Internasional
Kondisi Tepi Barat Siap Meledak
Pasukan Israel melancarkan operasi penggerebekan berskala besar di Tepi Barat.
TEPI BARAT – Serangan pemukim Yahudi dan kepungan tentara Israel di Tepi Barat masih terus berlangsung hingga Senin. Penangkapan serta pencegatan di pos-pos pemeriksaan yang didirikan tentara Israel membuat kondisi di Tepi Barat yang diduduki kian mendidih.
Pada Senin, seorang perempuan Palestina dari kota Qaryut, di sebelah selatan Nablus, kehilangan bayi dalam kandungannya setelah pasukan Israel menghalangi ambulans dan mencegahnya melintasi pos pemeriksaan militer Awarta, di sebelah selatan kota tersebut.
Petugas ambulans Qaryut, Bashar al-Qaryuti, mengatakan kepada koresponden WAFA bahwa pasukan Israel menghambat kerja tim medis dengan menolak mengizinkan ambulans melewati pos pemeriksaan setelah menutup gerbangnya. Mereka menahan awak ambulans dan melakukan pemeriksaan (penggeledahan) terhadap seorang wanita hamil enam bulan yang mengalami pendarahan hebat, meskipun kondisinya kritis.
Ia menambahkan bahwa tentara Israel memaksa awak ambulans mematikan mesin kendaraan, yang menyebabkan peralatan pendukung medis di dalamnya berhenti berfungsi. Setelah menahan ambulans selama lebih dari 30 menit, pasukan tersebut akhirnya mengizinkannya lewat.
Al-Qaryuti mengatakan bahwa wanita itu tiba di rumah sakit, namun ia telah kehilangan bayi dalam kandungannya. Tim medis berhasil menyelamatkan nyawanya.
Insiden ini terjadi sekitar satu minggu setelah Sajoud Fuqaha (30 tahun) dari kota Sinjil, di sebelah utara Ramallah, meninggal dunia akibat serangan jantung setelah pasukan Israel menghambat ambulans masuk ke kota tersebut dengan menutup gerbang besi di pintu masuknya.
Militer Israel telah melancarkan tindakan keras yang agresif di Tepi Barat yang diduduki—dengan menyerbu sejumlah kota serta desa dan menahan ratusan warga Palestina—di tengah meningkatnya serangan oleh para pemukim Yahudi. Langkah ini merupakan reaksi keras menyusul insiden baku tembak di sebuah desa dekat Nablus yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel.
"Operasi militer berskala besar" di seluruh wilayah Tepi Barat yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah tewasnya para tentara tersebut semakin intensif pada hari Minggu; sementara itu, para pemukim bertindak semakin berani dan brutal dengan melakukan aksi kekerasan di berbagai desa, mencoret-coret bangunan dengan grafiti, serta menyerang warga Palestina.
Para pemukim mencoba membakar dua masjid. Di salah satu lokasi—Masjid Al-Rahma yang baru dibangun di kota Qusra, sebelah tenggara Nablus—para pemukim mencoretkan slogan-slogan seperti "balas dendam Yahudi" pada dinding bangunan, ujar Abdel Azim Wadi, ketua dewan desa Qusra. Video yang diverifikasi oleh Al Jazeera memperlihatkan kobaran api melalap masjid tersebut.
Masjid lain yang menjadi sasaran aksi pembakaran itu terletak di desa Kour, sebelah selatan Tulkarem. Farid Jiyousi, seorang anggota dewan desa, mengatakan bahwa tiga pemukim mencoba membakar masjid tersebut saat fajar, namun jemaah berhasil memadamkan api sebelum sempat menjalar ke area utama bangunan.
Aljazirah melaporkan bahwa pasukan Israel melakukan penggerebekan di Rafidia, dekat Nablus.
"Mereka juga terlihat di Huwara, wilayah Nablus, sedang menyerang seorang petugas medis dan seorang pria. Terdapat video dari saksi mata yang beredar mengenai kejadian tersebut. Bulan Sabit Merah Palestina juga melaporkan adanya serangan terhadap salah satu petugas medisnya di Masafer Yatta, sebelah selatan Hebron," ujarnya.
“Jadi, operasi penggerebekan berlangsung sepanjang malam di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki.”
Secara terpisah, kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa 30 orang ditangkap di desa Tal—lokasi terjadinya konfrontasi yang memicu tindakan keras tersebut—serta 14 orang di Ramallah, lima di Jenin, delapan di Hebron, tiga di Betlehem, dan enam di Tulkarem.
WAFA juga melaporkan bahwa pasukan Israel melancarkan operasi penggerebekan berskala besar di seluruh kota Jenin serta sejumlah kota kecil dan desa di wilayah kegubernuran Jenin, termasuk Zababdeh, Faqqua, Yabad, Burqin, Jalbun, Qabatiya, Jalqamus, Silat al-Harithiya, al-Yamoun, Kafr Dan, Deir Abu Daif, dan Zububa.
Lembaga penyiaran nasional Kan melaporkan bahwa pasukan Israel memberlakukan pembatasan lalu lintas yang ketat serta mendirikan banyak pos pemeriksaan keamanan di jalan-jalan utama dan pintu masuk desa-desa di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Breaking | The fire that broke out after Israeli occupation forces fired tear gas canisters near the Qalandia Institute, north of occupied Jerusalem, continues to spread and has reached the trees.
Two Palestinians were reportedly injured during the attack. pic.twitter.com/N0OkgZZXWU — Quds News Network (QudsNen) July 26, 2026
Baku tembak yang memicu respons militer yang bersifat menghukum dan menindas itu terjadi pada hari Jumat di Tal, sebelah barat daya Nablus. Kedua belah pihak saling menyanggah versi masing-masing mengenai peristiwa yang berujung pada konfrontasi tersebut.
Namun, rekaman video menguatkan kesaksian warga desa yang menyatakan bahwa sekelompok pemukim Israel—yang berjumlah sekitar 20 orang dan banyak di antaranya membawa senapan—mendatangi Tal dengan niat melakukan kekerasan.
Warga desa keluar dari rumah mereka untuk menghadapi para pemukim, dan saat ketegangan meningkat, tentara Israel tiba di lokasi. Salah seorang warga desa merebut senjata dari seorang pemukim, lalu baku tembak pun pecah.
Letnan Kolonel Ella Waweya, juru bicara militer Israel, mengatakan pada hari Minggu bahwa pasukan Israel sedang menggerebek rumah-rumah di Tal milik warga yang diduga terlibat dalam kekerasan hari Jumat. Ia menyatakan bahwa rumah-rumah tersebut "digerebek sebagai persiapan untuk penyegelan sementara, sebagai langkah awal sebelum pembongkaran".
Israel memiliki kebijakan untuk membongkar rumah warga Palestina yang dituduh melakukan serangan mematikan; sebuah praktik yang dikecam oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia sebagai hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional.
Phyllis Bennis, seorang peneliti di Institute for Policy Studies, mengatakan bahwa para pemukim Israel tidak dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan mereka. "Kita melihat peningkatan dalam kejahatan perang secara langsung," ujarnya kepada Al Jazeera.
Bennis mengatakan bahwa pembedaan yang dibuat Israel antara pemukim dan tentara adalah keliru.
"Sebagian pemukim itu sendiri merupakan bagian dari militer Israel. Mereka bertugas di pasukan cadangan. Mereka dipersenjatai oleh militer. Banyak yang dilatih oleh militer. Mereka semua menggunakan senjata yang dipasok oleh AS. Jadi, pembedaan ini tidaklah terlalu penting. Mereka semua didukung oleh negara Israel," katanya.
“Dan apa yang kita saksikan di sini adalah keputusan mereka untuk secara sengaja melakukan kejahatan perang. Jadi, kita melihat adanya hukuman kolektif. Kita melihat adanya serangan terhadap rumah sakit.”
Pasukan dan pemukim Israel meningkatkan serangan mereka di Tepi Barat yang diduduki setelah 7 Oktober 2023, saat perang genosida terhadap Gaza dimulai. Sejak saat itu, mereka telah menewaskan sedikitnya 1.185 warga Palestina, termasuk lebih dari 250 anak-anak. Setidaknya 12.652 warga Palestina terluka dan lebih dari 24.000 orang telah ditahan.
Per 1 Juli 2026, sebanyak 9.299 warga Palestina masih berada di penjara Israel; 3.244 di antaranya ditahan tanpa dakwaan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik Israel karena kurangnya akuntabilitas, dengan menyatakan bahwa para pemukim jarang dituntut secara hukum dan tentara Israel jarang dijatuhi hukuman.
Gelombang kekerasan terbaru ini juga terjadi hanya tiga bulan menjelang pemilihan umum di Israel.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa Netanyahu berisiko kehilangan kekuasaan. Tindakan perampasan tanah dan percepatan pembangunan permukiman ilegal baru mendapat sambutan positif dari basis pendukungnya yang berhaluan kanan.
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Israel berencana membangun 763 unit baru di permukiman ilegal Eli, di sebelah selatan Nablus.
Sementara itu, ratusan orang berkumpul di Tel Aviv pada hari Sabtu untuk memprotes lonjakan kekerasan oleh pemukim serta tindakan keras militer di Tepi Barat.
Polisi Israel menangkap sembilan pengunjuk rasa, dengan alasan bahwa demonstrasi tersebut berlangsung tanpa izin serta mulai "mengganggu ketertiban umum dan menghalangi jalan raya".
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
