hanya diwujudkan di kalangan umat Islam, tetapi juga dapat dikembangkan dengan umat lain sebagai media untuk mengatasi kepengapan sosial atau budaya tadi.

Meminjam pikiran Akbar S Ahmad dalam karyanya, Toward Islamic Antropology: Defenition, Dogma, Direction, adalah bukan silaturahim yang selama ini berjalan konvensional sekadar open house atau kunjungan keluarga, melainkan silaturahim yang berupaya membangun tata kelola interaksi efektif, bukan interdependensi.

Dengan kata lain, kemampuan setiap komponen dalam membangun interaksi/silaturahim melalui penguatan tata kelola di setiap sel kehidupan. Di sel negara dalam melepaskan ketergantungan bangsa dari kemalasan agar menyiapkan tata kelola yang sustainable untuk keterampilan dan SDM rakyatnya.

Bagi kelembagaan agama agar menyiapkan umatnya berinteraksi kuat dengan pendidikam guna melahirkan mutu lulusan.

Demikian pula lembaga pendidikan umat lain, filantropi dan pimpinan rumah tangga agar berinteraksi/silaturahim dalam kerangka mewujudkan tata kelola yang berkualitas dengan melahirkan generasi yang berkualitas pula.

Dengan semua, itu diharapkan aktivitas oksigen perasudaraan antara sesama umat kembali berjalan normal. Semoga!


×