PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Mekaar hadir sebagai akses pembiayaan yang lebih inklusif bagi perempuan prasejahtera pengusaha ultra mikro. | PNM

Ekonomi

PNM dan Kisah Perempuan yang Memilih Bangkit

PNM mengembangkan konsep pemberdayaan berbasis tiga modal.

Bunyi mesin jahit itu terdengar nyaris setiap hari dari rumah Ibu Ila. Di sudut ruangan sederhana, perempuan itu menghabiskan berjam-jam waktunya menyelesaikan pesanan pelanggan, mulai dari memperbaiki pakaian hingga menjahit busana sesuai permintaan.

Aktivitas tersebut menjadi rutinitas yang memberinya penghasilan dan harapan. Namun beberapa tahun lalu, keadaan sangat berbeda.

Saat pandemi Covid-19 melanda, kehidupan keluarga Ibu Ila berada dalam kondisi yang sulit. Suaminya terkena pemutusan hubungan kerja ketika perekonomian banyak sektor terpuruk. Pada saat yang sama, Ibu Ila sedang hamil dan harus memikirkan berbagai kebutuhan keluarga yang tidak bisa ditunda.

Penghasilan keluarga nyaris terhenti. Sementara biaya hidup, kebutuhan persalinan, dan pendidikan anak terus menunggu untuk dipenuhi.

Situasi tersebut menjadi salah satu masa paling berat yang pernah ia alami. Di tengah ketidakpastian itu, Ibu Ila menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah mencari sumber penghasilan baru.

Ia tidak memiliki modal besar, tidak memiliki toko, dan tidak memiliki aset usaha yang memadai. Yang dimilikinya hanyalah kemauan untuk bangkit serta keterampilan menjahit yang selama ini belum benar-benar dikembangkan menjadi usaha.

Kesempatan itu datang ketika ia bergabung dengan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang dijalankan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Melalui pembiayaan yang diperoleh dari program tersebut, Ibu Ila membeli mesin jahit pertamanya. Bagi sebagian orang, mesin jahit mungkin hanya sebuah alat produksi. Namun bagi Ibu Ila, mesin itu menjadi simbol dimulainya babak baru kehidupan keluarganya.

Dari rumah yang sederhana, ia mulai menerima pesanan kecil dari tetangga sekitar. Ada yang meminta memperbaiki pakaian, mengganti resleting, mengecilkan ukuran baju, hingga membuat pakaian baru. Penghasilan yang diperoleh memang belum besar, tetapi cukup untuk menjaga roda kehidupan keluarga tetap berputar.

"Saya tidak bisa hidup seperti ini terus, pasrah sama keadaan. Saya harus bangkit. Terima kasih kepada Presiden Prabowo, karena program PNM Mekaar sangat bermanfaat bagi UMKM di Indonesia. Dari program ini, saya bisa menyekolahkan anak saya dan memiliki rumah yang layak," ujar Ibu Ila.

photo
Ibu Ila merajut kembali hidupnya melalui PNM Mekaar, dengan keberanian sederhana untuk membuka jalan baru bagi keluarganya, menjadi seorang penjahit. - (PNM)

Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika pesanan sepi. Ada saat-saat ketika pendapatan yang diperoleh belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Namun Ibu Ila terus bertahan. Ia mengikuti pertemuan kelompok mingguan yang menjadi ciri khas program Mekaar. Dalam forum tersebut, para anggota tidak hanya melakukan transaksi pembiayaan, tetapi juga memperoleh pendampingan dan berbagi pengalaman sesama pelaku usaha.

Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah muncul kepercayaan diri baru. Ibu Ila mulai memahami cara mengelola keuangan usaha dan rumah tangga secara lebih baik. Ia belajar memisahkan pendapatan usaha dari kebutuhan sehari-hari. Ia juga belajar membangun jaringan pelanggan dan menjaga kualitas pekerjaan agar pelanggan kembali menggunakan jasanya.

Perlahan tetapi pasti, usaha yang semula hanya menjadi cara bertahan hidup berubah menjadi sumber penghasilan yang semakin stabil.

Hasilnya mulai terlihat dari tahun ke tahun. Pendapatan keluarga meningkat. Anak-anak tetap bisa bersekolah. Kondisi rumah tangga menjadi lebih baik. Bahkan, ia mampu memiliki rumah yang lebih layak untuk keluarganya.

Kisah Ibu Ila sesungguhnya merupakan satu dari jutaan cerita perempuan Indonesia yang berusaha keluar dari keterbatasan ekonomi melalui usaha ultra mikro.

Di banyak daerah, perempuan menjadi penyangga utama ekonomi keluarga, terutama ketika keluarga menghadapi tekanan ekonomi. Mereka membuka warung kecil, menjual makanan rumahan, membuat kerajinan tangan, menjahit pakaian, hingga memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga dalam skala kecil.

Meski usahanya terlihat sederhana, aktivitas ekonomi tersebut memiliki peran besar dalam menopang kehidupan keluarga.

Salah satu tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha ultra mikro adalah akses terhadap pembiayaan. Tidak sedikit yang akhirnya bergantung pada pinjaman informal dengan bunga tinggi yang justru membuat usaha semakin sulit berkembang.

Karena itu, akses pembiayaan yang disertai pendampingan menjadi faktor penting dalam mendorong usaha mikro naik kelas.

