Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei berpose dengan senjata. | X

Internasional

Mojtaba Khamenei, Simbol Terkini Perlawanan Iran Terhadap AS

Pemimpin tertinggi Iran yang baru disebut puny hubungan dekat dengan Garda Revolusi.

TEHERAN – Ayatullah Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya Ayatullah Ali Khamenei yang syahid akibat serangan Israel dan Amerika Serikat. Penunjukkan itu dinilai menohok sasaran perang yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu. 

Pemimpin Tertinggi Majelis Ahli Iran secara resmi mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin negara dan pemimpin tertinggi Iran pada Ahad malam waktu setempat. Dewan, menjelaskan bahwa pemilihan pemimpin baru didasarkan pada “studi yang ekstensif dan menyeluruh.”

Dewan tersebut menyerukan rakyat Iran untuk berjanji setia kepada kepemimpinan baru, menekankan perlunya kohesi, persatuan, dan keselarasan di sekitar “poros perdamaian”.

Mojtaba Khamenei, 56 tahun, sebelumnya muncul sebagai kandidat utama untuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, ayahnya, sebagai pemimpin baru Iran. Putra mantan pemimpin tertinggi tersebut diyakini masih hidup setelah istrinya Zahra Haddad Abdel juga syahid dalam serangan AS-Israel. 

Mojtaba lahir di kota Masyhad pada tahun 1969, satu dekade sebelum Revolusi Iran. Shah Mohammad Reza Pahlavi kala itu digulingkan dari kekuasaan dan Ayatollah Ruhollah Khomeini mengambil alih sebagai Republik Islam baru sebagai pemimpin tertinggi pertama Iran pada tahun 1979.

Merujuk media oposisi Iran International, selama Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, Mojtaba bertugas di Batalyon Habib, sebuah unit yang sebagian besar terdiri dari sukarelawan yang terhubung dengan jaringan revolusioner Republik Islam yang sedang berkembang. Batalyon tersebut beroperasi di bawah pasukan yang terkait dengan IRGC dan mengambil bagian dalam beberapa pertempuran besar dalam perang tersebut.

photo
Seorang warga Iran membawa foto Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, 11 Februari 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Bertugas di Batalyon Habib terbukti penting bagi Mojtaba. Banyak dari orang-orang yang berjuang bersamanya kemudian menduduki posisi senior di aparat keamanan dan intelijen Iran, termasuk tokoh-tokoh yang kemudian memimpin bagian dari organisasi intelijen IRGC dan komando keamanan yang bertanggung jawab untuk melindungi rezim tersebut.

Hubungan masa perang tersebut diyakini secara luas telah membantu Mojtaba membangun hubungan yang langgeng di dalam sistem keamanan Iran yang kuat.

Dalam sejumlah pernyataan, Trump dan Netanyahu menyatakan serangan ke Iran adalah juga untuk mengganti rezim negara tersebut. Washington dan Tel Aviv menghendaki pemerintahan Iran yang lebih lunak dan akomodatif terhadap kepentingan AS dan Israel. 

Yang ia dapatkan sekarang setelah membunuh Ali Khamenei, adalah putra keduanya yang lebih dekat dengan IRGC. “Ini adalah kesalahan nyata Donald Trump yang sebelumnya mengatakan dia tidak menginginkan Mojtaba Khamenei (sebagai pemimpin tertinggi,” kata Barbara Slavin dari Stimson Institute dikutip Aljazirah

Penunjukan Mojtaba, kata dia, juga membuat serangan AS-Israel ke Iran menjadi lebih tidak masuk akal. Terlebih, dalam serangan ke Iran, AS dan Israel juga membunuh hampir semua anggota keluarga Mojtaba.

“Mereka membunuh (Ali) Khamenei) dan membuat ia diganti putranya, seseorang yang akan marah, tentu saja, atas pembunuhan ayah, ibu, istri, dan salah satu anaknya dalam serangan Israel seminggu yang lalu.” 

photo
Serangan Israel-AS menghancurkan bangunan di kompleks Khamenei di Teheran, Iran, 01 Maret 2026. - (EPA/SATELLITE IMAGE )

Slavin mencatat Mojtaba telah memerintah bersama ayahnya selama bertahun-tahun. Mengingat ancaman nyata yang dihadapi Republik Islam, tampaknya cukup logis untuk menempatkan dia di sana karena dia mengenal semua orang dan mengetahui semua hal.

