Sastra
Jejak Takdir di Rimba Sunyi
Oleh DARJU PRASETYA
Senja mulai merayap di antara celah-celah dedaunan lebat ketika aku memutuskan untuk memotong jalan melewati hutan kecil di perbatasan Tuban. Perjalanan pulang kampung yang seharusnya kutempuh lewat jalan raya terasa membosankan, dan ada sesuatu dalam diriku yang merindukan kesunyian—keheningan yang hanya bisa ditemukan di tengah rimba yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Langkahku pelan, mengikuti jejak setapak yang hampir tertutup semak. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi daun-daun kering menciptakan nostalgia masa kecil, ketika aku sering bermain di hutan belakang rumah nenek. Burung-burung mulai kembali ke sarang mereka, meninggalkan dunia dalam kesunyian yang nyaris mistis.
Tiba-tiba, di tikungan jalan setapak, aku terhenti. Jantungku berdegup kencang.
Di tengah hutan yang sepi itu, seorang lelaki duduk bersila dengan tenang. Punggungnya tegak, matanya terpejam, dan mulutnya bergerak komat-kamit seperti sedang melafalkan doa-doa yang hanya ia dan Tuhannya yang mengerti. Ia mengenakan pakaian serba hitam—kemeja hitam lengan panjang dan celana hitam yang sudah kusam, mungkin karena debu perjalanan. Yang paling menarik perhatianku adalah kain batik bermotif parang yang dilingkarkan di kepalanya, seperti ikat kepala para pendekar dalam cerita-cerita lama.
Di sampingnya, sebuah ransel tua berwarna cokelat kehitaman terlihat penuh sesak, dan sebatang tongkat kayu jati bersandar di pohon terdekat. Tongkat itu tampak licin, mungkin karena sudah lama digenggam dalam perjalanan panjang.
Aku berdiri membeku, tak tahu harus berbuat apa. Mengganggu seseorang yang sedang beribadah terasa tidak sopan, tapi membiarkannya begitu saja dan berlalu juga terasa aneh. Lagipula, kehadirannya yang tiba-tiba di tengah hutan sunyi ini membuatku terkejut sekaligus penasaran.
Akhirnya, dengan hati-hati, aku berdehem pelan.
Lelaki itu membuka mata. Sepasang mata yang jernih, penuh dengan ketenangan yang jarang kutemukan pada orang-orang di kota. Ia tersenyum, sebuah senyuman tulus yang langsung melelehkan kecanggunganku.
"Maaf, Pak, saya tidak bermaksud mengganggu," kataku sambil sedikit membungkuk. "Saya hanya... terkejut melihat Bapak di sini."
"Tidak apa-apa, Mas. Silakan duduk jika tidak terburu-buru," ujarnya dengan suara yang lembut namun dalam, seperti suara air yang mengalir di sungai tenang.
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya duduk di atas akar pohon besar yang menonjol dari tanah. Jarak kami sekitar dua meter, cukup untuk percakapan yang nyaman.
"Bapak dari mana?" tanyaku, mencoba membuka percakapan meski dalam hati aku merasa sedikit tidak enak. Pertanyaan itu terdengar terlalu biasa untuk situasi yang tidak biasa ini.
"Saya dari Magelang, Mas," jawabnya sambil tersenyum lebih lebar. Ada kebanggaan dalam suaranya ketika menyebut nama kota asalnya.
Magelang. Otakku langsung menghitung jarak. Dari Magelang ke hutan di wilayah Tuban ini... itu perjalanan yang sangat jauh. Ratusan kilometer. Dan melihat kondisi ransel dan tongkatnya, sepertinya lelaki ini menempuh perjalanan itu dengan berjalan kaki.
"Berjalan kaki, Pak?" tanyaku, tak bisa menyembunyikan kekaguman dalam suaraku.
Ia mengangguk. "Sudah dua bulan lebih, Mas. Saya berjalan dari desa ke desa, dari kota ke kota, mengikuti jalan yang Tuhan tunjukkan."
"Mencari apa, Pak, kalau boleh saya tahu?"
Lelaki itu terdiam sejenak, matanya menatap jauh ke kedalaman hutan. Cahaya senja yang menyusup di antara dedaunan menciptakan pola-pola cahaya di wajahnya yang keriput, wajah yang telah ditempa oleh matahari, hujan, dan angin perjalanan.
"Mencari?" ia mengulang pertanyaanku dengan nada bertanya. "Mungkin lebih tepat kalau saya bilang... menemukan. Menemukan makna dari semua yang telah terjadi dalam hidup saya."
Aku menunggu, memberinya ruang untuk melanjutkan cerita jika ia mau.
"Dulu saya seorang pengusaha, Mas. Punya toko bangunan yang cukup besar di Magelang. Rumah bagus, mobil, anak-anak sekolah di tempat yang baik. Hidup saya teratur, terencana. Saya pikir saya sudah mengendalikan takdir saya sendiri," katanya dengan suara yang mulai bergetar. "Tapi kemudian, dalam waktu singkat, semuanya runtuh. Usaha bangkrut karena ditipu partner, istri meninggal karena sakit, anak-anak pergi merantau dan jarang pulang. Saya kehilangan segalanya."
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata penghiburan terasa terlalu dangkal untuk kesedihan sebesar itu.
"Awalnya saya marah, Mas. Marah pada Tuhan, marah pada takdir, marah pada diri sendiri. Saya bertanya-tanya, apa salah saya? Kenapa ini terjadi pada saya?" lanjutnya. "Tapi kemudian, di tengah keputusasaan itu, saya mendapat mimpi. Dalam mimpi itu, saya melihat diri saya berjalan di hutan yang sangat luas. Saya sendirian, tidak tahu arah, tidak tahu tujuan. Tapi ada suara yang berbisik, 'Berjalanlah, dan kau akan menemukan.'"
"Lalu Bapak benar-benar melakukannya? Berjalan tanpa tujuan pasti?"
Ia tersenyum. "Bukan tanpa tujuan, Mas. Tapi tanpa rencana yang kaku. Saya berjalan, dan setiap hari saya belajar sesuatu yang baru. Saya belajar bahwa manusia itu seperti musafir di hutan yang luas. Kita tidak pernah benar-benar tahu sampai di mana perjalanan kita, atau di mana kita akan berakhir. Yang bisa kita lakukan hanya berjalan, berdoa, dan percaya bahwa setiap langkah membawa kita ke tempat yang seharusnya kita tuju."
Kata-katanya menggema dalam diriku. Aku teringat pada kehidupanku sendiri—kehidupan yang penuh dengan rencana, target, dan ambisi. Aku selalu merasa harus mengendalikan segalanya, harus tahu ke mana aku akan pergi dan apa yang akan aku capai. Tapi berapa kali rencana-rencana itu meleset? Berapa kali aku harus menghadapi kenyataan yang berbeda dari harapan?
"Dalam perjalanan ini," lanjut lelaki itu, "saya bertemu dengan banyak orang. Ada yang memberi saya makan, ada yang memberi saya tempat berteduh, ada yang hanya tersenyum dan memberi salam. Dan dari setiap pertemuan itu, saya belajar bahwa takdir itu bukan sesuatu yang harus kita lawan. Takdir itu adalah jalan yang sudah ditentukan, tapi bagaimana kita berjalan di jalan itu—dengan hati yang penuh syukur atau penuh keluhan—itu pilihan kita."
Angin sore bertiup, menggoyangkan dedaunan di atas kami. Suara gemerisik itu seperti bisikan alam yang menegaskan kata-kata lelaki itu.
"Saya dulu pikir saya kuat karena saya bisa mengendalikan hidup saya," katanya lagi. "Tapi sekarang saya tahu, kekuatan sejati itu datang dari kepasrahan. Bukan kepasrahan yang pasif, tapi kepasrahan yang aktif—kita berusaha sekuat tenaga, kita berdoa dengan sepenuh hati, tapi kemudian kita melepaskan hasil akhirnya kepada Yang Maha Menentukan."
Aku merenungkan kata-katanya. Kepasrahan yang aktif. Konsep itu terdengar paradoks, tapi entah kenapa sangat masuk akal.
"Lalu sekarang, Bapak sudah menemukan apa yang Bapak cari?" tanyaku.
Ia tertawa pelan, suara tawa yang penuh kedamaian. "Setiap hari saya menemukan sesuatu, Mas. Hari ini, saya menemukan Anda. Besok, mungkin saya akan menemukan hal lain. Perjalanan ini tidak pernah benar-benar berakhir, karena hidup itu sendiri adalah perjalanan."
Kami terdiam untuk beberapa saat, menikmati keheningan hutan yang mulai diselimuti kegelapan. Kunang-kunang mulai bermunculan, menciptakan titik-titik cahaya yang menari-nari di udara.
"Mas mau ke mana?" tanyanya kemudian.
"Pulang kampung, Pak. Sudah lama tidak pulang."
"Pulang itu baik, Mas. Pulang itu mengingatkan kita dari mana kita berasal. Akar yang kuat membuat pohon bisa tumbuh tinggi tanpa takut tumbang."
Aku mengangguk. Kata-katanya sederhana tapi penuh makna.
"Saya harus melanjutkan perjalanan, Pak. Sudah mulai gelap," kataku sambil berdiri.
"Hati-hati di jalan, Mas. Semoga perjalanan Anda diberkahi."
Aku berjalan beberapa langkah, tapi kemudian berbalik. "Pak, boleh saya tahu nama Bapak?"
Ia tersenyum. "Nama itu tidak penting, Mas. Yang penting adalah pertemuan kita hari ini. Siapa tahu, ini juga bagian dari takdir kita masing-masing."
Aku tersenyum membalas, lalu melanjutkan perjalanan. Tapi setiap beberapa langkah, aku menoleh ke belakang. Lelaki itu sudah kembali ke posisi semula—duduk bersila, mata terpejam, mulut komat-kamit melafalkan doa-doa.
Semakin jauh aku berjalan, semakin dalam aku merenungkan pertemuan itu. Mungkin memang benar, manusia itu seperti musafir di hutan yang luas. Kita berjalan sendirian, meski kadang bertemu dengan musafir lain di persimpangan jalan. Kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana perjalanan ini akan membawa kita, atau apa yang akan kita temukan di ujung jalan.
Yang bisa kita lakukan hanya melangkah—satu langkah demi satu langkah—dengan hati yang penuh harap dan doa di bibir. Kita berusaha sebaik mungkin, tapi kita juga harus siap menerima bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya dalam kendali kita.
Takdir itu misteri, tapi bukan berarti kita harus takut padanya. Takdir itu seperti peta yang hanya bisa dibaca satu baris dalam satu waktu. Kita tidak bisa melompat ke halaman terakhir untuk melihat ending-nya. Yang bisa kita lakukan adalah membaca baris demi baris, dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Ketika aku akhirnya keluar dari hutan dan melihat lampu-lampu desa di kejauhan, aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Pertemuan dengan lelaki dari Magelang itu bukan kebetulan. Mungkin itu adalah cara Tuhan mengingatkanku bahwa hidup ini bukan tentang mengendalikan segalanya, tapi tentang belajar melepaskan dan percaya.
Aku melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih ringan, hati yang lebih lapang. Di atas sana, bintang-bintang mulai bermunculan, menghiasi langit malam dengan cahaya mereka yang lembut. Dan entah kenapa, aku merasa bahwa setiap bintang itu adalah doa—doa dari para musafir yang berjalan di hutan kehidupan ini, mencari makna, mencari jalan, dan pada akhirnya, menemukan kedamaian dalam kepasrahan.
Takdir memang tidak bisa dilawan, tapi ia bisa dipeluk dengan penuh keikhlasan. Dan dalam pelukan itulah, kita menemukan kebebasan sejati.
Penulis lahir di Tuban Jawa Timur. Karya-karyanya baik esai, cerpen, puisi, artikel telah banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online. Bisa dihubungi lewat email: prasetya58098@gmail.com.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