Cerita serupa juga datang dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Eko Purwanti, nasabah PNM, memulai usaha rengginang berbahan hasil olahan laut dan usaha katering dari skala yang sangat kecil. Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang dan memberi manfaat tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi perempuan lain di lingkungan sekitar.

"Saya berharap usaha ini bisa terus berjalan. Bukan hanya untuk menghidupi keluarga saya, juga supaya ibu-ibu di sekitar saya bisa ikut merasakan punya penghasilan. Pelan-pelan kita saling menguatkan, semangat bersama dalam klasterisasi hasil olahan laut, dan mau maju bersama," ujar Eko.

Apa yang dilakukan Eko menunjukkan bahwa dampak pemberdayaan ekonomi tidak berhenti pada satu individu. Ketika sebuah usaha berkembang, manfaatnya sering kali menjalar ke lingkungan sekitar melalui terciptanya peluang kerja, peningkatan pendapatan keluarga lain, dan tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal.

Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemberdayaan perempuan pelaku usaha ultra mikro mendapat perhatian besar dalam pembangunan ekonomi nasional.

Dalam banyak keluarga prasejahtera, tambahan pendapatan yang diperoleh perempuan sering kali langsung digunakan untuk kebutuhan penting seperti pendidikan anak, kesehatan keluarga, serta perbaikan kualitas hidup rumah tangga.

PNM mencoba menjawab kebutuhan tersebut melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan. Perusahaan mengembangkan konsep pemberdayaan berbasis tiga modal, yakni modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial.

Modal finansial diberikan melalui akses pembiayaan usaha. Modal intelektual diwujudkan melalui pelatihan, pendampingan, dan peningkatan kapasitas usaha. Sementara modal sosial dibangun melalui kelompok-kelompok nasabah yang memungkinkan mereka saling mendukung dan belajar bersama.

Model tersebut menjadi pembeda dibandingkan layanan pembiayaan konvensional yang umumnya hanya menyalurkan modal.

photo
Sejumlah nasabah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menyaksikan proses pembuatan kerupuk ikan saat pembentukan klasterisasi dengan tema Klasterisasi Olahan Kerupuk Ikan di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/11/2022). Kegiatan yang diikuti 50 nasabah perempuan prasejahtera tersebut merupakan program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) PT PNM guna meningkatkan kesejahteraan para nasabahnya dengan memberikan modal dan pendampingan melalui pelatihan usaha. - (ANTARA FOTO/Moch Asim)

Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan proses yang membutuhkan kesabaran dan keberlanjutan.

"Tugas PNM ke depan tentu semakin menantang, tetapi dengan tekad yang kuat dan sinergi yang berkelanjutan, kita pasti mampu menghadirkan pembiayaan dan pemberdayaan yang memberi manfaat lebih," ujar Kindaris.

Menurut Kindaris, misi utama perusahaan tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga memastikan masyarakat prasejahtera memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

"Di usia yang ke-27, PNM memahami setiap langkah pemberdayaan sejatinya adalah ikhtiar menumbuhkan harapan," katanya.

Skala program yang dijalankan PNM saat ini terbilang besar. Hingga 2026, perusahaan telah melayani 22,9 juta nasabah yang tersebar di 60.250 desa dan kelurahan di Indonesia. Jumlah tersebut menjadikan PNM sebagai salah satu lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat terbesar di Tanah Air.

Besarnya jumlah nasabah membuat perusahaan harus terus memperkuat kualitas pendampingan. Aktivitas pendampingan yang dilakukan secara rutin menjadi salah satu kunci keberhasilan program karena memungkinkan nasabah memperoleh dukungan yang berkelanjutan dalam mengembangkan usaha.

Setiap tahun, dana yang disalurkan PNM di berbagai desa juga memberikan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat prasejahtera. Di sisi lain, perluasan pemberdayaan tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja perusahaan.

Data perusahaan menunjukkan laba PNM meningkat dari Rp359 miliar pada 2020 menjadi Rp1,14 triliun pada 2025. Pada periode yang sama, total aset naik dari Rp31,7 triliun menjadi Rp57 triliun. Sementara total ekuitas tumbuh lebih dari dua kali lipat, dari Rp5,6 triliun menjadi Rp11,7 triliun.

Group CEO BRI Hery Gunardi menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan efektivitas sinergi dalam Holding Ultra Mikro yang mengintegrasikan BRI, Pegadaian, dan PNM.

"Kinerja PNM yang terus membaik menjadi refleksi bahwa pendekatan ekosistem ini efektif dalam menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," ujar Hery.

Menurut Hery, sinergi tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan skala bisnis perusahaan, tetapi juga memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkau lembaga keuangan formal.

Bagi jutaan nasabah seperti Ibu Ila, angka-angka tersebut mungkin tidak terlalu penting. Yang lebih berarti adalah perubahan yang mereka rasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan itu hadir dalam bentuk dapur yang tetap mengepul ketika masa sulit datang. Dalam bentuk anak-anak yang tetap bisa bersekolah. Dalam bentuk usaha kecil yang perlahan berkembang dan memberi penghasilan yang lebih pasti.

Di balik laporan keuangan, aset triliunan rupiah, dan jutaan nasabah yang tercatat dalam statistik, terdapat jutaan cerita perjuangan yang berlangsung setiap hari. Cerita tentang perempuan-perempuan yang memilih bangkit ketika keadaan memaksa mereka jatuh. Cerita tentang keberanian memulai usaha dari nol. Juga, cerita tentang harapan yang tumbuh dari peluang kecil yang dimanfaatkan dengan kerja keras dan ketekunan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat