Sastra
Pelan-Pelan, Malam
Puisi-Puisi Stefanus Galang
Oleh STEFANUS GALANG
Pelan-Pelan, Malam
Malam hari selalu menjadi teman terbaikku
ia menawarkan keistimewaan
yang Siang tak dapat berikan padaku.
dia menyeduhkan secangkir kopi pait
juga sebatang rokok kretek sebagai camilannya
silakan, katanya
Malam ternyata punya selera!
aaahhh,
untuk sesaat
aku menemukan kembali
alasan untuk tetap hidup
meski terkadang
Malam membuatku ragu
dia gemar membawaku berkunjung
ke tempat-tempat paling intim
yang tak pernah
dan tak ingin
kukunjungi
Ini saat dirimu meninggalkan ayahmu di stasiun
Kau ingat?
Lalu yang ini saat kau meninggalkan kekasihmu
Demi orang lain
Yang ini favoritku!
Ini saat kau berulang kali
Melakukan kesalahan yang sama
Tanpa pernah belajar darinya
Kau ingat kan?
Bagaimana dengan yang ini?
Saat-saat
Dimana tangismu pecah setiap pagi
Tanpa ada yang tahu
Ada apa dengan dirimu
Pelan-pelan, Malam.
malam masih gasik.
Jakarta, 2026
***
Di Jakarta, Aku Menulis
di Jakarta aku menulis
tentang—
tentang apa saja
kadang tentang keraguan
kadang tentang ketakutan
kadang ragu menulis ketakutan
kadang takut menulis keraguan
tetapi di Jakarta aku menulis
sebab menulis mengingatkan
bahwa aku masih ragu
bahwa aku masih takut
bahwa aku masih—
manusia
itu sebabnya
di Jakarta aku menulis
semua terlampau cepat
kereta, bis,
mobil, motor
langkah, waktu
semua sepakat
untuk terus mengejar—
cinta, harapan
uang, martabat
jadwal keberangkatan
apa pun itu—kita kejar!
kutulis itu di Jakarta
tentang cinta yang pincang
harapan tumbuh bersama
uang sarapan esok pagi
martabat nanti siang
keberangkatan bulan depan
tetapi pelan-pelan
di Jakarta, aku menulis
bahwa besok orang berkumpul
untuk ragu
dan untuk takut
karena cinta pada negara
tidak gratis
harapan akan hari esok
tidak manis
uang sarapan
makin tipis
martabat
pelan-pelan terkikis
dan keberangkatan?
boro-boro
di Jakarta aku menulis
karena jatuh cinta
pada mu
pada nya
dan
pada negara
tapi aku ragu
dan aku takut
tinta mengantarku pada cinta
cinta menahanku demi negara
negara memaksaku untuk bersuara
di Jakarta, aku menulis
selama masih ragu
selama masih takut
selama itu pula
aku belum selesai
menjadi manusia
Jakarta, 2026
***
Selasa dan Jumat
Selasa adalah hari ketika manusia
di berbagai belahan dunia
memandang langit
melihat planet merah
dan menamainya
peperangan.
aku bertanya-tanya
apa yang kau lihat saat kau lahir?
Selasa adalah harimu
dan Jumat adalah hariku
keduanya adalah hadiah
tahun baru.
Selasa adalah perang
yang diam-diam
mencintai Jumat
setiap Selasa
membawa Mars di dalam namanya
tetapi bahkan dewa perang pun pernah
meletakan senjatanya
di hadapan cinta.
Anggara membawa warisan Mars
Cemengan melekat pada kelahirannya
lalu pada suatu hari
ia bertemu Sukra
Anggara bukan Kasih
ia bahkan lahir bersama Cemengan
tetapi bukankah cinta
memang sering datang
bukan sebagai bawaan?
Jumat mungkin dinamai untuk cinta
tetapi cinta tak selalu tinggal di tempatnya
kadang ia meninggalkan Venus
lalu bersamanya di rumah Mars
Jumat adalah hari bagi mereka yang bertemu
Selasa adalah hari bagi mereka yang menunggu
cinta sering terasa paling hidup
ketika seseorang belum datang
Jumat tetap cinta
Selasa tetap perang
dies Veneris
dies Martis
apa yang dilakukan cinta
di dalam perang?
Bersemayam.
cinta bersemayam
di hari Selasa.
Jakarta, 2026
***
Terjaga
sudah tiga hari aku belum tidur
eh,
atau malah empat ya?
atau lima?
tujuh barangkali?
duh, lupa ingatan
sejak kapan pula
orang mulai menghitung
sudah berapa hari ia terjaga
jika satu-satunya alasan
untuk tetap terjaga
telah diambil darinya
Jakarta, 2026
***
Di Kebayoran
tangannya tak pernah lepas
dari genggamku
kulit halus yang kutahu
seakan enggan untuk bilang
Sampai Jumpa!
senyumnya
lagi-lagi menarikku kembali
ke dalam kebingungan tak berdasar
yang tak kunjung reda
hujan selalu ku semogakan reda
tapi tolong
jangan dia!
rawat!
rawat kasihnya
seakan-akan itu satu-satunya!
hadapilah!
jurang-jurang penuh dugaan
yang sering mengatasnamakan
kemuliaan nama-Nya
kisah kita baru dimulai
dan Kebayoran
belum selesai kuingat.
Jakarta, 2026
***
13:49
sesekali
aku ingin berteriak
sekeras mungkin
dalam ruangan
penuh orang tuli
jatuh pelan-pelan
tangisku bercampur
tinta tak seberapa
yang seribu kali
berusaha berlari
berjalan
merangkak
kembali ke pelukanmu
Sayang, sapanya
Saya, sapaku
sini pulang
Ibu masak.
Jakarta, 2026
***
Ramalan Tak Punya Tangan
dulu
manusia membuat mesin
untuk menurunkan Tuhan.
kayu
tali
dua-tiga orang kuat
dan sedikit kepercayaan
Tuhan turun
dari belakang panggung
memberi keputusan
lalu pulang
orang-orang di bawahnya
menangis
menyesal
mati
atau menikah
tergantung naskah
Tuhan jangan turun sembarangan
tidak masuk akal!
segala sesuatu
harus punya sebab!
A karena B
B karena C
C karena—
pokoknya
jangan tiba-tiba Tuhan!
buat kematian
terlihat pantas
buat penderitaan
punya pendahuluan
buat akhir seolah-olah
sejak awal memang mau ke sana
aku jadi penasaran
kalau tidak ada yang bilang
kau akan membunuh ayahmu
apakah kau tetap akan membunuh ayahmu?
kalau tidak ada yang bilang
kau berbahaya
apakah orang-orang tetap memperlakukanmu
sebagai bahaya?
kalau tidak ada angka di sebelah namamu
apakah hidupmu tetap harus berakhir
seperti angka itu?
ramalan tidak punya tangan
kawan
Jakarta, 2026
***
Stefanus Galang mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Kristen Krida Wacana. Ia menulis puisi, mengulas buku, dan sesekali menulis tentang kebudayaan. Tulisannya antara lain terbit di Critique: Studies in Contemporary Fiction, South Asian Review, Teaching in Higher Education, Diskursus, Jawa Pos, dan Media Indonesia.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