Garda Revolusi juga  mendorong pengangkatannya, dengan alasan bahwa ia memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk mengarahkan Iran di masa krisis ini.

“Mojtaba adalah pilihan yang paling bijaksana saat ini karena dia sangat akrab dengan menjalankan dan mengoordinasikan aparat keamanan dan militer,” kata Mehdi Rahmati, seorang analis di Teheran. “Dia sudah bertanggung jawab atas hal ini.”

Para pendukung pemerintah akan memandangnya sebagai penerus penguasa yang mereka anggap syahid dan akan segera mendukungnya, kata Rahmati. Namun penentang pemerintah juga akan melihatnya sebagai penerus rezim.

Hamid Reza Gholamzadeh, direktur lembaga pemikir DiploHouse di Teheran, mengatakan Ali Khamenei, tidak memiliki peran dalam memilih putranya untuk menggantikannya. Gholamzadeh mengklaim bahwa Ali Khamenei pada awalnya menentang gagasan tersebut dan mengatakan bahwa tanggung jawab penunjukan tersebut sepenuhnya berada di tangan Majelis Ahli. 

photo
Anggota Batalyon Habib pada masa Perang Iraq-Iran sepanjang 1980-an. - (Public Domains)

“Hal itu tidak ada hubungannya dengan ayahnya,” kata Gholamzadeh kepada Aljazirah. “Majelis Pakar bertanggung jawab melakukan revisi teknis terhadap tokoh-tokoh yang mungkin dan yang paling sesuai dengan kriteria berdasarkan konstitusi, dan mereka telah memilihnya,” ujarnya. 

Meski begitu, Mojtaba Khamenei “sangat dekat dengan ayahnya” dan karena itu sadar akan tantangan yang dihadapi Iran, kata analis tersebut. “Posisi pemimpin sebenarnya tidak perlu memiliki pengalaman eksekutif,” tambah Gholamzadeh. “Intinya adalah, semakin baik dia mengetahui situasinya, semakin baik dia mengetahui tantangan-tantangan kekuasaan eksekutif dalam praktiknya.”

Sedangkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik pemilihan pemimpin tertinggi baru oleh Majelis Ahli Iran. Ia mengatakan penunjukan Mojtaba Khamenei menandai “era baru martabat dan kekuatan” bagi bangsa. 

“Pilihan berharga ini merupakan wujud keinginan bangsa Islam untuk mengkonsolidasikan persatuan nasional; kesatuan yang, seperti penghalang kokoh, telah membuat bangsa Iran tahan terhadap konspirasi musuh,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan, menurut kantor berita Fars. 

Sebelumnya, angkatan bersenjata Iran, IRGC dan para pemimpin tertinggi Iran, termasuk Mohammed-Bagher Qalibaf dan Ali Larijani, telah berjanji setia kepada pemimpin tertinggi baru.

photo
Reaksi para pelayat setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei; di Lapangan Enqelab di Teheran, Iran, 01 Maret 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

The Times of Israel melaporkan bahwa Presiden AS menolak mengomentari penunjukan Mojtaba. Padahal ia sebelum penunjukan semalam berkoar-koar tak akan membiarkan calon pengganti Khamenei tanpa persetujuan AS.“Kita lihat saja apa yang terjadi,” ujarnya singkat.

Trump sebelumnya mengancam akan menghabisi pemimpin Iran yang tak ditunjuk AS. Ia mengatakan bahwa, tanpa persetujuan Washington, siapa pun yang terpilih untuk jabatan tersebut “tidak akan bertahan lama”. 

Pernyataan pada Ahad itu muncul hanya beberapa jam setelah seorang anggota Majelis Ahli Iran mengatakan bahwa badan ulama tersebut telah memilih pengganti Ayatollah Ali Khamenei, yang terbunuh beberapa jam setelah AS dan Israel melancarkan perang dengan Iran pada 28 Februari.

“Dia harus mendapat persetujuan dari kami,” kata Trump kepada ABC News, merujuk pada pemimpin tertinggi baru. “Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama.” Trump menambahkan bahwa dia tidak ingin pemerintahan di masa depan harus “mundur” di tahun-tahun mendatang, sebuah referensi yang jelas untuk tindakan militer di masa depan.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali bersumpah “kami tidak akan membiarkan siapapun mencampuri urusan dalam negeri kami”.  “Terserah rakyat Iran untuk memilih pemimpin baru mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa rakyat Iran telah memilih Majelis Ahli, yang akan memilih pemimpin tertinggi berikutnya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat