Petugas pemadam kebakaran Palestina berupaya memadamkan api di sebuah rumah yang hancur akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza, 23 Juli 2026. | EPA/MOHAMMED SABER

Internasional

Omong Kosong Kesepakatan BoP

Serangan Israel menjadi-jadi setelah pengumuman kesepakatan BoP.

GAZA – Pasukan Israel terus meningkatkan operasi militer mereka di Jalur Gaza sejak peta jalan untuk tahap kedua "gencatan senjata" di wilayah kantong Palestina tersebut diumumkan pekan lalu. Sesumbar Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa penerimaan Hamas atas pembekuan senjata sebagai langkah monumental menuju keamanan dan stabilitas hanya isapan jempol.

Di Gaza, kenyataannya sangat berbeda; setidaknya 19 warga Palestina syahid pada Sabtu akibat serangan Israel, sehingga total korban jiwa selama akhir pekan mencapai 26 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Meskipun Hamas telah menyetujui pelucutan senjata secara bertahap, pemerintah Israel menyatakan memiliki "kekhawatiran keamanan yang serius" terkait rencana tersebut, dan terdapat penentangan keras dari para politisi Israel terhadap kesepakatan itu.

Pemboman yang terus berlanjut di Gaza—yang turut memperparah pelanggaran Israel terhadap kesepakatan "gencatan senjata" bulan Oktober—kemungkinan besar akan mengancam rencana perdamaian Trump dan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan bagi warga Palestina di wilayah kantong tersebut.

Terjadi peningkatan tajam dalam serangan di Gaza sejak pengumuman Trump. Hal ini sangat kontras dengan kemajuan diplomatik yang digembar-gemborkan oleh Washington. Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BoP)dan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF)—yang dibentuk untuk mengelola Gaza pascaperang—sebelumnya telah mengumumkan kesepakatan untuk melaksanakan tahap berikutnya dari "gencatan senjata" berdasarkan peta jalan rinci yang memuat 15 poin.

photo
Petugas pemadam kebakaran Palestina berupaya memadamkan api di sebuah rumah yang hancur akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza, 23 Juli 2026. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Walaupun Hamas secara resmi menerima dokumen tersebut, muncul pertanyaan apakah faksi-faksi Palestina pada akhirnya akan mundur akibat serangan Israel yang terus-menerus terhadap Gaza.

Eyad al-Qarra, seorang analis politik Palestina yang berbasis di Gaza, mengatakan kepada Aljazirah bahwa langkah ini merupakan risiko yang tidak diperhitungkan dengan matang bagi Hamas dan kelompok-kelompok Palestina lainnya.

"Masih ada harapan bahwa faksi-faksi tersebut tidak akan sampai pada tahap ini. Jika tidak, dikhawatirkan dampaknya akan jauh lebih berat, karena Israel akan memanfaatkannya untuk melancarkan perang yang lebih luas terhadap Gaza," ujar al-Qarra.

"Sangat penting bagi faksi-faksi tersebut untuk tidak memberikan dalih atau alasan apa pun kepada Israel yang dapat membuat seolah-olah kedua belah pihak sama-sama bertanggung jawab atas kegagalan ini." Alih-alih menerima peta jalan tersebut, pemerintah Israel justru secara aktif berupaya memberlakukan parameter baru yang ketat.

Media Israel melaporkan bahwa pemerintah menuntut pelucutan senjata total terhadap Hamas dan agar senjata-senjata tersebut diserahkan kepada negara Barat. Mereka juga bersikeras agar tidak ada pihak Palestina yang berperan dalam mengelola proses pelucutan senjata tersebut.

Doron Spielman, juru bicara kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pasukan Israel tidak akan mundur sampai tercapainya demiliterisasi total Hamas; hal ini semakin memperumit proses tersebut.

photo
Warga Palestina berlindung setelah serangan udara Israel di Jalur Gaza, 28 Juli 2026. Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa setidaknya empat orang syahid dalam serangan Israel di berbagai wilayah tersebut. - (EPA/MOHAMMED SABER)

"Prioritas bagi Hamas dan faksi-faksi lain saat ini adalah meringankan beban penduduk, bukan memulihkan persenjataan atau bengkel militer," ujar al-Qarra.

"Namun, meskipun faksi-faksi tersebut sepakat untuk membatasi persenjataan ini di bawah pengawasan internasional atau regional demi menghentikan perang, mereka tidak akan pernah melegitimasi penghapusan total konsep perlawanan Palestina."

Palestine Chronicle melaporkan, pasukan penjajahan Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata Gaza selama 297 hari berturut-turut, menewaskan sedikitnya 17 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya dalam serangan yang dilancarkan di seluruh wilayah Jalur Gaza selama 24 jam terakhir.

Di antara korban jiwa adalah Syekh Kamal Abu Ma’ili, yang menjadi sasaran bersama istrinya setelah serangan udara Israel menghantam rumah mereka di kawasan al-Mashaila, sebelah barat Deir al-Balah di Gaza tengah. Empat warga Palestina lainnya terluka dalam serangan tersebut dan dilarikan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Di lokasi lain di Deir al-Balah, Saber Mohammad Khalil Rabee syahid setelah pasukan Israel membom rumahnya di kawasan al-Mahatta.

Di Kota Gaza, serangan Israel terus berlangsung sepanjang malam. Tiga warga Palestina syahid setelah serangan udara menghantam sebuah apartemen di Menara al-Sousi, sementara seorang mantan tahanan Palestina yang baru dibebaskan, Mohammad Abdul Ahmad Abu Ras, syahid setelah pasukan Israel menargetkan sekelompok warga sipil di Jalan Omar al-Mukhtar—hanya satu minggu setelah ia keluar dari penjara Israel. Ahmad Wael al-Khudari juga meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan Israel sebelumnya. 

photo
Warga Palestina berlindung setelah serangan udara Israel di Jalur Gaza, 28 Juli 2026. Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa setidaknya empat orang syahid dalam serangan Israel di berbagai wilayah tersebut. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Serangan lanjutan menyasar warga sipil di dekat persimpangan Al-Ghazali, menewaskan Hassan Ibrahim Qahman dan Alaa Imad al-Taramisi, sementara serangan lain terhadap sebuah rumah di kawasan Tal al-Hawa menewaskan Kamal Alaa Aliwa dan Zakaria Ahmad Zaidiya. Bulan Sabit Merah Palestina juga mengevakuasi jenazah Hassan Hisham al-Khudari setelah serangan Israel di Jalan al-Thalathini, wilayah selatan Kota Gaza. 

Di Gaza selatan, tiga warga Palestina—termasuk seorang anak—syahid setelah serangan Israel menghantam apartemen milik keluarga al-Hams di al-Mawasi, sebelah barat laut al-Qarara di Khan Younis. Salem Abu Labda juga meninggal akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan Israel sebelumnya di wilayah yang sama. 

Pasukan pendudukan Israel juga menyerang gudang milik Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah; serangan ini menghancurkan dua dari empat bangunan penyimpanan obat di fasilitas tersebut dan merusak parah dua bangunan sisanya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan itu juga menyebabkan kerusakan parah pada klinik rawat jalan rumah sakit tersebut.

Kementerian tersebut mengecam serangan itu sebagai "kejahatan keji" dan memperingatkan bahwa sistem layanan kesehatan Gaza sedang berada di ambang kehancuran total, dengan tingkat kekurangan mencapai 51 persen untuk obat-obatan esensial dan 59 persen untuk perlengkapan medis. 

Dewan Nasional Palestina menyebut penghancuran gudang obat-obatan tersebut sebagai "kejahatan perang baru."

Serangan terbaru ini terjadi meskipun sebelumnya Presiden AS Donald Trump dan Dewan Perdamaian telah mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk melaksanakan tahap berikutnya dari gencatan senjata di Gaza. Namun, pasukan Israel tetap melanjutkan serangan udara, serangan artileri, penghancuran rumah, dan pembatasan akses kemanusiaan di seluruh wilayah Jalur Gaza. 

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak 11 Oktober telah menewaskan 1.222 warga Palestina dan melukai 4.053 orang lainnya. Kementerian tersebut juga memperingatkan bahwa Israel terus menghambat masuknya makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan, sehingga memperparah krisis kemanusiaan di wilayah kantong yang sedang dikepung tersebut.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat